blank

Oleh: Anis Fariqoh, S.Pd

Peringatan Hari Kartini 21 April 2026 di Jepara mengundang aura tersendiri karena sebagai kota kelahiran Raden Ajeng Kartini. Jepara bukan sekadar lokasi geografis, tetapi ruang historis yang melahirkan gagasan besar tentang emansipasi perempuan yang hingga kini tetap relevan. Setiap tahunnya, momentum ini menjadi pengingat bahwa perjuangan Kartini belum usai, melainkan terus berlanjut dalam berbagai bentuk pengabdian dan gerakan sosial.

Meneladani R.A. Kartini bukan berarti sekadar mengenang sosoknya dalam seremoni tahunan, tetapi menjadikannya sebagai jalan berpikir dan bertindak bagi perempuan hari ini. Keteladanan Kartini terletak pada keberaniannya membaca realitas, menggugat ketidakadilan, serta menghadirkan gagasan perubahan yang berakar pada nilai kemanusiaan. Di sinilah relevansi itu menemukan maknanya bahwa perjuangan Kartini adalah jalan yang masih harus dilanjutkan.

Momentum ini sekaligus mengajak kita untuk tidak hanya mengenang sosok Kartini sebagai figur sejarah, tetapi juga memahami secara lebih mendalam makna perjuangannya. Di tengah dinamika zaman yang terus berubah, nilai-nilai yang diperjuangkan Kartini perlu dibaca ulang dan dihadirkan kembali dalam konteks kekinian, agar tetap menjadi inspirasi dan arah gerak bagi generasi perempuan masa kini.

Makna perjuangan Kartini tidak berhenti pada simbol emansipasi semata, tetapi mencerminkan upaya panjang untuk menghadirkan keadilan, “kesetaraan”, dan kemanusiaan yang utuh. Perjuangan itu adalah tentang membuka akses, menghapus sekat diskriminasi, serta membangun kesadaran bahwa perempuan memiliki peran strategis dalam membentuk peradaban. Dengan demikian, perjuangan Kartini adalah perjuangan nilai yang menuntut keberanian berpikir, bertindak, dan berkontribusi secara nyata.

Sosok Kartini mengingatkan kita akan perjuangan dari kaum perempuan pemberani. Ia tidak hanya hadir sebagai simbol, tetapi sebagai pelopor perubahan yang berani menyalakan api perlawanan melalui gagasan-gagasannya tentang keadilan pendidikan dan “kesetaraan”. Dalam keterbatasan ruang dan budaya pada masanya, Kartini mampu melampaui sekat-sekat yang menghalangi perempuan untuk berkembang. Perjuangan Kartini adalah tentang memanusiakan manusia, sebuah semangat yang menolak tunduk pada ketidakadilan dan ketimpangan sosial.

Lebih dari itu, perjuangan Kartini menjadi fondasi intelektual bagi gerakan perempuan Indonesia, termasuk Fatayat Nahdlatul Ulama. Ada benang merah yang kuat antara cita-cita Kartini dengan arah perjuangan Fatayat NU saat ini, terutama dalam bidang pendidikan perempuan, emansipasi, kemandirian ekonomi, serta advokasi hak perempuan dan anak. Apa yang diperjuangkan Kartini di masa lalu kini dilanjutkan dengan pendekatan yang lebih kontekstual, menyentuh kebutuhan perempuan masa kini tanpa meninggalkan nilai-nilai keislaman dan keindonesiaan.

Salah satu aspek perjuangan Kartini yang sangat menginspirasi adalah pandangannya tentang pentingnya pendidikan bagi kaum perempuan. Kartini meyakini bahwa pendidikan adalah jalan utama untuk membebaskan manusia, khususnya perempuan, dari ketertinggalan. Pendidikan bukan sekadar transfer ilmu, tetapi proses pembentukan kesadaran, keberanian, dan kemandirian. Perempuan harus mampu menjadi subyek pembangunan yang aktif, cerdas, dan berdaya, namun tetap rendah hati dalam pengabdiannya kepada masyarakat.

Di tengah tantangan zaman yang semakin kompleks, semangat Kartini harus terus dihidupkan. Fatayat NU sebagai bagian dari gerakan perempuan memiliki tanggung jawab untuk menerjemahkan nilai-nilai perjuangan tersebut dalam aksi nyata—baik melalui penguatan literasi perempuan, pemberdayaan ekonomi berbasis komunitas, maupun advokasi terhadap isu-isu perempuan dan anak.

Merayakan Hari Kartini bukan sekadar seremoni tahunan. Ia adalah refleksi mendalam untuk menghargai perjuangan, mengakui bahwa setiap perempuan memiliki hak untuk bebas dari diskriminasi, serta berdaulat atas pilihan hidupnya. Dari Jepara, semangat itu kembali digaungkan—bahwa perempuan Indonesia harus terus maju, berdaya, dan berkontribusi nyata bagi peradaban.

Penulis adalah Ketua Fatayat NU Cabang Jepara