PACITAN (SUARABARU.ID) – Lewat tengah hari. Matahari mulai bergeser condong menuju ufuk barat. Sekumpulan warga memasuki areal persawahan, Mereka berupaya mengopyak-opyak (menghalau) hama padi. Ini menjadi bagian inti dari ritual Thethek Melek yang ditandai tampilnya gerak-gerak tarian ritmis, diiringi tetabuhan instrumen musik tradisional, yang memancarkan nada irama unik. Menjadi tradisi dalam menjaga harmoni dengan alam.
Betapa tidak unik ? Karena suara itu terpancar khas. Bersumber dari nada denting besi cangkul yang dipukul sabit, ditingkah dengan suara trethek kentongan. Kepala Desa (Kades) Sukoharjo, Sholikin, menyatakan, irama yang dimunculkan, sejak nenek moyang dulu, itu diyakini dapat menjadi sarana tolak hama, tolak balak, mengusir wabah dan menjauhkan anaaman pagebluk.
Keheningan hamparan lahan persawahan pun seketika berubah menjadi sakral. Ini terjadi saat iringan tetabuhan unik menyambut prosesi kedatangan rombongan Bupati Pacitan Indrata Nur Bayuaji. Orang pertama di Kabupaten Pacitan ini, memimpin rombongan warga, datang berjalan kaki meniti pematang sawah, sambil membawa bongkok bolong (pelepah Kklapa berlubang).
Selanjutnya, bongkok bolong tersebut diserahkan kepada Mbah Lurah (Kepalda Desa/Kades) Sukoharjo) untuk ditancapkan di tanah persawahan. Aktivitas ini, kemudian secara serentak diikuti oleh warga. Mereka ikut serta menancapkan bongkok di hampir semua tempat di seluruh pematang sawah. Selanjutnya, mulai dipentaskan seni pertunjukan Kiblat Papat Limo Pancer, dan tari Orang-orangan memedi sawah.
Bagian Prokopim Pemkab Pacitan, mengabarkan, Bupati Pacitan Indrata Nur Bayuaji turun langsung berperan dalam rangkaian ritual Thethek Melek. Gelaran seni yang tergolong unik ini, berlangsung Sabtu sore (20/12/25), di Desa Sukoharjo, Kecamatan Pacitan, Kabupaten Pacitan, Jawa Timur.
Tradisi Adat
Ritual Thethek Melek, adalah tradisi adat kaum agraris yang berfungsi menjaga harmoni antara manusia dan alam. Yakni sebuah ruang simbolik, yang menyimpan potensi kreatif dan sosial. Dari ritual Thethek Melek ini, diharapkan tumbuh nilai-nilai kosmologis dan praktik komunal. Yakni wujud tradisi kaum tani yang melekat yang sarat akan ritual, melalui pendekatan seni partisipatif.
“Mudah-mudahan yang kita lakukan ini, bisa memberi manfaat kepada kita semua, dan apa yang kita tanam akan memberikan nilai keberkahan,” ujar Bupati Pacitan Indrata Nur Bayuaji.
Puncak ritual Thethek Melek, adalah dipanjatkan doa bersama yang dipimpin oleh sesepuh desa setempat. Selanjutnya seluruh masyarakat yang hadir, melakukan kembul bujana andrawina (makan bersama). Ini sebagai wujud syukur atas berkah Tuhan yang dilimpahkan kepada kaum tani. Itu ditandai dengan tanaman pangan (padi) mereka, yang terbebas dari serangan hama.
Selain prosesi ritual menghalau hama, rangkaian Thethek Melek juga diisi dengan festival budaya, pertunjukan seni, jagong tani, serta melukis seribu bongkok. Serangkaian kegiatan bernilai seni ini, menjadi event wisata budaya yang menarik.
Tidak ketinggalan, event itu dimeriahkan dengan gelaran pasar yang dikemas semacam bazar. Yang menjajakan beragam produk unggulan dari para pelaku Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) dari masyarakat. Ini sekaligus sebagai wahana untuk mendongkrak pasar produk UMKM.
Tradisi unik kaum tani ini, dimaknai sebagai jembatan kultural untuk menjaga harmoni antara manusia dengan alam semesta. Yang itu dilakukan melalui pendekatan seni budaya yang partisipatif.(Bambang Pur)













