blank
Ilustrasi, dan tulisan anak SD yang mengakhiri hidup karena tak dibelikan buku tulis dan pulpen. Foto: Instagram NTT update/SB.ID

NGADA, NTT (SUARABARU.ID) – Warga di Kecamatan Jerebuu, Kabupaten Ngada, Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur, dikejutkan oleh peristiwa duka setelah seorang anak kelas 4 Sekolah Dasar (SD) ditemukan meninggal dunia di sekitar area perkebunan dekat tempat tinggalnya, Kamis (29/1/2026).

Menurut keterangan, pemicunya korban mengambil tindakan tidak wajar ini diduga kecewa karena tidak dibelikan buku tulis dan pulpen untuk keperluan sekolah.

Peristiwa tersebut pertama kali diketahui oleh warga setempat yang kemudian melaporkannya kepada aparat desa dan kepolisian. Saat ditemukan, korban sudah dalam kondisi tidak bernyawa. Aparat kepolisian yang datang ke lokasi langsung melakukan olah tempat kejadian perkara serta meminta keterangan dari keluarga dan saksi di sekitar lokasi.

Dari hasil pemeriksaan awal, tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan pada tubuh korban. Di lokasi kejadian, petugas menemukan sepucuk surat tulisan tangan yang diduga ditulis oleh korban dan ditujukan kepada ibunya.

Dalam secarik kertas itu tertulis:

kertos ti rara reti/ mama galo zee/ mama molo jao/ galo mata mae/ woe rika ee mama

mama jao galomata/ me woe rita nere/ galngao el yang bila diterjemahkan berarti: Surat buat Mama Reti/ Mama saya pergi dulu/ Mama relakan saya pergi (meninggal)

jangan menangis ya mama/ mama saya pergi (meninggal)/ tidak perlu mama menangis dan mencari atau merindukan saya/ selamat tinggal mama

Surat tersebut berisi pesan perpisahan yang sederhana namun menyayat hati, mencerminkan perasaan sedih dan beban emosional yang dipendam korban.

Berdasarkan keterangan keluarga, korban berasal dari keluarga dengan kondisi ekonomi terbatas dan sehari-hari tinggal bersama neneknya, sementara sang ibu bekerja untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Diduga, tekanan emosional yang dialami korban dipicu oleh persoalan sederhana yang bagi anak seusianya terasa berat, meski pihak kepolisian masih mendalami penyebab pasti kejadian tersebut.

Jenazah korban telah diserahkan kepada pihak keluarga untuk dimakamkan secara layak. Peristiwa ini meninggalkan duka mendalam bagi keluarga, pihak sekolah, serta masyarakat sekitar yang mengenal korban sebagai anak yang pendiam.

Kasus ini menjadi pengingat bagi semua pihak tentang pentingnya perhatian terhadap kondisi psikologis anak, terutama mereka yang tumbuh dalam keterbatasan dan minim pendampingan emosional. Pemerintah daerah dan pihak terkait diharapkan dapat memperkuat pendampingan sosial dan psikologis bagi anak-anak serta keluarga rentan agar peristiwa serupa tidak terulang.

Pihak sekolah tempat korban menempuh pendidikan juga menyampaikan duka mendalam atas kejadian tersebut. Guru-guru dan teman sekelas korban disebut merasa terpukul karena korban dikenal sebagai anak yang pendiam dan jarang mengeluh.

Sekolah bersama pemerintah desa berencana memberikan pendampingan psikologis bagi siswa dan keluarga yang terdampak, sekaligus mengajak orang tua dan lingkungan sekitar untuk lebih peka terhadap kondisi emosional anak, terutama mereka yang tumbuh dalam keterbatasan ekonomi dan perhatian.

Yohana Djola Djoru