blank
Masjid Datuk Singorojo, Desa Kerso, Jepara

Oleh : Hadi Priyanto

Persahabatan antara masyarakat Jepara dan Bali ternyata telah terjalin berabad-abad. Bahkan ada pertautan  kultural  yang sangat lekat yang dikisahkan dalam  legenda   Sungging Prabangkara, seniman besar dari Kerajaan Majapahit  pada era Prabu Brawijaya terakhir. Juga ada kisah Idha Gurnardi ulama dari yang dikenal juga sebagai Datuk Singaraja. Ia  diyakini sebagai salah ulama besar, bahkan disebut sebagai waliyullah atau wali di Jepara.

Konon dalam legenda tersebut dikisahkan  nasib Sungging Prabangkara yang dihukum naik layang – layang untuk membuat patung permaisuri. Ini bermula dari  kesalah pahaman dan kecemburuan raja setelah seniman itu mampu menggambar ratu seperti aslinya, termasuk titik hitam dipangkal paha permaisuri. Tentu raja menjadi curiga, hingga keluarlah titah itu.

Dikisahkan, layang-layang yang dinaiki Sungging Prabangkara sambil memahat permaisuri  terbang terbawa angin ke arah timur. Namun tiba-tiba angin membalik bertiup kencang ke arah barat hingga patung itu jatuh. Konon tempat patung itu jatuh kemudian dinamakan Bali dan warganya pintar membuat patung.

Sementara layang-layang Sungging Prabangkara terus terbang ke arah barat dan kemudian jatuh di  Belakang Gunung  bersama pahatnya. Masyarakat Jepara percaya legenda ini yang menjadi inspirasi ketrampilan seni ukir  warganya.

Ada juga kisah yang menggambarkan jalinan persahabatan antara warga Jepara dan Bali yang telah  terjalin sangat  lama dengan kehadiran Idha Gurnardi ke Jepara. Konon karena perselisihan dengan ayahnya tentang cara pemakaman salah satu anggota keluarganya, akhirnya Idha Gunardi memilih  meninggalkan kerajaannya di Bali. Perselisihan itu karena keyakinan agama mereka berbeda.

blank
Masjid Datuk Ampel di Desa Troso ,Jepara

Sebelumnya, setelah menerima ajaran Islam, Idha Gunardi dikisahkan telah  membuat masjid di Buleleng, Bali. Namun masjid ini kemudian terlantar setelah  ditinggalkan Idha Gunardi. Baru pada tahun 1654 M, masjid ini ditemukannya oleh warga muslim pendatang di tengah rerimbunan semak dan pepohonan.

Masjid  berukuran 15 X 15 M2 dengan 4 buah tiang dari pohon kelapa ini  di dalamnya masih ada sebuah mimbar khutbah yang diukir dengan ornamen khas Bali. Mereka lalu memberi nama,  Masjid Keramat Kuno Singaraja yang merupakan masjid tertua di Bali. Masjid tersebut berada di kampung Kajanan, Singaraja, Kabupaten Buleleng, Provinsi Bali.

Idha Gunardi   meninggalkan Bali bersama Rogas, salah satu sahabat dekatnya. Mereka ingin berguru   pada salah seorang   wali, yaitu Sunan Kalijaga yang namanya sudah sangat terkenal sampai  Bali. Bahkan kendati  belum pernah ketemu, ajaran Sunan Kalijaga mampu merubah keyakinan Idha Gunardi yang kemudian mengantarkannya berjumpa dengan ajaran Islam.

Karena perjalanan dengan menggunakan jalan laut, rombongan kemudian mendarat disebuah pantai yang banyak ditumbuhi pohon besar yang rindang yang nampak lamat-lamat atau samar-samar dilihat dari tengah lautan.  Semula mereka menganggap bahwa perjalanan telah sampai Demak. Namun ketika mereka telah naik kedaratan, ternyata pantai itu hanyalah  padukuhan kecil yang memiliki banyak pohon  asam.

Mereka kemudian memutuskan untuk tinggal beberapa saat di padukuhan tersebut. Disamping beristirahat, mereka juga membeli beberapa kebutuhan pokok yang telah mulai habis. Mereka juga mencari tahu tentang keberadaan Sunan Kalijaga dari Demak Bintoro. Dari warga setempat mereka mendapatkan kabar bahwa Sunan Kalijaga tinggal di Demak, tidak jauh dari padukuhan tersebut.

blank
Kompleks makam Datuk Singorojo di Desa Singorojo, Jepara.

