blank
Nasi goreng kambing, menjadi salah satu sajian menu di warung sate, disamping sate bakar, sate klatak, tongseng, tengkleng dan gulai.(SB/Bambang Pur)

SURAKARTA (SUARABARU.ID) – Kalau makan di warung sate kambing, jangan hanya terpaku pada sajian menu baku yang terdiri atas sate bakar, sate klatak, tongseng (sate masak), tengkleng atau gulai. Sesekali, perlu dicoba menu nasi goreng kambing. Rasanya nikmat, nyus seperti nendhang di lidah, dan memberikan kesan spesial.

Pada sejumlah warung sate di wilayah Solo Raya (Kota Surakarta, Kabupaten Sukoharjo, Boyolali, Klaten, Sragen, Karanganyar dan Kabupaten Wonogiri), ada yang biasa memberikan pelayanan pembuatan menu nasi goreng. Ini disajikan bersama kelengkapan sate bakar sebagai lauknya. Dilengkapi irisan bawang merah, potongan tomat dan mentimun serta acar. Pemesan bisa minta rasa pedas, sedang atau rasa gurih tanpa cabe.

Proses pembuatan nasi goreng kambing, biasa agak memerlukan waktu relatif lebih lama dibandingkan dengan membuat sate bakar atau tongseng. Karena memerlukan dua kali proses. Yakni menyiapkan sate bakar sebagai pelengkap lauknya, dan baru kemudian memasak nasi gorengnya.

Harganya, biasanya sama dengan tarip sate bakar dan tongseng atau lebih mahal sedikit. Tapi, tidak semua warung sate bersedia membuatkan nasi goreng. Karena itu, bagi pecinta nasi goreng kambing, akan memilih warung sate langganannya yang biasa menyajikan menu nasi goreng kambing.

Wartawan Bambang Pur yang pernah dua kali melakukan tugas jurnalis ke Cina (Tahun 1990 ke Beijing dan Guangzhou serta Tahun 2007 ke Nanning), memperoleh ceritera bahwa nasi goreng berasal dari tradisi Tionghoa kuno (sekitar 4.000 SM). Tahun 4.000 SM, Tiongkok belum memasuki era dinasti secara formal. Sebab dinasti pertama yang tercatat dalam sejarah konvensional Tiongkok, baru muncul jauh setelahnya. Yaitu Dinasti Xia (sekitar 2070-1600 SM).

Mitos atau legenda pada masa sebelum 2.000 SM, sejarah Tiongkok lebih banyak berkisar pada legenda Kaisar Kuning (Huangdi) atau masa “Tiga Penguasa dan Lima Kaisar”, bukan dinasti formal seperti Shang atau Zhou.

Neolitikum

Sekitar Tahun 4.000 SM, menjadi periode yang masuk dalam Zaman Neolitikum. Ini ditandai dengan munculnya kebudayaan-kebudayaan pertanian awal.ebudayaan Neolitikum, meliputi Kebudayaan Yangshao dan Kebudayaan Majiabang. Kebudayaan ini, berpusat di sekitar lembah Sungai Kuning dan Sungai Yangtze.

Di era tersebut, komunitas petani di Tiongkok mulai menetap. Ini berlangsung jauh sebelum berdirinya sistem kerajaan yang terpusat. Sejarah nasi goreng, muncul sebagai cara mengolah nasi sisa agar tidak terbuang. Masyarakat Tiongkok, tidak suka dengan nasi dingin. Agar nasi sisa menjadi sajian makanan yang hangat, maka dibuatlah menjadi nasi goreng. Dilengkapi bumbu bawang merah dan bawang putih, cabe dan garam.

Bagaimana nasi goreng sampai ke Nusantara ? Konon itu dibawa oleh imigran Tiongkok yang bermata pencaharian sebagai pedagang lintas negara. Yang kemudian diadaptasi dengan bumbu lokal seperti tambahan kecap manis, kecap asin, ebi dan terasi serta penyedap rasa. Hidangan ini populer karena praktis, efisien dan disukai banyak kalangan, karena memiliki cita rasa khas.

Catatan historis jejak nasi goreng di Indonesia, ditemukan dalam Serat Centhini (1841 M). Serat Centhini adalah karya ensiklopedi Kebudayaan Jawa, yang mengumpulkan dan mendokumentasikan pengetahuan Jawa, agama dan adat istiadat, yang pada awalnya dinamakan Suluk Tambang Raras.

Serat Centhini, ditulis atas prakarsa Sunan Paku Buwana (PB) V (saat masih menjadi Adipati Anom Amangkunegara III) dari Keraton Kasunanan Surakarta. Penulisannya dibantu oleh tiga pujangga keraton, yaitu Raden Ngabehi (RNg) Rangga Sutrasna, RNg Sastra Dipura (Kiai Ahmad Ilham) dan RNg Yasa Dipura II.

Sejarah mencatat, menu nasi goreng kemudian dikembangkan dengan berbagai variasi, seperti nasi goreng Jawa, nasi goreng telor, nasi goreng kambing, nasi goreng cakalang, nasi goreng teri, nasi goreng mawut dan lain-lain. Nasi goreng menjadi ikon kuliner Nusantara yang mendunia, dan dapat ditemukan mulai dari warung kaki lima hingga restoran mewah.

Bahkan sejumlah hotel berbintang di hampir pelosok dunia, selalu menyediakan nasi goreng (fried rice) sebagai menu breakfast untuk sarapan pagi, di samping roti gandum, telur dan buah segar.(Bambang Pur)