blank
Tradisi nyekar banyak dilakukan masyarakat di Bulan Ruwah (Sya'ban). Untuk mengawali ritual nyekar, biasa diawali dengan melakukan tradisi bersih kubur terlebih dahulu.(SB/Bambang Pur)

SURAKARTA (SUARABARU.ID) – Dalam kalender Jawa Tahun Dal 1959 Windu Sancaya (1447 H), Tanggal 1 Ruwah (Sya’ban) jatuh pada Hari Selasa Pahing (1/1/26). Di masyarakat Jawa, Ruwah dipahami sebagai Bulan Meruhi Arwah (Ruwah). Yakni waktu sebelum melaksanakan ziarah kubur untuk mendoakan para arwah leluhur.

Bersih kubur bukan kewajiban dalam agama, tetapi telah mentradisi run temurun dari kakek nenek moyang sebagai tradisi yang membudaya, Kegiatan ini, memiliki nilai sosial dan spiritual yang tinggi. Juga menjadi wahana tali silaturahmi dalam mempererat hubungan sesama keluarga dan kerabat, serta demi mengingat tentang kematian sebagai bagian dari ujung kehidupan.

Untuk melaksanakan tradisi Ruwahan, masyarakat di pedesaan mengawalinya dengan melakukan tradisi Bersih Kubur. Yaitu gotong royong massal, untuk membersihkan makam leluhur. Baik makam yang berisfat pamijen (khusus pemakaman keluarga atau trah), dan Tempat Pemakaman Umum (TPU). Gotong royong bersih kubur, biasa dilakukan pada TPU yang tidak memiliki Kuncen (Juru Kunci).

Di Nusantara, khususnya di Jawa, kegiatan bersih kubur ini memiliki beragam nama penyebutan. Di wilayah Yogyakarta disebut Besik, masyarakat Betawi menyebutnya Ngored. Di Kabupaten Gunungkidul Daerah Istimewa (DIY) disebut tradisi Reresik makam.

Tujuannya, agar kondisi makam menjadi bersih terawat, supaya tidak menjadi tempat yang menakutkan karena terkesan wingit atau angker. Menjadikan tempat yang nyaman, saat sanak keluarga datang untuk ziarah nyekar (mendoakan leluhur), atau ketika warga melakukan tradisi sadranan ke makam leluhurnya. Ritual nyekar, biasa ramai-ramai dilakukan di atas Tanggal 15 Bulan Ruwah, setelah kegiatan bersih kubur dilakukan. Secara religi, ritual nyekar menjadi bagian dari wujud bakti kepada leluhur.

Tradisi ini menegaskan akan nilai budaya lokal atau local wisdom. Yakni kegiatan warga yang sekaligus sebagai media dalam menjaga hubungan silaturahmi, baik dengan sesama yang masih hidup maupun penghormatan kepada yang telah meninggal.

Budayawan jawa peraih Anugerah Bintang Budaya, Kanjeng Raden Arya (KRA) Drs Pranoto Adiningrat MM, menyatakan, tradisi nyekar termuat dalam Buku Bauwarna (Ensiklopedi) Adat Tata Cara Jawa yang dituliskan pada halaman 500-5002, oleh Drs R Harmanto Bratasiswara (Yayasan Suryasumirat 2000).

Delanggung

Pranoto yang Abdi Dalem Keraton Kasunanan Surakarta, menyatakan, nyekar ditandai dengan cara mengirim bunga pamulen (epmuliaan) kepada leluhur, atau sering disebut sebagai tradisi ngirim luwur. Bunga disertakan, untuk kelengkapan saat memanjatkan doa di pusara makam leluhur. Kegiatan ini, sebenarnya dapat dilakukan setiap saat. Tapi, mayoritas masyarakat (Jawa), memlih Bulan Ruwah atau bisa juga di Bulan Ramadan serta saat datang Hari Raya Idul Fitri.

Manakala tidak dapat langsung mendatangi pusara makam leluhur, ada cara lain dengan mengontak Kuncen makam untuk membantu menyekarkan. Beaya pembelian bunga, biasa ditransfer. ”Saya biasa mendapat kontak telepon agar membantu menyekarkan dari mereka yang tidak dapat datang berziarah ke makam leluhurnya,” jelas Bani, Kuncen Makam Lomanis, Sanggrahan, Giripurwo, Wonogiri.

Ada cara lain, dengan melakukan nyekar ke delanggung. Ini dilakukan, ketika tidak dapat datang karena berada di tempat jauh (luar pulau atau luar negeri) mislanya, dan tidak punya nomor kontak Kuncen, atau makamnya tidak memiliki juru kunci. Delanggung adalah perempatan jalan besar. Pada kepercayaan sebagian orang, delanggung, diyakini dapat menjadi sarana yang mampu menghubungkan tersampainya doa untuk para arwah ke tempat di seluruh pen juru jagad raya.

Atau ada keyakinan lain, yakni dengan cara melarung bunga ke perairan samudera atau laut. Ini biasa dilakukan oleh jajaran TNI-AL, dalam setiap memperingati Hari Dharma Samudera pada Tanggal 15 Januari. Sebagai hari untuk mengenang gugurnya Komodor Yos Sudarso dalam Pertempuran Laut Aru pada Tanggal 15 Januari 1962. Yakni peristiwa yang menjadi simbol patriotisme dan perjuangan mempertahankan kedaulatan laut Indonesia, dalam upaya pembebasan Irian Barat.(Bambang Pur)