Pada hari yang ditentukan, mereka berpamitan pada warga yang telah membantu dan menerima dengan sangat baik. Karena jaraknya dekat maka perahu mereka hanya menyusuri pantai dan masuk ke muara sungai menuju kasultanan Bintoro. Sunan Kalijaga menerima mereka dengan tangan terbuka. Bahkan sunan gembira karena mendapatkan murid dari pulau seberang.

Setelah dirasa cukup belajar tentang Islam, Sunan Kalijaga kemudian menugaskan Idha Gurnardi untuk melakukan syiar Islam kedaerah utara Demak. Disamping itu, konon ia  juga mendapatkan tugas untuk membimbing  kedua anak Sunan Kalijaga. Perjalanan rombongan kecil ini kemudian sampai ke sebuah padukuhan kecil bernama Kerso. Kemudian Idha Gurnardi memutuskan untuk  melakukan syiar Islam dan tinggal beberapa saat.

Kedatangan Idha Gurnardi cepat menarik perhatian warga. Karena disamping pintar, ia juga memiliki sikap welas asih dan selalu menolong orang-orang yang memerlukan bantuan. Disamping itu, warga juga tertarik pada ajaran yang disampaikan Idha Gurnardi dan kemudian  di Islamkan.

Pemukiman ini kemudian tumbuh menjadi sebuah pemukiman yang makmur. Bahkan karena kesaktiannya, banyak orang berdatangan untuk berguru kepada Idha Gurnardi yang juga sering dipanggil Gusti  Gurnardi yang maknanya adalah Guru Kautaman atau Pengajar Kebajikan.

Setelah tinggal beberapa tahun di tempat ini,  Idha Gurnardi mengajak warga untuk membangun sebuah masjid yang memiliki empat tiang utama terbuat dari kayu. Sedangkan kubahnya terbuat dari perak dengan bentuk seperti botol. Bahkan kelak,  untuk mengenang jasa Idha Gurnardi, warga di perkampungan  tersebut kemudian memberi nama masjid itu dengan nama Masjid Datuk Singorojo, karena ulama besar tersebut diyakini berasal dari Singaraja Bali.

Selain masjid, Datuk Gurnardi juga meninggalkan sebuah sumur tua yang airnya  tawar dan   dipercaya masyarakat mengandung berkah. Biasanya warga yang datang  hanya mengambilnya untuk wasilah kesembuhan dan lain-lain. Sumur berkedalaman 12 meter itu tidak digunakan untuk berwudhu.

Konon di belakang masjid itu, dahulu ada pohon aren yang besar. Namun tidak lama setelah Idha Gurnardi meninggalkan padukuhan tersebut, pohon aren itu tiba-tiba lenyap. Pohon aren itu dikisahkan pindah ke Singorojo, tempat dimana nantinya ia membangun padukuhan dan melakukan syiar Islam

Setelah pembangunan masjid selesai, Idha Gurnardi kemudian berpamitan pada warga karena akan melanjutkan perjalanan syiarnya. Tentu warga sangat bersedih ditinggalkan oleh ulama yang baik hati dan banyak mengajarkan cinta kasih kepada mereka. Bagi warga Kerso  Idha Gurnardi adalah  guru keutamaan yang mengajarkan  kebajikan. Bahkan konon, nama Gurnardi sendiri berasal kependekan dari “guru nadi” yang artinya  guru kebajikan.

Karena itu beberapa orang mencoba untuk meminta agar  Idha Gurnardi mengurungkan niatnya, atau paling tidak tinggal beberapa saat lagi di Kerso. Sebab banyak ajaran Islam yang ingin mereka dapatkan.  Namun  Idha Gurnardi dengan penuh kasih sayang menjelaskan, ia masih harus melaksanakan tugas dari Sunan Kalijaga untuk melakukan syiar Islam di sejumlah tempat. Idha Gurnardi berjanji akan datang lagi ke Desa Kerso.

Akhirnya bersama rombongan Idha Gurnardi berjalan menuju  padukuhan Troso. Mereka mengunjungi rumah Ki Senu yang letaknya tidak jauh dari tempat tinggalnya. Keduanya  telah bekenalan cukup lama. Sebab Ki Senu  sering mengunjungi Idha Gurnardi di Kerso untuk memperdalam ajaran Islam.

Kedatangan Idha Gurnardi disambut Ki Senu dan Istrinya serta warga dengan suka cita. Sebab mereka memang telah menanti kedatangan Idha Gurnardi untuk belajar tentang Islam. Bahkan untuk menyambut ulama ini, Ki Senu mengenakan  baju khusus, sebagai bentuk penghormatan.

