blank
Wali kota Semarang didampingi Kepala Dinkes Semarang meninjau pelayanan kesehatan di Puskesmas. foto : dok. dkk

Fasilitas kesehatan (faskes) juga meningkat. Setahun pemerintahan Agustina-Iswar telah membangun/merehab empat Puskesmas: Puskesmas Tlogosari Kulon, Puskesmas Krobokan, Puskesmas Pegandan, serta Puskesmas Genuk.

Kemudian membangun tiga Puskesmas Pembantu: Pustu Ratu Ratih, Pustu Beringin, dan Pustu Jabungan.

Agustina-Iswar juga concern mengatasi persoalan stunting. Program penanganan stunting yang digulirkan tepat sasaran dan berhasil menekan angka stunting.

Terbukti, pada tahun 2025 insidensi stunting mencapai 5.480 kasus, melalui program daycare rumah pelita, serta pendampingan yang dilakukan Pemkot Semarang, angka stunting bisa ditekan menjadi 3.560 kasus.

“Ini artinya, sebanyak 2.406 balita berhasil keluar dari zona kekurangan gizi/gizi buruk,” katanya.

Penanggulangan penyakit menular Tuberculosis (TB) juga menunjukkan progress yang signifikan. Dari jumlah skrining kasus TB tahun 2025 sebanyak 1.898.840 terdapat 6.144 kasus. Jumlah ini lebih kecil dibanding tahun 2024 di mana angka kasus yang ditemukan lebih banyak sebesar 7.304 kasus.

Untuk program Semarang Cerdas, transformasi dimulai dari revolusi birokrasi berbasis merit, yang kemudian menjadi pijakan kecerdasan digital. Aplikasi pelayanan publik terpadu mendukung peningkatan akses pendidikan (Rata-rata Lama Sekolah 11,11 tahun).

Selama kepemimpinan Agustina-Iswar, pemkot telah menyalurkan beasiswa kepada 2.649 siswa SD/MI, 1.129 siswa SMP/MTs, 468 siswa SMA/SMK/MA, serta 12 mahasiswa miskin berprestasi. Pemkot juga telah menyelesaikan permasalahan ijazah tertahan dengan menyerahkan 374 ijazah dari 36 sekolah.

Dukungan infrastruktur untuk mewujudkan Semarang Cerdas juga digalakkan dengan membangun 43 ruang kelas baru di 8 SDN. Memperbaiki 336 ruang kelas pada 115 SDN. Kemudian membangun 24 ruang kelas baru di 6 SMPN, serta perbaikan 9 ruang kelas di 3 SMPN.

Pada peringatan Hari Anak, Agustina-Iswar juga memberi ruang bagi anak untuk berekspresi. Di bidang pendidikan Pemkot Semarang mendapatkan banyak penghargaan, salah satunya dari Kementerian Dalam Negeri dalam kategori perbaikan akses layanan pendidikan, yang selaras dengan peningkatan Rapor Pendidikan Kota Semarang dari 83,66 menjadi 84,12.

Salah satu program unggulannya sekolah swasta gratis. Pada 2025, program ini menjangkau 129 sekolah dengan anggaran Rp 25,79 miliar, dan pada 2026 akan diperluas menjadi 135 sekolah.

Program pendidikan gratis ini sebagai salah satu upaya menekan angka putus sekolah. Berdasar data 2025, angka putus sekolah tingkat SD/MI 0% dan tingkat SMP/MTs persentasenya sangat minim, 0,01%.

Selain perluasan akses pendidikan, Pemkot Semarang juga menggerakkan program bunda literasi, pelatihan penulisan cerpen bagi siswa SD dan SMP, serta penerbitan antologi cerpen yang melibatkan lebih dari 1.800 peserta.

Berbagai upaya peningkatan literasi membuahkan hasil. Tahun 2025 menunjukkan indeks literasi Kota Semarang di angka 82, 16%, indeks numerasi 77,74%.

Di bidang pemuda, Pemkot memperkuat supporting system bagi talenta muda, mulai dari olahraga, seni, budaya, hingga fasilitasi kompetisi internasional.

Untuk perwujudan Semarang Makmur, tagline kemakmuran ini dibangun dari ekonomi kerakyatan inklusif berbasis UMKM dan pariwisata. Even seperti “Semarang 10K” yang menyedot 3.000 peserta (50% dari luar kota) menjadi katalis ekonomi kreatif.

“Resiliensi inilah yang tecermin dari capaian fantastis Pajak Hiburan (106,38%),” kata Iswar.

Sebagai realisasinya, Pemkot mendaftarkan 7.217 pekerja rentan dalam BPJS Ketenagakerjaan melalui program Pijar Semar (Perlindungan Sosial Pekerja Rentan Kota Semarang). Selain itu juga meningkatkan penerima bisyarah bidang keagamaan dari 4.261 menjadi 5.260 orang.

Ditambah pula dari program yang sudah berjalan, ada pendidik Pos PAUD yang tergabung dalam HIMPAUDI bertambah dari 100 menjadi 200 orang. Perawat jenazah meningkat dari 600 menjadi 1.000 orang, Marbot masjid/musala naik dari 531 menjadi 885 orang.

Pemerintahan keduanya juga meningkatkan besaran bisyarah bulanan, dimana Guru TPQ, Madrasah Diniyah, dan Sekolah Minggu masing-masing Rp500.000 per bulan. Pinandita Rp300.000, pendidik Pos PAUD Rp500.000, HIMPAUDI Rp300.000, modin Rp1.000.000, serta marbot Rp300.000. Pembebasan PBB 98.847 wajib pajak, pembebasan BPHTB 97.847 wajib pajak, serta pemberian insentif 6.430 wajib pajak.

Terakhir, tagline Semarang Tangguh, merupakan hasil akhir sistem terintegrasi dimana birokrasi cerdas memungkinkan pembangunan infrastruktur hijau; lingkungan sehat mendukung pariwisata; ekonomi makmur menyediakan sumber daya untuk memperkuat semua pilar, termasuk ketahanan fiskal.

“Penanganan banjir menghasilkan progress yang signifikan,” katanya lebih lanjut.

Dirinya mengatakan, selama satu tahun kepemimpinan Agustina-Iswar, telah mengentaskan wilayah genangan banjir rob seluas 230, 98 hektare. Pada 2024 wilayah genangan berada di 3,29 persen dan tahun 2025 turun menjadi 2,71 persen.

Semua hal tersebut merupakan realisasi pemeliharaan jalan kota sepanjang kurang lebih 25,8 km. Pemeliharaan 56 saluran kota dan sungai. Pemeliharaan median. Penanganan Jembatan Srondol-Sekaran, dan pemeliharaan jalur pedestrian.

Hery Priyono