SEMARANG (SUARABARU.ID)– Delegasi dari Universitas Semarang (USM), Prof Dr Ir Rohadi MP mengatakan, paparan implementasi, evaluasi dan keberlanjutan program FIND4S Indonesia yang telah disampaikan masing-masing perwakilan dari tujuh kampus di Kota Semarang, sudah sangat baik.
Hal itu, seperti juga yang disampaikan Tim Review Eksternal (External Advisor). Mereka menilai, pelaksanaan program FIND4S Indonesia dengan anggota tujuh kampus yang memiliki program studi bidang pangan, yang sumber pendanaannya dari konsorsium Erasmus Plus, dianggap bagus.
Namun demikian, tim memberikan beberapa rekomendasi sebagai bahan pertimbangan, untuk kelanjutan program. Antara lain, masing-masing universitas harus lebih banyak staf bergelar Doktor dan memiliki spesialisasi.
BACA JUGA: Himmatisi FTIK USM Kenalkan ‘Machine Learning’ di SMK LPI Semarang
”Selain itu, fokus pada kekuatan sendiri, dan jangan menduplikasi serta perbaikan mentalitas. Hal ini mengingat, ada keragaman tingkat kualitas di antara kampus,” kata Prof Rohadi, dalam keterangan tertulisnya, Jumat (17/4/2026).
Seperti pesan dari Prof Jan FM Van Impe, selaku Koordinator Proyek dari Konsorsium Erasmus Plus, untuk tidak meninggalkan siapapun. Semua anggota FIND4S Indonesia harus saling membantu, mengisi dan menyelaraskan program.
Sementara itu, Prof Torstein Skara dari Nofima Norwegia, sebuah lembaga penelitian pangan untuk industri akuakultur, industri perikanan, dan industri pangan menyatakan, laporan para peserta sudah bagus, dan tidak perlu diragukan lagi.
BACA JUGA: Orma Fakultas Teknologi Pertanian USM Gelar Latihan Dasar Kepemimpinan
Terkait rencana pendirian Program Sudi Magister Pangan Teknologi Pangan pada dua kampus (Undip dan USM), Prof Tiny van Boekel dari WUR-Wageningen University & Research (WUR), Belanda menyampaikan, perlu melibatkan industri makanan, pemerintah, LSM, dan pelaku industri.
Disamping itu, diperlukan ilmu pengetahuan yang komprehensif, tidak hanya teknologi saja, tetapi juga ilmu dan perilaku konsumen pada struktur kurikulum.
”Dalam pengamatannya, belum ada universitas anggota FIND4S Indonensia yang berkolaborasi dengan industri yang lebih besar, hanya UKM,” ungkapnya.
BACA JUGA: Rektor USM Terima Penghargaan Top Creative Leader Award 2026
Prof Tiny menambahkan, universitas juga harus memiliki pusat pengembangan karier atau sejenisnya. Dosen dan mahasiswa, perlu terlibat dalam program pengembangan karier.
”Kami memiliki program lokakarya daring dan kuliah tamu, kunjungan studi, dan pembelajaran standar,” imbuhnya, sambil menekankan dalam pengamatannya, bahasa Inggris masih menjadi kendala.
Sedangkan menurut pengamatan Moez Sanaa, Founder & CEO, International Food Risk Analysis Consortium (IFoRAC), Prancis, program studi magister memiliki ruang kolaborasi untuk membuat sistim pangan dengan universitas dan lembaga lain.
BACA JUGA: Grand Final Ideal, Jakarta LavAni Lawan Bhayangkara Presisi di Proliga 2026
Hal ini terkait dengan program SDGs dari PBB, yang tentu diadopsi oleh masing-masing negara. ”Sistim Pangan tidak cukup sektor tradisional untuk didanai. Yang diajarkan pada program magister adalah, cara mereka berpikir,” tuturnya.
Hal senada dikatakan atase Kedutaan Besar RI Bidang Pertanian di Belgia dan Uni Eropa, Winarti Halim. Menurutnya, pemerintah saat ini menyediakan 35 persen anggaran, untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG), sehingga perlu dilakukan training, pendidikan kepada mereka yang terlibat oleh universitas.
Riyan













