blank

blankOleh: Amir Machmud NS

// tentulah tak mungkin / membuat senang semua orang/ bukankah keyakinan taktik/ dan rancangan strategi/ membutuhkan konsistensi/ dan keputusan?//
(Sajak “Dilema Xabi Alonso”, 2025)

SEPERTI apakah atmosfer ruang ganti sebuah tim sepak bola?

Demikianlah, dinamika internal sebuah klub acap tergambar dari apa yang terjadi di ruang ganti. Bahasa jurnalisme sepak bola biasa menyebutnya sebagai “kondisi di ruang ganti”.

Inilah gambarannya: apakah seorang pelatih sepenuhnya mampu mengendalikan para pemain dengan beragam ego? Apakah ada ekspresi “pemberontakan” dan sikap-sikap melawan? Apakah ada satu-dua pemain punya pengaruh tertentu yang mendominasi keadaan? Apakah ada friksi antarkelompok pemain? Atau, apakah ada suasana dingin sebagai bentuk perlawanan terhadap manajemen?

Seorang pelatih bisa menciptakan suasana kondusif yang memotivasi, menebar energi kegembiraan dan daya juang, atau menumbuhkan aura sebaliknya. Inilah yang akan dinilai, ruang ganti ada dalam suasana seperti apa: penuh gelora, saling mendukung, terkendali, kondusif, atau bernuansa konfliktif? Dan, dalam praktik, pelatihlah yang menjadi “pilot”-nya. Atau, aura seorang pelatih bisa menciptakan tingkat keseganan tertentu dengan pancaran wibawa atau karismanya.

Dan, agaknya, kondisi kurang kondusif kini sedang dihadapi oleh Real Madrid. Sepeninggal Carlo Ancelotti yang sekarang mengarsiteki tim nasional Brazil, Xabi Alonso — sang penggnti — melewati hari-hari penuh dinamika. Walaupun membantah terjadi friksi, namun ada fakta-fakta ruang ganti yang cenderung memanas.

Hasil-hasil yang didapat Los Blancos dalam serangkaian partai liga di bawah kepemimpinan Xabi Alonso belum menggambarkan performa memuaskan, seperti yang diharapkan dari kehadiran arsitek yang sukses memoles Bayer Leverkusen di Bundesliga itu.

Pelatih 44 tahun itu, antara lain berkonflik dengan Vinicus Junior, pemain yang selama ini dianggap sebagai figur penting Madrid di samping Dani Carvahal, Federico Valverde, Kylian Mbappe, Jude Bellingham, Rodrygo, Aurelien Tchouameni, Dani Ceballos, Brahim Diaz, Franco Mastantuono, Thibaut Courties, atau Arda Guler.

Vini, yang terpilih sebagai Pemain Terbaik FIFA 2024, mengalami penurunan performa dari musim-musim sebelumnya. Dia baru mencetak 5 gol dari 18 laga. Bahkan dalam 10 laga terakhir dia tidak menyumbang gol.

Pemain asal Brazil itu mempermasalahkan Alonso yang selalu menariknya keluar di tengah laga. Tercatat dia hanya tiga kali bermain penuh. Kemarahannya kepada Alonso dimulai dari laga El Clasico melawan Barcelona, Oktober lalu. Pada babak kedua dia diganti dengan Rodrygo. Dia meminta penjelasan kepada Alonso, menolak berjabat tangtan, dan meluapkan kekesalan sebelum masuk ke ruang ganti.

Ini adalah dinamika yang sedang dihadapi oleh Xabi Alonso. Relasi dengan pemain terganggu, performa tim juga belum benar-benar solid.

Belum Sepenuhnya Aman
Dalam perekembangan terkini, hingga pekan kemarin Real Madrid tampak mulai menemukan konsistensi. Secara beruntun, mereka memetik tiga kemenangan. Apakah fakta positif ini bakal mengamankan Alonso, justru ketika kinerjanya sedang dinilai oleh manajemen Madrid dan fans?

Sebelum ini, Madrid hanya memenangi dua dari delapan laga. Los Blancos kemudian memperlihatkan tren positif, mengalahkan Alaves (2-1), Talavera (3-2), dan Sevilla (2-0) di partai liga. Hasil-hasil itu meredakan tekanan besar terhadap Alonso.

