blank
Mbah Parmo bersama SRKJ yang sedang berlatih. Floto: Dok Jungporo

JEPARA (SUARABARU.ID) – Bertempat di halaman rumah Mbah Parmo, sang maestro Kentrung Jepara, Yayasan Jaringan Budaya Untuk Perkembangan Jepara (JUNGPARA) akan menggelar acara yang diberi label “Kawitan Pentas ; Jepara Kentrung Centre”

Acara yang digelar pada hari Jumat malam 2 Januari 2026 itu menampilkan pengentrung GenZi yang merupakan hasil didikan dari Sekolah Rakyat Kentrung Jepara (SRKJ). Sekelompok ABG yang merupakan pelajar dari beberapa SD dan SMP itu juga peserta aktif dari SRKJ yang merupakan salah satu program dari yayasan JUNGPARA untuk melestarikan dan mengembangkan salah satu Warisan Budaya Tak Benda Indonesia yaitu Kentrung Jepara

blank
Wakil Ketua MPR RI Dr Lestari Moerdijat saat membersamai latihan di SRKJ. Foto: Dok Jungporo

Seperti diketahui program yang sudah berjalan lebih dari satu tahun dengan memberikan pelatihan bermain Kentrung Jepara kepada generasi muda khususnya dari kalangan pelajar SD, SLTP dan SLTA itu saat ini masih terus berjalan dan mendapat apresiasi dari berbagai kalangan termasuk dari Wakil Ketua MPR RI Ibu Lestari Moerdijat yang berkenan memberikan bantuan berupa alat-alat kentrung beberapa waktu yang lalu

Dalam penjelasannya, Ramatyan Sarjono inisiator acara sekaligus ketua Yayasan Jungpara mengatakan bahwa agenda awal tahun ini sengaja menggunakan label KAWITAN sebagai penanda bahwa agenda pementasan direncanakan akan diadakan secara rutin. “Kami punya obsesi ke depan kawasan tempat tinggal mbah Parmo ini akan menjadi semacam pusat pelestarian Kentrung Jepara atau yang kami sebut Jepara Kentrung Centre” ujarnya.

blank
Mbah Parmo dan Arif Sunarwan, cucu yang mewarisi seni Kentrung. Foto: Hadepe

Lebih jauh sosok yang lebih dikenal dengan nama Mbah John itu menjelaskan bahwa Jepara Kentrung Centre ke depan bisa menjadi salah satu destinasi wisata budaya, yang sepengetahuannya saat ini belum ada satu titik pun destinasi wisata yang berbasis seni budaya. Dalam pandangannya kelak di tempat itu akan ada jadwal reguler pentas kentrung baik oleh maestro Mbah Parmo maupun pengentrung generasi muda, dimana bisa menjadi salah satu alternatif kunjungan wisatawan yang datang ke Jepara. “Tiketing itu suatu keniscayaan” tegasnya.

Meskipun ide itu cukup menarik namun harus menghadapi kendala cukup besar, dimana saat ini rumah tinggal sang maestro justru terlihat masuk kategori Rumah Tak Layak Huni (RTLH). Mbah Parmo sendiri merasa sudah beberapa kali disurvey petugas baik dari desa, kecamatan maupun dari orang-orang legislator, namun hingga hari ini belum ada kepastian kapan akan mendapat bantuan renovasi rumah RTLH. “Semoga tahun 2026 ini bantuan renovasi itu bisa terwujud” kata sang maestro yang usianya sudah lebih dari 80 tahun sambil menengadah penuh harap.

blank
Saat SRKJ Pentas di Desa Guyangan, Bangsri. Foto: Dok Jungporo

Harapan tersebut juga dilontarkan Arif Sunarwan, pengentrung muda yang juga cucu dari Mbah Parmo. “Jika bantuan renovasi itu terealisasi, rencananya nanti saat dibangun sekaligus menata space halaman rumah ini agar ada panggung permanen dan area penonton,” jelasnya sambil menunjukkan area sekitar rumah Mbah Parmo. “Untuk yang pertama ini memang hanya bisa digelar di teras dengan kemasan ala kadarnya” jelas lebih jauh.