Idha Gurnardi beberapa tahun menyebarkan Islam di desa ini. Di sela-sela mengajarkan ajaran Islam, ia juga mengajarkan ketrampilan menenun  kepada Nyi Senu dan sejumlah perempuan hingga mereka pintar menenun.     Konon Idha Gurnardi saat meninggalkan Bali, telah mahir menenun.

Setelah cukup lama berada di Troso ia kemudian  mengajak warga untuk membangun sebuah masjid. Tentu warga yang telah menerima Islam sangat gembira dan dengan penuh semangat mereka membangun masjid. Oleh Idha Gurnardi pada  kubah bagian depan diberi   kubah  kecil berwarna putih.

Konon masjid ini awalnya hanya berukuran 7 m X 7 m, dengan kubah tumpang seperti ciri bangunan Hindu yang terbuat dari tanah liat. Sedangkan dindingnya terbuat dari anyaman bambu dan  lantainya dari  tanah yang dipadatkan.

Konon empat pilar utama  terbuat dari potongan kayu jati  yang disusun rapi. Ini serupa dengan soko tatal masjid agung Demak karya Sunan Kalijaga.  Untuk mengenang jasa Idha Gurnardi nantinya  masjid ini  diberi nama oleh warga setempat,  Masjid Datuk Ampel yang terletak di padukuhan Ampel Desa Troso. Konon dipadukuhan ini dulu  Idha Gurnardi tinggal  beberapa tahun. Masjid ini kemudian menjadi tempat bagi Idha Gurnadi untuk mengajarkan ajaran Islam.

Untuk mengenang dan menghormati jasa besar Idha Gurnardi masyarakat Desa Troso, khususnya yang berada di sekitar Masjid Datuk Ampel Troso secara turun temurun merayakan haul. Waktunya  pada hari Jum’at Wage pada bulan Muharrom. Selain haul di Masjid Datuk Ampel, warga juga mendatangi makam Datuk Singorojo di Kecamatan Mayong. Biasanya pada malam hari. Disamping itu pada  saat yang sama, haul juga digelar oleh masyarakat Deso Singorojo dan sekitarnya di makam Datuk Singorojo, di Desa Singorojo,  Kecamatan Mayong.

Setelah beberapa tahun, ia  memutuskan untuk meninggalkan Desa Troso untuk melanjutkan perjalanan. Ia ingin mencari satu tempat untuk tinggal dihari tuanya nanti. Sekaligus tempat untuk anak-cucunya kelak. Disamping itu ia juga ingin mendirikan pesantren untuk tempat mengajarkan tentang ajaran  Islam.

Setelah berpamitan dengan murid-muridnya di Troso, Idha Gurnardi melanjutkan perjalanannya. Tidak ada yang dituju, kecuali bisikan gaib yang mentuntun langkahnya hingga rombongan sampai kesebuah hutan yang banyak mata air dan terdapat sungai yang airnya melimpah. Namun mata batin Idha Gurnandi dapat melihat banyak roh jahat yang ada disekitar hutan itu. Karena itu ia mengajak sababatnya Hasan Basri, Rogas dan kedua anak Sunan Kalijaga yang bernama Suwud dan Sujud untuk melantunkan bersama ayat-ayat Al Qur’an.

Setelah beberapa saat, barulah Idha Gurnardi mengajak mereka untuk mulai membabad hutan, sebab kuasa kegelapan itu telah dikalahkan. Idha Gurnandi mengajak mulai membabad hutan pada malam Jum’at Wage. Padukuhan kecil ini kemudian dikenal sebagai padukuhan Singorojo yang berasal dari nama daerah asal Idha Gurnardi, Singaraja, Bali. Padukuhan ini cepat berkembang. Sebab banyak warga desa Kerso, Semat, Sukosono dan Troso kemudian banyak berdatangan membantu. Juga dari padukuhan lain banyak yang kemudian berdatangan untuk belajar mengaji.

Sementara Datuk Singorojo terus melanjutkan syiar Islam. Ia bahkan mulai mendirikan pesantren seiring dengan semakin banyaknya murid yang ingin belajar tentang Islam. Diantara murid-murid itu banyak yang berasal dari desa Semat, Sukosono, Kerso dan Troso.

