blank
Abdul Kholik Foto: dok/ist

SEMARANG (SUARABARU.ID)– Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI asal Jawa Tengah, Dr H Abdul Kholik MH MSi mengatakan, masjid tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga memiliki peran dalam pendidikan, dakwah, dan pemberdayaan ekonomi umat.

Hal itu dia sampaikan saat menjadi narasumber acara dialog Kupasan Ramadan Penuh Makna (Kurma), di Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT), Semarang, Kamis (5/3/2026).

Dalam dialog bertema ‘UMKM Berbasis Masjid’, yang dipandu Fajar Tri Utami ini, Abdul Kholik menjelaskan, fungsi pemberdayaan masjid memiliki dimensi yang luas. Termasuk dalam pengembangan usaha melalui sektor Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM).

BACA JUGA: 178 Perwakilan Rohis Indonesia Ikuti Pesantren Ramadan Indonesia 2026 di MAJT Semarang

”Masjid juga memiliki berbagai instrumen. Bahkan dalam perkembangannya, masjid memiliki sumber daya yang dapat didorong. Seperti pengumpulan dana yang nilainya cukup besar,” ujarnya.

Dia juga mengajak generasi muda dan para santri, untuk berani menjadi entrepreneur dengan memanfaatkan berbagai peluang ekonomi yang ada di Indonesia.

Menurutnya, terdapat tiga sektor penting yang dapat menjadi fokus pengembangan usaha, yakni sektor pertanian, maritim, dan pariwisata.

BACA JUGA: MUI Jateng Keluarkan Fatwa Nisab Zakat Profesi

Terkait konsep masjid sebagai pusat pemberdayaan, Abdul Kholik menilai, masjid dapat menjalin kerja sama dengan berbagai instansi, untuk mengembangkan unit-unit usaha yang bernilai ekonomi.

”Seperti di MAJT ini, ada penginapan yang memiliki nilai ekonomi, kemudian unit usaha di sekitar masjid, termasuk event bazaar yang berfungsi sebagai pengembangan ekonomi,” imbuh dia.

Ditambahkannya, pengembangan usaha berbasis masjid sebaiknya dilakukan secara terstruktur, agar tahapan pelaksanaan dan hasil yang dicapai dapat lebih jelas.

BACA JUGA: 1000 Bibit yang Ditanam di Somagede Tumbuhkan Harapan Baru untuk Masa Depan

Menurutnya, sebagian besar masjid saat ini telah membentuk Unit Pengumpul Zakat (UPZ), sehingga sebagian dana yang terkumpul, dapat dialokasikan untuk program pemberdayaan, misalnya dalam bentuk bantuan modal usaha bagi masyarakat.

Selain itu, masjid juga dinilai dapat terlibat dalam hilirisasi komoditas bernilai tinggi. Salah satunya komoditas kelapa, yang memiliki potensi ekonomi cukup besar.

Abdul Kholik juga mendorong generasi muda masjid, untuk memanfaatkan ekonomi digital. Menurutnya, perkembangan teknologi membuka peluang usaha yang lebih luas melalui platform digital maupun marketplace.

Dialog Kurma ini dihadiri juga jajaran pengurus MAJT, seperti Dr KH Muhyiddin MAg dan Drs Istajib AS, peserta Pesantren Ramadan Rohis, serta mahasiswa dari Universitas Islam Negeri Walisongo dan STIE Pena.

Riyan