Oleh: Amin Ridwan
JEPARA (SUARABARU.ID)- Salah satu ilmu titen masyarakat Jepara, “Mengko nek Buyuk teko udan mesti mandeg”. (Nanti kalau sudah ada datangnya Buyuk, hujan akan mereda, intensitas curah hujan merendah.
Buyuk adalah pohon rumbia (rembulung) yang tiba-tiba muncul di laut yang biasanya berasal dari pohon sekitar sungai dekat laut. Muncul satu rumpun beserta tanahnya, mengapung dari tengah laut menuju pantai. Dan daerah yang didatangi buyuk ini, biasanya akan mengadakan selamatan.
Bagi masyarakat pesisir, khususnya daerah Jepara, masih banyak yang memanfaatkan ilmu titen, seperti Saat musim hujan, hampir setiap hari selalu datang hujan. Baik siang maupun malam. Dan ini terjadi lebih dari sepekan, dan hal ini dikaitkan dengan datangnya Buyuk yang mengapung di tengah lautan.
Sebenarnya gerakan atau isyarat alam, binatang itu adalah Af’al Allah juga dilhamkan Allah. tetap waspada dengan cuaca sekarang ini, Alam selalu memberi tanda bagi manusia yang peka, Semoga semua selalu dalam lindungan Gusti Allah.
Ilmu titen adalah ilmu tradisional Jawa berupa kepekaan terhadap tanda-tanda atau ciri-ciri alam. Ilmu titen bukanlah ilmu yang bersifat saintifik, melainkan berupa kumpulan pengamatan yang berulang-ulang.
Ilmu kuno ini yang menjadi salah satu dasar semua ilmu baik ilmu spiritual atau duniawi adalah ilmu titen. Kata ‘titen’ dalam bahasa Jawa adalah mengamati, memperhatikan, mencermati, atau meneliti. Bahasa modernnya adalah observasi.
Ini bukan ilmu yang tidak rasional. Justru ini cikal bakal metode ilmiah. Disebut ilmiah karena didasari riset, bukan sekedar kesimpulan tanpa dasar. Jadi ada akal sehat dalam hal ini.
Banyak ilmu jawa kuno yang cukup populer, baik yang bersifat kesaktian maupun yang lainnya. Namun ilmu ini tidak mudah dimiliki karena harus memiliki kepekaan batin yang tinggi dalam membaca tanda – tanda alam. Ilmu titen sendiri sesungguhnya seperti ilmu – ilmu modern lainnya yang memiliki metologi tertentu.
Ilmu titen jika diterapkan dalam olah rasa atau olah spiritual adalah eling. Menyadari, menerima, melepas, merasakan ‘apa adanya’, tanpa penekanan pada keinginan menjadi apa. Keinginan untuk menjadi sesuatu itu sudah bukan ‘apa adanya’. Jika belum ‘apa adanya’, maka itu artinya belum rela (lilo) dan itu pasti tidak melegakan (legowo).
Ilmu titen jika diterapkan dalam ruang keduniawian adalah sebagai pengetahuan untuk mengatur dunia. Dari pengamatan akan diketahui pola-pola. Pola itu bisa diprediksi, bisa dimanipulasi demi tujuan tertentu. Mengatur dan mengelola dunia mesti butuh kepandaian seperti itu.
[Penulis adalah Pegiat Sejarah dan kebudayaan Jepara]













