blank
Kondisi PT GMM 2025 musim giling tebu petani Blora, Sabtu 20 September 2025. Foto: GMM Blora

BLORA (SUARABARU.ID) — Pabrik Gula Blora (PG Blora) yang berlokasi di Desa Tinapan Kecamatan Todanan, Kabupaten Blora Jawa Tengah merupakan salah satu industri pengolahan yang beroperasional di wilayah Kabupaten Blora. Hadirnya PG Blora ini menjadi opsi bagi petani untuk menanam komoditas tebu sejak tahun 2014.

Direktur Operasional PT GMM Blora, Krisna Murtiyanto menielaskan bahwa pada tahun 2025 PT GMM Blora menargetkan dapat menyerap tebu sebanyak 400.000 ton dengan rendemen 7 persen dan 150 hari giling. Target tersebut belum dapat tercapai karena adanya kerusakan di beberapa bagian mesin.

“Adapun hasil giling tahun 2025 PT GMM menggiling tebu 219.774 ton dengan rendemen 6.03 persen. Gula Kristal Putih yang dihasilkan pada tahun 2025 sebanyak 12.138 ton,” jelas Krisna Murtiyanto kepada awak media, Kamis 12 Maret 2026.

Penurunan hasil produksi tahun 2025 tersebut, lanjut Krisna Murtiyanto, disebabkan adanya beberapa kali kerusakan pada mesin pabrik sehingga banyak kehilangan kandungan gula dalam tebu yang sudah masuk ke pabrik.

Kendala Giling 2025

“Terdapat kerusakan pada mesin boiler coal dan boiler bagasse secara bersamaan pada bulan Mei 2025 dan Juni 2025. Kemudian dilakukan perbaikan atas kerusakan tersebut namun kerusakan kembali terjadi pada bulan September 2025, sehingga pabrik memutuskan untuk berhenti giling pada 24 September 2025, untuk menghindari kerusakan yang lebih parah,” ungkap Krisna Murtiyanto.

Lebih lanjut, Krisna Murtiyanto menyampaikan bahwa kerusakan boiler ini karena adanya kebocoran pada pipa bagasse boiler dan pipa coal boiler sehingga nilai conductivity air boiler mengalami penurunan yang sangat signifikan.

“Dengan berhentinya giling lebih awal tentu menimbulkan banyak permasalahan termasuk dilingkup petani tebu yang sisa tebunya masih belum tertebang,” ujar Direktur Operasional PT GMM Blora.

Masih kata Direktur Operasional PT GMM Blora, perusahaan tidak tinggal diam, PT GMM Blora juga melakukan upaya-upaya untuk membantu petani agar tebu dapat digiling di PG lain yang masih operasional. PT GMM Blora mendatangi beberapa PG di antaranya PG Lamongan (PT Kebun Tebu Mas) dan PG Trangkil (PT Kebon Agung) untuk berkoordinasi dalam melakukan penyerapan tebu milik petani Blora dan memperpanjang masa giling agar tebu Blora dapat terserap sepenuhnya.

“Selain itu PT GMM juga memberikan layanan gratis crane dan jembatan timbang agar truk kecil dapat langsir ke tronton,” ucap Krisna Murtiyanto.

Peran Perum BULOG

Lanjut Direktur Operasional PT GMM Blora menyampaikan tak hanya pihak Direksi PT GMM Blora, Pemerintah Kabupaten Blora, APTRI, Serikat Pekerja GMM juga turut serta dalam membantu komunikasi dengan Perum BULOG agar segera mendapatkan bantuan.

“Beberapa waktu lalu Pak Bupati beserta Bu Wakil Bupati Blora, Ketua DPRD, Pengurus APTRI, Pengurus Serikat Pekerja GMM dan Direksi PT GMM melakukan audiensi dengan Direktur Utama Perum BULOG Letjen TNI Ahmad Rizal Ramdhani, S.Sos., S.H., M.Han di kantor Perum BULOG Jakarta (21/01/2026) dan mendapatkan respon positif terkait perbaikan GMM tahun ini. Namun persetujuan bantuan tersebut masih dalam proses hingga saat ini,” imbuh Direktur Operasional PT GMM Blora.

Diharapkan PG Blora dapat Kembali beroperasi pada tahun 2026 karena dengan beroperasinya pabrik akan menumbuhkan perputaran uang yang sangat besar di Kabupaten Blora. Setidaknya lebih dari 250 petani, 600 lebih karyawan, 1000 lebih tenaga tebang angkut dan sopir truk yang akan merasakan perputaran ekonomi saat PT GMM Blora berjalan. Selain itu toko, warung makan, dan kegiatan ekonomi dilingkungan pabrik juga jalan.

“Tentunya kita harus optimis ya, kita akan terus mencari jalan terbaik. semoga bantuan segera diberikan oleh Perum BULOG sehingga pabrik bisa operasional kembali. Untuk target di tahun ini kami belum bisa menyampaikan detail karena kami harus konsen pada perbaikan terlebih dahulu,” tandas Krisna Murtiyanto.

Tantangan Berat 2026

Sementara itu, Plt. Direktur Utama PT GMM Blora, Sri Emilia Mudiyanti mengatakan bahwa dengan catatan yang kurang baik pada tahun 2025, PT GMM Blora harus menyusun kembali strategi dengan langkah awal memperbaiki kerusakan-kerusakan yang ada.

“Manajemen PT GMM telah melakukan perencanaan maintenance dengan melihat kondisi yang ada dan menyusun anggaran biaya untuk perbaikan di semua bagian tidak hanya pada boiler saja,” jelas Sri Emilia Mudiyanti.

Namun rencana perbaikan ini, lanjut Sri Emilia Mudiyanti, tidak dapat langsung dieksekusi karena kondisi keuangan perusahaan yang masih defisit. PT GMM Blora terus melakukan berbagai upaya untuk dapat melakukan perbaikan mesin dengan bersurat kepada pemilik saham yakni Perum BULOG dan PT Mandiri Pangan Sejahtera.

“Saat ini PT GMM sudah melakukan komunikasi dengan Perum BULOG dan dan PT Mandiri Pangan Sejahtera untuk meminta bantuan dalam perbaikan mesin,” ucap Sri Emilia Mudiyanti.

Dikemukakan, dengan melihat kondisi PT Gendhis Multi Manis Blora saat ini tentu menjadi hal yang cukup memprihatinkan. Namun harapan untuk bangkit dan berjaya masih tetap ada.

“Kami dari Direksi PT GMM Blora menyampaian terima kasih kepada Pemkab Blora, Ketua DPRD Blora, APTRI, Serikat Pekerja GMM dan seluruh masyarakat yang terus membantu kami. Kita harus terus bergandeng tangan untuk menghidupkan kembali Pabrik Gula kebanggaan masyarakat Blora ini,” pinta Sri Emilia Mudiyanti.

Kudnadi Saputro