Kendati begitu, suasana belum betul-betul “aman”. Para petinggi Madrid masih mengamati kondisi ruang ganti. Meskipun Alonso diyakini sudah mendapat dukungan dari para pemain, namun dia masih harus membuktikan bisa menjaga hubungan dengan pemain-pemain berpengaruh. Dia mesti lebih lunak dalam pendekatan taktis dan kebijakan rotasinya, serta lebih akomodatif terhadap Vinicius yang terang-terangan menentangnya.

Yang harus sama-sama dipahami, seorang pelatih memang punya independensi tinggi dalam menerapkan filosofi permainan lewat skema taktik yang pada saat-saat tertentu boleh jadi tidak mengakomodasi pemain tertentu. Sama seperti yang belum ini menjadi kontroversi serius di Liverpool, ketika pelatih Arne Slot mencadangkan bintangnya, Mohamed Salah karena pertimbangan taktik.

Real Madrid kini menjalani rehat seusai pergantian tahun. Madrid akan mengawali lembar 2026 dengan bertandang ke kandang Real Betis di La Liga, sebelum Atletico Madrid (9/1) di ajang Piala Super Spanyol.

Tekanan Berbeda
Bagaimana dengan spekulasi masa depan Xabi Alonso? Eks gelandang Madrid Toni Kroos menyebut tekanan di klub tersebut memang berbeda. Dia menyatakan simpati, dan meminta pelatih yang sukses bersama Bayer Leverkusen pada musim 2023-2024 itu diberi cukup waktu.

Menurut pemain asal Jerman itu, hal yang paling sulit sebagai manajer adalah melatih di Real Madrid. “Tekanannya berbeda. Di sini Anda bisa menang, dan tidak ada yang senang. Hanya sedikit klub yang seperti itu,” ujar Kroos kepada Football Espana (detik.com, 29 Desember 2025).

“Sebagai tambahan, kalau Anda imbang atau kalah, reaksinya berbeda, karena klub tidak terbiasa dengan ini, dan kritik meningkat. Anda selalu butuh hasil, tetapi saya yakin Xabi pelatih yang sangat bagus dan dia punya kualitas untuk melatih di Madrid, Anda harus memberi waktu”.

Sementara itu, eks rekan Alonso di tim nasional Spanyol, Cesc Fabregas, memaklumi masalah tersebut. Fabregas yang kini melatih Como di Liga Italia menilai, para pemain Madrid berstatus bintang punya ego besar yang sulit dikendalikan. Menjadi tugas berat bagi Alonso untuk mengendalikan ruang ganti. Menurut dia, hal itulah yang membuat Madrid belum konsisten bersama Alonso.

Semasa bermain, Alonso dikenal sebagai sosok yang cerdas. Dia digambarkan bisa membaca, memprediksi, dan mengatur permainan dengan level presisi di atas rata-rata. Dia menjadi metronom, mampu memberikan bola kepada rekannya di saat dan tempat yang tepat. Maka, Pep Guardiola tidak ragu untuk merekrutnya pada 2014-2017 saat melatih Bayern Muenchen, meskipun Alonso sudah 32 tahun. “Karena saya butuh pemain cerdas,” katanya.

Alonso dinilai memiliki talenta alamiah sebagai “pengatur tim” sejak masih bermain. Walaupun tidak menjadi kapten, dia adalah panutan dan pengendali.

Dalam dinamika yang sekarang dia hadapi di Real Madrid, satu hal yang pasti, seorang pelatih tidak mungkin sepenuhnya bersikap akomodatif terhadap pemain tertentu. Dia melangkah dengan filosofi, konsep taktik, game plan, dan keyakinan skematikanya. Yang pasti juga berbeda, Xabi Alonso tidak bisa mengimpelentasikan strateginya saat melatih Bayer Leverkusen untuk Real Madrid.

Ada elemen-elemen filosofi, kultur, karakter, dan pendekatan yang pasti membedakan. Dan, Alonso paham betul itu…

Amir Machmud NS, Wartawan Suarabaru.Id