”Perempuan juga bisa berdaya. Ketika perempuan bisa lebih bersinar, bisa terbang lebih tinggi lagi, why not? Asal tidak lupa dengan peran sebagai perempuan…”
TENGAH hari dari kedai kopi. Kawasan Kota Lama Semarang sedang menjamu tamu-tamunya, Ahad, 8 Februari 2025. Ada yang berwisata, maupun berolahraga. Pun, dengan Noviana Adinda Putri. Menyeruput kopi, usai berolahraga dalam gelaran Hipmi Jawara Run di kawasan heritage tersebut.
Aroma kopi menghangatkan perbincangan kami dengan Adinda. Mengurai cerita bisnis fesyen busana muslimah yang telah berjalan satu dekade terakhir. Dari rintisan bisnis inilah, dia mengemban tugas baru untuk menumbuhkan perempuan pengusaha lainnya.
Tugas itu, yakni menjadi nahkoda Womenpreneur Badan Pengurus Daerah (BPD) Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) Jawa Tengah periode 2026-2029. Organisasi ini diharapkan menjadi wadah para perempuan pengusaha untuk tumbuh, berdaya, berkembang, dan bersinar.

Cerita Merintis Bisnis
Usianya kini 27 menuju 28 tahun pada 2026. Tumbuh di Kota Lumpia Semarang. Penggemar olahraga padel. Dialah sosok perempuan muda di balik usaha fesyen dengan brand By Adinda Hijab asal Kota Semarang. Produknya berupa kerudung Perempuan, hingga busana muslimah yang cukup digemari pasar.
Cerita dimulai sekira 2016. Kala itu, Adinda masih duduk di bangku salah satu SMK Negeri di Kota Semarang. Naluri bisnis tumbuh, bermula ketika menjualkan barang pada platform dagang daring atau marketplace.
”Saya mulai usaha usia sekitar 16 tahun, karena tertarik aja sih. Jualan macam-macam nih. Akhirnya pas sudah mulai lulus sekolah, ternyata dari market itu tertarik usaha ke fesyen,” katanya.
Diakuinya, usaha dimulai dari dari suplai barang dagangan orang. 2-3 tahun berjalan, Adinda memberanikan diri untuk memproduksi barang sendiri. Sejumlah penjahit direkrut untuk mendukung usaha konveksi kecil-kecilan yang mulai dirintis. Berjalannya waktu, personel tim juga bertambah.
Dia bilang, geliat usahanya itu bertemu momen yang tepat. Membuat usaha cepat berkembang. Ya, berbekal pengalaman berdagang di marketplace sejak duduk di bangku SMK. Sendi-sendi tips berdagang, cukup banyak yang dipelajari. Lalu, bertemu dengan waktu yang tepat.
Salah satu platform dagang digital asal Singapura bergerilya masuk ke Indonesia. Sebagai platform anyar, metode ‘bakar-bakar uang’ dilakukan dengan banyak promo. Momen itulah dimanfaatkan banyak pedagang untuk mempromosikan barang jualan. Termasuk Adinda dengan By Adinda Hijab.
“Sebagai penjual, kita diuntungkan banget. Pesaingnya belum sebanyak saat ini. Jadi penjualan seketika naik drastis,” ucap anak ketiga dari empat bersaudara itu.
Titik balik usahanya, mulai moncer pada tahun ketiga-keempat sejak masuk marketplace. Setiap tahun, penjualan terus naik. Dari puluhan, ratusan, hingga ribuan produk bisa terjual dalam satu hari saja.
”Dari yang kita timnya cuman enggak ada 10 orang. Dari yang packing, admin, penjahit, saat ini kita memberdayakan kurang lebih 120 tenaga kerja,” katanya.

Buka Toko Offline hingga Rambah Ekspor
Sebagai bentuk apresiasi kepada pelanggan serta melebarkan bisnis, Adinda membuka toko offline. Toko pertamanya dibuka di Jalan Prof. Soedarto, Kecamatan Tembalang, Kota Semarang, pada Oktober 2022. Tak jauh dari kampus Universitas Diponegoro (Undip).
“Nah, itu the first time buka store ramai banget antusiasnya,” kata lulusan S1 Manajemen di salah satu kampus di Kota Semarang ini.
Dalam waktu enam bulan setelahnya, dia membuka enam cabang lain secara bersamaan. Tak hanya di Kota Semarang, di antaranya melebar ke Demak, Denpasar, DI Yogyakarta, dan Jakarta. Adapun total hingga saat ini telah membuka delapan cabang toko offline.
Sebelum membuka delapan cabang, produk By Adinda Hijab sudah mampu menembus pasar ekspor sejak 2019. Sejumlah negara di Asia Tenggara dijamah, di antaranya Vietnam, Filipina, Singapura, Thailand dan Malaysia. Hingga totalnya tujuh negara sebagai pasar produk.
Pada akhir 2025, produknya juga dipamerkan dalam Central Java Investment Forum & SMEs in Kuala Lumpur, Malaysia. Selain produknya, Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi juga membawa sejumlah karya pengusaha lainnya. Seperti produk olahan kopi, dan lain-lain,
“Di sana juga kita ada business matching. Kita branding,” ucap Adinda.