Ahmad Rifai, salah seorang Kepala Sekolah SD Negeri di Jepara yang ikut hadir memandang positif adanya ide Jepara Kentrung Centre ini. Menurut pendapatnya jika hal itu terealisasi akan menjadi salah satu alternatif baru dalam dunia kepariwisataan di Jepara. “Salah satu program unggulan Bupati Jepara saat ini kan Edu Wisata, dengan adanya Jepara Kentrung Centre ini tentu bisa menjadi satu paket wisata dalam program Edu Wisata khususnya untuk wilayah kecamatan Tahunan,” katanya.

blank
Suasana latihan \di SRKJ Jaepara. Foto: Dok Jungporo

Warga masyarakat yang tinggal di sekitar tempat tinggal Mbah Parmo juga menyambut baik adanya ide Jepara Kentrung Centre ini. Seperti diungkapkan  Jumadi Jawol, salah satu tetangga Mbah Parmo, “Jika tempat ini ada pusat keramaian, besar atau kecil tentu akan berdampak secara ekonomi yang pasti akan ikut dirasakan oleh warga sekitar,” katanya penuh optimisme, “oleh karena itu kami menyambut baik rencana ini, dan tentu berharap banyak adanya dukungan dari pemerintah baik pemerintah desa, kecamatan, kabupaten dan OPD-OPD terkait”.

Optimisme serupa disampaikan oleh Joharta Adi, salah seorang pengurus Yayasan Jungpara. Menurut keterangannya, tahun 2026 ini Yayasan Jungpara akan menggelar Workshop Bermain Kentrung yang akan melibatkan seluruh lembaga pendidikan khususnya SD dan SMP. “Nanti semua SD dan SMP yang dibawah naungan Dinas Dikpora akan diundang untuk mengirim satu orang guru mengikuti workshop,” jelasnya disela-sela menyaksikan permainan Ken_Kids.

blank
Ken Kids SRKJ ingin melestarikan seni Kentrung agar tak punah.Foto: Dok Jungporo

Lebih jauh dia menerangkan bahwa setelah guru tersebut mengikuti workshop, selanjutnya harus melatih muridnya, dan hasil pelatihan si guru tersebut akan di lombakan secara berjenjang dari tingkat kecamatan hingga kabupaten. “Kami berharap dinas terkait dalam hal ini Dinas Dikpora akan memberikan dukungan adanya workshop ini sekaligus mengakomodir Kentrung menjadi salah satu mata lomba lokal di FLS3N atau FTBI,” harapnya. Harapan yang sangat tidak berlebihan jika dilihat dari berbagai sudut pandang.

Seperti diketahui tagline yang diusung pasangan bupati Jepara, Mas Wiwit dan Gus Hajar adalah MULUS, dimana huruf L-nya mewakili kata Lestari. Kustam Ekajalu dalam kapasitasnya sebagai Ketua umum Dewan Kesenian Daerah menyampaikan program Bupati untuk membangun ruang kreatif dan wahana seni budaya harus dilakukan melalui titik kecil yang memiliki daya besar seperti salah satunya pembangunan dan pemanfaatan Jepara Kentrung Center, tanpa melakukan hal tersebut sama saja pemerintah daerah hanya menyusun program di atas kertas tanpa bukti nyata.

Dan segala upaya yang dilakukan yayasan Jungpara adalah dalam rangka melestarikan salah satu kekayaan lokal Jepara yang bernama Kentrung Jepara. Selain itu, dengan adanya workshop yang melibatkan seluruh sekolah SD dan SMP se Jepara yang diakhiri lomba berjenjang, artinya secara SDM sudah dipersiapkan sehingga pemkab Jepara melalui OPD terkait tinggal meneruskan dengan memberikan ruang dalam aturan dan kebijakannya.

Hadepe – Mbah John