blank
Kios-kios bahan makanan kering di Pasar Rakyat Bangsri. Foto: Eky Putri

Oleh : Eky Putri Febriyani

Membawa sejuta kenangan dari kios di pasar lama dengan penuh optimisme akan rezeki yang melimpah, ratusan pedagang di Pasar Bangsri mengarak langkah prosesi “boyongan” atau perpindahan pedagang menuju Komplek Pasar Baru Bangsri, pada Rabu (29/04).

Sejak siang hari, para pedagang yang kompak mengenakan busana bernuansa putih ini berkumpul di Komplek Pasar Lama, di Area Terminal Bangsri untuk melakukan iring-iringan bersama menuju Komplek Pasar Baru yang terletak di Sebelah Timur SMP Negeri 1 Bangsri. Langkah ini menjadi simbol kerukunan sekaligus kepatuhan para pedagang tradisional yang rela beradaptasi dengan tempat baru demi menata masa depan ekonomi yang lebih tertata.

Perpindahan ini menghadirkan suasana emosional yang campur aduk. Di satu sisi, banyak pedagang yang merasa berat hati meninggalkan lokasi lama yang sudah menjadi ruang hidup mereka selama bertahun-tahun. Di sisi lain, ada asa yang membubung tinggi agar pasar baru ini mampu memulihkan omzet mereka yang sempat turun akibat gempuran belanja daring (online shop).

blank

Hj. Fathurrohmah bersama suami, salah satu pedagang pasar Bangsri saat diwawancarai. Foto: Eky Putri

Prosesi perpindahan yang diramaikan dengan iringan Reog, Barongsai, dan Drum Band, turut dihadiri oleh jajaran pimpinan daerah dan diisi dengan doa bersama. Namun, bagi para pedagang, inti dari perpindahan ke pasar baru ini adalah solidaritas antarsesama kaum pedagang untuk saling menguatkan di tempat yang baru, sembari menitipkan harapan agar pengelola segera menyempurnakan beberapa fasilitas fisik kios yang masih memerlukan perbaikan.

Bagi para pedagang, perpindahan ini bukan sekadar urusan pindah tempat, melainkan sebuah pertaruhan nasib. Hj. Fathurrohmah, atau yang akrab disapa Bu Hur, salah satu pedagang kain yang sudah berjualan sejak tahun 2001, mengungkapkan perasaan berat hati saat harus meninggalkan pasar lama.

blank
Antusias pedagang yang ikut prosesi perpindahan. Foto: Eky Putri

“Awalnya agak sedih dan berat karena sudah jatuh cinta dengan pasar lama, lokasinya juga lebih dekat dengan rumah,” ujar Bu Hur saat ditemui usai acara.

Namun, demi kekompakan sesama warga pasar dan ketaatan kepada peraturan pemerintah, ia dan pedagang lainnya memilih untuk patuh. Mereka menggantungkan harapan agar di tempat yang baru, usaha mereka semakin laris, berkah, dan bisa membawa mereka melakukan ibadah ke tanah suci.

Bu Hur menyoroti ukuran kios yang kini terasa lebih sempit, yakni sekitar 2,5 meter, dibandingkan ekspektasi semula. Selain itu, terdapat kekhawatiran kolektif mengenai fasilitas fisik pasar.

“Banyak teman-teman yang mengeluhkan kondisi bangunan, mulai dari atap yang bocor, rolling door yang rusak, hingga masalah kunci kios,” tambah Bu Hur menceritakan keluhan rekan-rekan sesama pedagang.

Selain masalah infrastruktur, tantangan terbesar yang dirasakan pedagang tradisional saat ini adalah gempuran belanja online yang dimulai sejak masa pandemi. Oleh karena itu, para pedagang sangat berharap pemerintah tidak hanya memindahkan tempatnya saja, tetapi juga aktif meramaikan pasar.

Harapan besar pedagang adalah agar pemerintah daerah sering mengadakan event atau acara di sekitar pasar baru. Dengan adanya keramaian yang diciptakan pemerintah, diharapkan minat masyarakat untuk berbelanja langsung di pasar tradisional kembali meningkat, sehingga Pasar Baru Bangsri benar-benar menjadi pusat ekonomi yang maju bagi warga Jepara.

Penulis adalah Mahasiswa KPI Unisnu Jepara yang  mengikuti Program Magang di Suarabaru.id