Berdayakan Perempuan, Siap Garap Program Pemerintah Pusat
Fokus berbisnis, Adinda mengaku jarang bersosialisasi dengan sesama pengusaha di luar. Karena mayoritas fokus berdagang melalui toko daring, dia lebih sering di kantor, Gudang, dan toko miliknya sendiri. Barulah pada tiga tahun terakhir ini dia mulai keluar untuk bersosialisasi, membuka jaringan yang lebih luas.
Hingga pada suatu waktu dia dilirik oleh Ketua BPD Hipmi Jawa Tengah, Teddy Agung Tirtayadi untuk bergabung dalam organisasi. Adinda juga dinilai tepat memimpin Womenpreneur Hipmi Jawa Tengah. Dia dilantik pada awal pekan Februari 2025, di Gedung Gradhika Bhakti Praja, Kota Semarang.
Sosoknya dinilai tepat, terlebih organisasi Badan Semi Otonom (Basnom) Womenpreneur Hipmi di Jawa Tengah belum ada. Tak seperti di pusat dan provinsi lain. Adinda punya tugas untuk menjadikan Womenpreneur Hipmi sebagai wadah para perempuan pengusaha untuk tumbuh.
”Saya dikasih amanah memberdayakan perempuan pengusaha di Jawa Tengah. Kebetulan figur saya dinilai tepat banget gitu. Maksudnya merintis usaha dari kecil sampai di titik ini dengan prestasi-prestasi juga,” katanya.
Terlebih, kata dia, perempuan yang bergabung di Hipmi Jawa Tengah tidak mencapai 10% dari keseluruhan anggota. Akan tetapi, setelah Womenpreneur Hipmi Jawa tengah terbentuk, dia melihat banyak perempuan pengusaha yang akhirnya muncul. Di mana sebelumnya tak terlihat, karena belum bertemu wadahnya.
”Dari yang kita memang awalnya kita rekrut, ternyata banyak yang bermunculan. Setelah kita tarik datanya, bukan cuman usaha yang UMKM (Usaha Mikro Kecil dan Menengah), akan tetapi juga banyak perempuan yang usahanya sudah menengah ke atas,” katanya.
Ke depan, Adinda ingin bekerja sama dengan kurang lebih 170 orang pengurus Womenpreneur Hipmi Jawa Tengah. Dia ingin organisasi menjadi rumah dan wadah untuk semua perempuan pengusaha di Jawa Tengah. Siapapun boleh berkolaborasi, bergandengan tangan, bersinergi, dan bergabung. Pintunya terbuka.
Dia percaya banyak latar belakang bidang usaha dari perempuan pengusaha di Jawa Tengah. Mulai dari sektor UMKM, persewaan kebaya, properti, hotel, dan lain-lain juga mampu bersaing.
Bahkan, kata Adinda, Womenpreneur Hipmi Jawa Tengah siap menjadi wadah para Perempuan pengusaha untuk berkembang. Tak hanya berbisnis di skala lokal, namun juga berani dalam berkolaborasi menggarap program pemerintah pusat.
”Nah kita ini wadahnya, jembatannya. Terutama kita ingin bersinergi dengan nasional. Jadi, program-program nasional bisa kita kerjakan di daerah. Dan bisa dikerjakan oleh para perempuan. Jadi para perempuan ini bisa berkembang, berdaya,” ucapnya.

Peran Keluarga
Semua pencapaian itu, kata Adinda, tentu ada keluarga dibaliknya. Kedua orangtua yang mendukung, dan saudara kandung yang menjadi partner mengembangkan bisnis. Dia lahir dari seorang ayah yang bekerja di bidang properti, serta ibu dari bidang usaha Food and Beverage (makanan dan minuman).
”Untuk ibu, saya melihat sosok figur seorang perempuan yang kuat. Jadi seorang perempuan yang berdaya juga,” katanya.
Dari sanalah, Adinda merenung. Dia bilang peran perempuan tidak terbatas di dapur atau di rumah. Akan tetapi perempuan juga bisa berdaya. Dengan tetap konsentrasi pada peran utamanya.
”Perempuan juga bisa berdaya. Ketika perempuan bisa lebih bersinar, bisa terbang lebih tinggi lagi, why not? Asal tidak lupa dengan peran sebagai perempuan,” kata sosok yang juga memiliki latar pendidikan di bidang Information Technology (IT) ini. (*)
Diaz A Abidin













