
Selain berfungsi sebagai tempat ziarah, Gua Maria Kerep juga berperan dalam mendukung pengembangan wisata rohani di Kabupaten Semarang. Lokasi ini terbuka untuk masyarakat umum yang ingin menikmati ketenangan dan suasana religius, dengan tetap menjaga sikap hormat, ketertiban, dan kebersihan lingkungan.
Keberadaan Gua Maria Kerep turut memberikan dampak positif bagi masyarakat sekitar, terutama dalam menggerakkan perekonomian lokal. Kehadiran peziarah membuka peluang bagi pelaku usaha kecil, mulai dari pedagang hingga jasa pendukung pariwisata.
Dengan perpaduan nilai spiritual dan keindahan alam, Gua Maria Kerep Ambarawa tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga destinasi wisata rohani yang menawarkan kedamaian dan ketenangan batin. Tempat ini terus menjadi pilihan bagi mereka yang ingin sejenak menjauh dari kesibukan dan memperdalam pengalaman iman.
Mukjizat dan Doa yang Terkabul
Beberapa orang yang ditemui mengaku mengalami mukjizat atau dengan kata lain doa mereka terkabul setelah berdoa di Gua Maria Kerep. Misalnya saja Suratno, warga Solo, yang ditemui saat berkunjung ke GMKA.
“Saya sedang mengalami kendala ekonomi saat covid beberapa tahun lalu dan saya tidak tahu bagaimana saya bisa menghidupi keluarga saya dan menyekolahkan anak-anak saya. Dalam kebingungan itu saya berniat bersama istri saya untuk ke Gua Maria Kerep ini. Kami berdoa dan mohon bantuan sang Bunda untuk menunjukan jalan bagi kami. Puji Tuhan, belum lama setelah kami berdoa, intensi doa saya dan istri dikabulkan,” ujar Suratno.
Usaha kulinernya yang awalnya hampir bangkrut, menurut Suratno, sedikit-demi sedikit mulai ramai kembali hingga saat ini masih tetap banyak dikunjungi tamu. “Maka dari itu, setiap kali kami berdua kembali ke tempat ini untuk mengucap syukur atas rahmat Tuhan yang diberikan kepada keluarga kami,” ujar Suratno.
Dia berharap, tempat ini makin dikenal dan menjadi oase rohani bagi kaum umat katolik untuk semakin mendekatkan diri kepada Tuhan.
Menurut seorang pekerja yang bertugas merawat dan membersihkan area GMKA ini, , pengunjung akan sangat ramai saat bulan rosario dan bulan Maria (Mei dan Oktober), dan saat hari libur.
Maka pada hari-hari tersebut, biasanya parkir memang penuh, dan untuk menuju GMKA atau keluar kadang harus antre karena jalanan yang sempit. Ada warga setempat yang membantu mengatur lalu-lintas, dan biasanya pengunjung memberikan uang sekadarnya buat mereka.
Masuk Tidak Bayar
Gua Maria Kerep Ambarawa memang menjadi destinasi wisata religi, khususnya para peziarah Umat Katolik. Tetapi, kenyataannya, pengunjung tak hanya umat Katolik saja. Setidaknya itu tampak dari busana yang mereka kenakan.
“Saya Islam, dan datang ke sini memang tidak untuk beribadah. Saya datang untuk menikmati keindahan dan kesejukan udara di sini,” ujar seorang perempuan berhijab.
Selain menikmati suasana sejuk dan indahnya taman, dia mengaku, ke sini juga bisa menikmati kuliner khas seperti nasi pecel, bakso, sate ayam atau kelinci. “Karena di sini kadang ada yang jual sukun, saya juga beli buat oleh-oleh. Juga gula Jawa dan oleh-oleh lainnya,” ujar pengunjung dari Klipang, Semarang ini.

Bagi pengunjung yang datang ke Gua Maria Kerep Ambarawa, tidak ada pungutan biaya atau tiket. Pengelola memang tidak menentukan tarif masuk bahkan ongkos parkir. Hanya di jalan arah keluar Kawasan parkir tersedia kotak. Pengunjung bebas memasukkan uang berapa pun, bahkan kalau pun tidak memasukkan tidak akan pernah ada teguran dari petugas.
Berkunjung ke Gua Maria Kerep Ambarawa, selain berdoa memohon pada Tuhan, juga menikmati kesejukan udara, keindahan taman, dan kuliner khasnya. Bahkan kini juga tersedia tempat untuk meletakkan gembok cinta, sebagai lambang pengikat cinta kasih.
Clarissa Martina Yovita Fallo