Juga dari padukuhan lain banyak yang kemudian berdatangan untuk belajar mengaji. Sementara Idha Gurnardi mulai dikenal juga sebagai Datuk Singorojo. Di antara mereka yang datang ada seorang gadis cantik yang bernama Jatisari. Karena kebaikan Idha Gurnardi, Jatisari akhirnya jatuh cinta. Namun Idha Gurnardi merasa bahwa Jatisari terlampau muda. Disamping itu, ia merasa bahwa gadis cantik itu bukan jodohnya, tetapi jodoh Rogas, yang menemani perjalanannya dari Bali. Akhirnya keduanya dinikahkan dan kemudian tinggal disuatu tempat tidak jauh dari tempat Idha Gurnardi membuka padukuhan. Padukuhan tempat Rogas dan Jatisari itu kemudian dikenal dengan nama desa Jatisari.

Sementara Datuk Singorojo terus melanjutkan syiar Islam. Ia bahkan mulai mendirikan pesantren seiring dengan semakin banyaknya murid yang ingin belajar tentang Islam. Diantara murid-murid itu banyak yang berasal dari desa Semat, Sukosono, Kerso dan Troso. Desa-desa ini jejak syiar Datuk Singorojo sangat dirasakan oleh warga. Pesantren Datuk Singorojo semakin besar dan dikenal luas. Bahkan sampai Mataram.

Karena itu ketika usai melaksanakan tugas menumpas pemberontakan di sekitar Muria, Raden Mas Ayu Semangkin yang kala itu menjadi salah satu senopati Mataram mohon ijin kepada Raja untuk tidak kembali ke keraton. Dengan didampingi dua orang tamtama perang yang sakti mandraguna yakni Ki Brojo Pangingtaan dan Ki Tanujayan, Raden Mas Ayu Semangkin mengunjungi pesantren Datuk Singorojo dan sekaligus menyampaikan rencananya untuk membuka hutan di pinggir di pintu masuk Bumi Kalinyamatan, sebagai tempat tinggal mereka.

Ia ingin membentengi Bumi Kalinyamatan dari gerombolan perusuh. Tentu kedatangan Raden Mas Ayu Semangkin disambut hangat oleh Datuk Singorojo. Bahkan beberapa waktu kemudian Raden Mas Ayu Semangkin menitipkan kedua anak kembarnya, Danang Syarif dan Danang Sirokol untuk dididik ajaran Islam. Setelah beberapa saat berada di padepokan Idha Gurnardi, rombongan prajurit Mataram ini pamitan untuk membuka hutan. Mereka berjalan kearah selatan.

Setelah sampai ke kawasan yang agak landai dan masih ditumbuhi oleh pohon besar Kanjeng Ibu Mas Semangkin bersama rombongan memutuskan untuk membabat hutan. Rombongan tersebut dibagi menjadi dua kelompok. Kelompok pertama terdiri dari Raden Mas Ayu Semangkin dan Ki Brojo Penggingtaan membabat hutan di wilayah utara. Sedangkan dibagian Selatan dipimpin oleh Ki Tanujayan bersama sebagian prajuritnya. Datuk Singorojo juga membantu mereka membuka hutan hingga Desa Mayong cepat berkembang.

Setelah meninggal, Mbah Datuk Singorojo dimakamkan di desa yang telah dibukanya. Makam itu kini berada di sudut area pemakaman umum. Makam Datuk Singorojo ini dikenal sebagai salah satu makam keramat di Jepara. Sehingga aura mistiknya sangat terasa. Di sebelah timur makam juga terdapat musholla yang selalu ramai digunakan sebagai tempat “selamatan” oleh warga sekitar.

Selain dipergunakan sebagai tempat sholat dan selamatan, musholla tersebut sering digunakan sebagai tempat istirahat bagi pengunjung yang memiliki tujuan khusus, bukan hanya ziarah. Biasanya, mereka datang dari luar desa. Di kawasan makam, juga terdapat pohon aren yang konon berasal dari masjid Datuk Singorojo yang berada di desa Kerso.

Untuk mengenang dan menghormati jasa besar Mbah Datuk Singorojo dalam syiar Islam, warga masyarakat secara turun temurun merayakan haul. Waktunya pada hari Jum’at Wage pada bulan Muharrom. Konon ini adalah saat Datuk Singorojo mulai babad alas. Selain warga sekitar, masyarakat Desa Kerso, Troso, Semat dan Sukosono juga ikut mendatangi makam Datuk Singorojo di Kecamatan Mayong.

Dalam perjalanan spiritualnya melakukan syiar Islam, jejak dakwah ulama besar dari Singaraja Bali ini masih diakui oleh masyarakat Jepara hingga saat ini Ia  diyakini sebagai salah ulama besar, bahkan disebut sebagai waliyullah atau wali di Jepara.

Penulis adalah penulis buku dan pegiat budaya Jepara