WONOSOBO (SUARA BARU.ID)-Sejumlah pemilik homestay di kawasan wisata Telaga Menjer Garung, Wonosobo, mengaku dampak unggahan dan konten di media sosial terkait tebing longsor di daerah tersebut sempat membuat beberapa homestay sepi pengunjung.
Mereka menegaskan, titik longsor berada jauh dari lokasi homestay dan tidak berdampak langsung terhadap keamanan pengunjung. Longsor yang terjadi pun bukan karena akibat keberadaan bangunan homestay.
Pengelola Homestay Orion Villa, Ahmad Hamal Wincahyo menyebut lokasi tebing yang longsor memang berada di bawah homestay yang dikelolanya. Tapi itu bukan tanah milik homestay tapi lahan milik PT PLN Indonesia Power.
“Penyebab tebing longsor juga bukan karena pengaruh beban bangunan villa. Tapi karena ada pipa air bersih yang dialirkan ke Desa Maron bocor. Bocoran air itulah yang menyebabkan tebih longsor hingga ke bibir Telaga Menjer,” tegas dia di hadapan beberapa wartawan.
Pemilik Khayangan Skyline Menjer Garung Nurcholis menambahkan hingga kini tidak ada keluhan tamu yang menyebut homestay miliknya terdampak longsor. Lokasi usaha wisatanya kini masih dalam kondisi aman.
“Saya cek dari review pengunjung, tidak ada yang menyebut soal longsor. Kalau bintang rendah itu karena pelayanan, seperti masakan lama. Tapi soal longsor tidak ada. Secara lokasi juga aman dari ancaman tebing longsor,” kata Nurcholis.
Pengusaha yang akrab dipanggil Papi Julio itu, menegaskan tempat wisata Telaga Menjer mulai ramai atau viral sejak tahun 2022 lalu. Saat itu, Pemkab Wonosobo menggulirkan 5 Wisata Dieng Baru, salah satunya adalah Telaga Menjer.
“Sejak itu bisnis wisata di kawasan Telaga Menjer tumbuh menggeliat. Banyak homestay dan spot foto untuk wisatawan bermunculan. Wisatawan yang berkunjung juga dari waktu ke waktu terus bertambah,” akunya.
Sayangnya, lanjut dia, seiring dengan itu, steakholder terkait tidak mengikuti dengan regulasi yang jelas. Padahal para pengelola pasti siap dan patuh untuk memenuhi regulasi yang diterapkan oleh Pemkab Wonosobo.
“Para pelaku wisata sebenarnya sudah ikut membantu pertumbuhan ekonomi daerah melalui sektor wisata dan ekonomi kreatif. Tumbuhnya beberapa homestay di kawasan Telaga Menjer sudah ikut menaikan harga tanah di sana,” tegasnya.
Tamu Turun

Meski demikian, dia mengakui narasi yang berkembang di media dan media sosial memunculkan persepsi seolah seluruh kawasan Telaga Menjer terdampak longsor dan berbahaya untuk dikunjungi.
“Yang kami sayangkan, seakan-akan seluruh kawasan wisata Telaga Menjer itu rawan. Padahal titik longsor jauh dari homestay. Ini jelas berpengaruh ke minat tamu. Informasi yang tidak utuh kerap ditangkap keliru oleh publik,” ujarnya.
Ahmad Hamal Wincahyo mengaku dampak viralnya tebing longsor tersebut sangat dirasakan langsung, khususnya dari sisi penurunan kunjungan homestay. Beberapa hari terakhir kemarin tamu yang datang ke homestay yang dikelolanya sempat nihil.
“Kami sangat merasakan dampaknya. Setelah informasi dan konten tebing longsor itu viral, minat tamu langsung turun. Padahal lokasi longsor tidak berada di area lahan homestay,” ungkapnya.
Hamal menegaskan, sejak awal pengelolaan homestay telah mengikuti ketentuan dan standar operasional prosedur (SOP) yang disupervisi oleh steakholder terkait. Banyak pemilik homestay yang sudah berijin resmi dan yang belum berijin pun saat ini sedang memproses ijin sesuai ketentuan yang berlaku.
“Sejak awal berdiri, kami sudah didampingi dan diawasi oleh Dinas Lingkungan Hidup (DLH), Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR), Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) dan Satpol PP serta instansi terkait lainnya. Jadi kami tidak asal membangun homestay,” tegasnya.
Menurut Hamal, pelaku usaha wisata juga berkomitmen untuk ikut menjaga alam dan kelestarian lingkungan serta mendukung upaya mitigasi bencana. Pada prinsipnya, semua pihak menginginkan sektor pariwisata tumbuh, ekonomi masyarakat berkembang dan lingkungan terjaga.
Hamal berharap pemberitaan yang ada mesti dilakukan secara proporsional agar tidak mematikan sektor pariwisata yang menjadi sumber pertumbuhan ekonomi daerah. Para pelaku wisata juga siap untuk mengikuti regulasi yang diterapkan Pemkab Wonosobo.
“Yang dibutuhkan sekarang adalah penanganan dan perbaikan lingkungan, bukan generalisasi bahwa kawasan Telaga Menjer berbahaya. Kami juga siap melakukan gerakan penghijauan dan penanaman pohon di kawasan Telaga Menjer,” tandasnya.
Muharno Zarka













