Oleh : H. Hisyam Zamroni
Pendahuluan: Kartini yang “Diciptakan”
Selama lebih dari satu abad, Raden Ajeng Kartini diposisikan sebagai ikon emansipasi perempuan yang harmonis, lembut, dan selaras dengan proyek kolonial “kemajuan”. Narasi ini bersumber terutama dari buku Door Duisternis tot Licht yang diedit oleh Jacques Henrij Abendanon.
Namun, menurut Joost Coté, Kartini yang kita kenal hari ini adalah produk konstruksi editorial dan politik kolonial, bukan representasi utuh dari suara aslinya.
Dekonstruksi Coté tidak sekadar revisi sejarah, tetapi pembongkaran epistemologis terhadap bagaimana pengetahuan tentang Kartini diproduksi, disaring, dan dipolitisasi.
Kartini dalam Bingkai Kolonial: Produksi Subjek “Ideal”
Coté menunjukkan bahwa Abendanon tidak hanya mengumpulkan surat Kartini, tetapi dia juga memilih bagian yang “aman”, menghapus atau melemahkan kritik tajam dan menyusun narasi linear tentang “kemajuan melalui Belanda”
Maka dapat dilihat hasilnya adalah Kartini yang menjadi tampak pro-Barat, moderat secara politik dan kompatibel dengan kebijakan Politik Etis. Dalam kerangka ini, Kartini menjadi berfungsi sebagai alat legitimasi moral kolonialisme, namun bukan sebagai pengkritiknya
Dari kenyataan ini, Coté menyebutnya sebagai proses “domestikasi intelektual”—suara radikal yang dijinakkan agar dapat diterima publik Belanda.
Kartini yang Hilang: Suara yang Dihapus
Melalui penelitian arsip, Coté menemukan bahwa:
- Tidak semua surat Kartini dipublikasikan
- Beberapa bagian dipotong atau disunting
- Nada kritiknya sering dilemahkan
Justru Kartini yang asli, menurut Coté, jauh lebih gelisah secara intelektual, kritis terhadap agama formal, skeptis terhadap feodalisme Jawa, dan ambivalen terhadap kolonialisme
Salah satu pernyataan yang sering dianggap “terlalu berani” dari Kartini adalah :
“Bagaimana aku dapat mencintai agamaku jika aku tidak mengerti?”
Dalam versi kolonial, kutipan seperti ini tidak diberi penekanan atau konteks kritis, dan dianggap tulisan yang datar biasa saja, sehingga kehilangan daya subversifnya.
Kartini sebagai Agen, Bukan Objek
Dalam Historiografi lama menempatkan Kartini hanya sebagai korban adat, produk pendidikan Belanda, simbol keberhasilan kolonial
Coté dengan kritis membalik perspektif ini. Menurutnya, Kartini adalah:
- Subjek Aktif. Kartini secara sadar menggunakan bahasa Belanda untuk memasuki ruang intelektual Eropa dan menyampaikan kritik sosial
- Strategis. Kartini menulis dengan gaya yang bisa diterima pembaca Belanda, tetapi tetap menyisipkan kritik yang tajam.
- Ambivalen. Kartini tidak sepenuhnya anti-Barat atau pro-Barat, melainkan berada dalam posisi negosiasi kompleks.
Dalam hal ini, Kartini lebih tepat dilihat sebagai seorang aktor intelektual yang beroperasi dalam struktur kolonial, bukan sekadar korban struktur tersebut.
Dekonstruksi Narasi Nasional Indonesia
Coté tidak hanya mengkritik sumber Belanda, tetapi juga historiografi Indonesia yang narasi nasionalnya lebih cenderung; menyederhanakan Kartini menjadi simbol emansipasi, mengabaikan kompleksitas pemikirannya dan menghilangkan dimensi global.
Juga, Kartini hanya dijadikan ikon pendidikan perempuan, figur moral dan imbol kebangkitan nasional. Namun, dalam proses ini, Kartini kehilangan identitasnya sebagai penulis kritis dan pemikir radikal
Kartini dan Jurnalisme Global
Salah satu kontribusi penting Coté adalah melihat Kartini sebagai bagian dari jaringan komunikasi global akhir abad ke-19. Terbukti bahwa surat-surat Kartini telah beredar luas di Belanda yang dibaca oleh feminis Eropa yang mampu mempengaruhi opini publik.
Dalam konteks ini, Maka Kartini dapat dipahami sebagai proto-jurnalis global, karena Kartini mampu menulis isu sosial, menyasar audiens internasional dan membentuk diskursus publik. Hal ini dapat memperluas pemahaman kita bahwa Kartini adalah seorang tokoh lokal yang telah menjadi aktor global.
Kontroversi: Apakah Kartini “Alat Kolonial”?
Dekonstruksi Coté membuka pertanyaan sensitif:
Apakah Kartini digunakan oleh kolonialisme?
Jawabannya sangat kompleks, boleh jadi Ya, dalam arti bahwa tulisannya diedit untuk mendukung Politik Etis sedangkan citranya digunakan sebagai simbol “kemajuan kolonial”.
Boleh jadi Tidak, dalam arti bahwa Kartini memiliki agensi, dia menulis dengan kesadaran kritis dan dia tidak sepenuhnya dapat dikontrol. Dengan kata lain: Kartini adalah medan pertarungan makna—bukan sekadar alat, tetapi juga bukan sepenuhnya bebas.
Kartini dalam Perspektif Postkolonial
Dekonstruksi Coté sejalan dengan pendekatan Postcolonial Studies dimana Kartini adalah sebagai subjek hibrid, teksnya sebagai ruang negosiasi, dan dentitasnya sebagai hasil tarik-menarik kekuasaan, sehingga Kartini bukan seorang “pejuang murni” dan “produk kolonial” melainkan figur liminal yang berada di antara kekuasaan dan perlawanan yang mendobrak ketertindasan kolonial dan keterkungkungan adat budaya
Kesimpulan: Membaca Ulang Kartini Secara Radikal
Dekonstruksi menurut Joost Coté menghasilkan beberapa poin kunci:
- Kartini yang kita kenal adalah hasil konstruksi editorial
- Suara aslinya lebih kritis dan kompleks
- Dia adalah agen intelektual, bukan objek pasif
- Tulisannya memiliki dimensi global
- Dia berada dalam ambiguitas antara kolonialisme dan resistensi
Dengan demikian, Kartini perlu dibaca ulang bukan sebagai simbol statis, tetapi sebagai penulis radikal dari pinggiran kolonial yang suaranya dinegosiasikan, disaring, dan diperebutkan
Referensi
- Joost Coté, Kartini: The Complete Writings 1898–1904.
- Door Duisternis tot Licht, ed. J.H. Abendanon.
- On Feminism and Nationalism: Kartini’s Letters to Stella Zeehandelaar.
- Elsbeth Locher-Scholten, Ethical Policy in Colonial Indonesia.
- Susan Blackburn, Women and the State in Modern Indonesia. Hisyam Zamroni: Wakil Ketua Tanfidziyah PCNU Jepara













