JEPARA (SUARABARU.ID) – Nama Raden Ajeng Kartini kembali bergema, bukan dari buku sejarah atau pidato resmi, melainkan dari suara nyanyian ratusan pelajar yang memenuhi Alun-alun 1 Jepara, Sabtu sore (18/04/2026). Acara menarik dan langka ini digelar berkat kolaborasi antara Yayasan Kartini Indonesia, Andy LPK, Dewan Kerajinan Daerah SMKN 2 Jepara, SMAN 1 Jepara, SMAN 1 Tahunan, SMPN 1 Jepara. Keempat sekolah yang dikenal favorit ini ini semuanya dipimpin oleh perempuan yaitu Indria Mustika, Puji Rahayu, Ida Fitriningsih dan Lisna Handayani.
Di ruang trotoar di panggung Street Music Jepara, semangat Kartini tidak hanya dikenang, namun ia juga dihidupkan kembali, dirayakan, dan diterjemahkan ulang oleh generasi muda Kabupaten Jepara dalam Gelar Karya Siswa Siswi Jepara “Kartini’s Inspirational Parade.”
“Even ini untuk melihat Kartini dari sudut pandang yang lain, bukan tokoh emansipasi, tetapi melihatnya sebagai seorang kreator kriya yang telah mengembangkan seni ukir, kerajinan logam, batik, tenun dan anyaman,” ujar Ketua Umum Yayasan Kartini Indonesia Hadi Priyanto yang menjadi salah satu inisiator even ini. Spirit ini harus ditanamkan di tengah=tengah kecenderungan bidang kriya mulai ditinggalkan oleh anak-anak muda, tambahnya

Acara dihadiri dan dibuka langsung oleh Bupati Jepara Witiarso Utomo. Dalam suasana yang hangat dan penuh antusias, pembukaan itu segera disambut dengan sebuah momen yang tak biasa, flash mob kolosal. Sebanyak 477 siswa-siswi SMP/SMA/SMK Jepara berdiri bersama, berbarengan menyanyikan lagu “Ibu Kita Kartini”, sebuah lagu yang tak asing bagi kita semua.
Dipandu oleh paduan suara dari SMAN 1 Jepara, suara siswa siswi maupun para tamu undangan dan masyarakat yang menonton mengalun serempak. Menciptakan atmosfer yang menggugah. Lagu itu seakan menjembatani waktu, menghadirkan kembali semangat emansipasi generasi Z yang kini memegang estafet perubahan dan masa depan.

Suasana yang semula khidmat perlahan berubah menjadi riuh penuh keceriaan ketika lantunan lagu “Selamat Ulang Tahun” dari grup band “Jamrud” dinyanyikan bersama oleh seluruh yang hadir. Lagu itu dipersembahkan sebagai kejutan ulang tahun ke-44 bagi Bupati Jepara Mas Wiwit, sapaan akrab Bupati. Tepuk tangan dan tawa pecah, menambah kehangatan suara di sdut alun-alun.
Di akhir lagu, ada kado unik yang diberikan oleh Muh Rukin, S.Pd dari Jurusan Keramik SMKN 2 Jepara kepada Bupati Jepara. Sebab kado ini berupa keramik basah yang baru saja dikerjakan siswa saat demo. Suasana pun semakin hangat
Namun, parade ini bukan sekadar rangkaian seremoni. Ia adalah sebuah panggung ekspresi. Acara tersebut menghadirkan Pidato Bahasa Jawa oleh MTS Sadamiah Guyangan, Pembacaaan Surat Kartini oleh Siswi SMA N 1 Jepara, Tari Batik oleh SMKN 2 Jepara, Pagelaran Gamelan dari SMPN 1 Jepara dan SMAN 1 Tahunan serta serangkaian Peragaan Busana oleh lebih dari 200 Siswi SMKN 2 Jepara .

Fashion show kebaya kasual Kartini yang diperagakan oleh para siswi. Dengan langkah percaya diri, mereka menampilkan kebaya dalam balutan gaya kekinian yang memadukan tradisi dengan sentuhan modern.
Alunan Gendhing Kebo Giro mengiringi langkah mereka, dimainkan langsung oleh kelompok karawitan SMPN 1 Jepara. Harmoni gamelan yang khas memberi nuansa sakral sekaligus elegan, seolah menegaskan bahwa budaya lokal tetap menjadi ruh utama di tengah arus modernitas. Tata rias siswa dipersembahkan gratis oleh 50 perias MUA yang dikomandoi Andy Firmansyah. ” Ini bentuk ucapan tgerima kasih kami kepada RA Kartini,” ujar Andy

Ia bahkan menyelipkan pantun yang mengundang senyum hadirin, sebagai bentuk penghormatan sekaligus keakraban budaya. Namun di balik suasana itu, tersimpan pesan mendalam, “bahwa Kartini adalah kekuatan kultural Jepara yang tidak boleh padam. Kita hadir di sini untuk menghidupkan kembali gagasan Kartini dalam bentuk yang relevan bagi generasi muda,” pungkasnya.
Bagi Indria, warisan Kartini bukan hanya soal emansipasi perempuan, tetapi juga tentang kreativitas, inovasi dan keberanian—tentang bagaimana seni ukir, batik, tenun, hingga kriya lainnya menjadi identitas yang harus terus dirawat dan dikembangkan.

Selaras dengan apa yang disampaikan oleh Bupati Jepara Witiarso Utomo. “Kita adalah penerus perjuangan Kartini. Kartini tidak hanya dikenang, tetapi hidup di hati dan menjadi contoh terbaik bagi kita semua,” ujarnya.
Pesan itu menemukan wujud konkret dalam sesi berikutnya yaitu demo mengukir. Di tengah kerumunan masyarakat, Bupati Jepara bersama Wakil Ketua DPRD Jepara Arisal Wahyu Hidayat, anggota DPRD Jawa Tengah Andang Wahyu Triyanto bersama empat Kepala Sekolah perempuan dengan dipandu Paguyuban Pengukir Perempuan R.A. Kartini turun langsung memegang alat ukir. Gerakan tangan yang perlahan namun pasti menjadi simbol bahwa pemimpin pun ikut terlibat dalam menjaga tradisi ukir Jepara

Rangkaian acara kemudian ditutup dengan parade busana pesta yang ditampilkan oleh siswi SMKN 2 Jepara jurusan tata busana. Gaun-gaun elegan dengan detail yang rumit melenggang di hadapan publik, menunjukkan kualitas keterampilan yang dimiliki generasi muda Jepara.
Di setiap helai kain, di setiap langkah yang diayunkan, tersirat satu hal bahwa Jepara tidak hanya mewarisi tradisi, tetapi juga mampu mengembangkannya menjadi kekuatan masa depan. Fashion show ini juga merupakan tugas akhir dari siswi SMKN 2 Jepara yang mana selain Jurusan Tata busana, hadir juga melakukan demo karya Jurusan Kriya Kayu, Jurusan Batik dan Jurusan Furniture, Animasi, logam dan keramik

Sore itu, di trotoar yang dipenuhi manusia, suara, dan karya, pesan itu terasa nyata. Kartini tidak lagi berdiri sebagai figur masa lalu. Ia hadir dalam keberanian pelajar yang bernyanyi, dalam kreativitas yang dipamerkan, dan dalam semangat kolaborasi yang terjalin.
Jepara diusia 477 Tahun dan secara simbolik melalui 477 pelajarnya, telah membuktikan bahwa api Kartini tidak pernah padam. Ia hanya berubah bentuk untuk menjadi lebih hidup, lebih muda, dan lebih relevan dengan zamannya.













