JEPARA (SUARABARU.ID) – Rencana pembukaan jalan alternatif dari Desa Tempur menuju Sumanding yang digagas Pemkab Jepara pasca terjadinya bencana tanah longsor, mendapatkan apresiasi DPRD Jepara dan warga desa Tempur. Sebab bencana yang terjadi tanggal 9 Januari 2026 membuat salah satu desa wisata di Jepara ini terisolir dan perdagangan hasil bumi nyaris lumpuh.
Wakil Ketua DPRD Jepara Drs H. Junarso yang dihubungi Jumat 23 Januari 2026 bahkan menilai rencana tersebut sebagai langkah strategis dan penting untuk masa depan masyarakat Tempur. “Sebab selama ini jalur Tempur – Damarwulan yang menjadi jalan utama sering kali longsor hingga masyarakat tidak dapat melakukan aktivitas ekonomi,” ujar Junarso.
Menurut Junarso, jika nanti rencana itu terwujud ada banyak keuntungan, bukan saja membuka jalur alternatif, tetapi juga memperluas akses jalur ekonomi khususnya kebun kopi serta akses wisata alam dan agro. “ View Jepara jika dilihat dari Watu Gambang juga sangat eksotis,” terang Junarso.

Karena itu jika nanti diperlukan, DPRD tentu akan mendukung melakukan komunikasi dengan fihak Perhutani maupun dengan Menteri Kehutanan karena jalan alternatif itu semata-mata untuk meningkatkan kesejahteraan dan menjamin keselamatan warga masyarakat,” ungkapnya.
Dukungan terhadap pembukaan jalur alternatif ini juga muncul dari tokoh masyarakat Desa Tempur, Imam Sukoco. Kepala SDN 2 Tempur ini menilai langkah yang digagas Pemkab Jepara ini memiliki dampak berantai yang sangat besar. “Akses yang terbuka akan mempercepat perkembangan wisata dan perkebunan yang menjadi andalan utama Tempur,” ujar Imam.

Menurut Imam untuk pembukaan jalur alternatif ini bisa saja aksesnya dimulai dari dukuh Duplak- lewat Bejagan- Watu Gambang- Njengut dan tembus hutan pinus Sumanding “Mengingat lewat Nganguk mungkin medan terlalu curam, kemungkinan besar dilewatkan Njlengut walaupun jalannya bertambah panjang sekitar 500 meter – 600 meter. Untuk jalan yang bisa dilewati roda 4 dari arah Tempur sudah sampai Bejagan. Dan dari arah Sumanding sudah sampai area hutan pinus yang bawah. Jadi tinggal nembus sekitar 5 – 6 km lagi,” tutur Imam yang berharap Perhutani maupun Menteri Kehutanan mendukung usaha ini.
“Jika rencana ini terwujud Pemkab Jepara bersama masyarakat bisa mengembangkan paket wisata yang terintegrasi dan tentu sangat keren kerena banyak sekali view yang eksotis,” pungkasnya
Sementara Ali Ma’ruf, pengelola Kedai Ali dan produsen kopi mengaku mulai bencana 9 Januari 2026 memang kedai kopi dan kunjungan wisata nyaris lumpuh. Namun untuk produksi kopi masih berjalan untuk memenuhi permintaan pelanggan.
“Tentu masyarakat desa Tempur sangat senang dan mendukung rencana ini. Apalagi jika kemudian bisa dikembangkan bukan hanya sebagai jalan alternatif tetapi juga menjadi akses transportasi yang mampu menggerakkan dan mempercepat pertumbuhan ekonomi serta kesejahteraan warga,” ujar Ali.
Hadepe













