blank
Dua wisatawan asal Belanda yang didampingi Sri Bathi mengaku kagum pada seni ukir Jepara. Foto: Hadepe

JEPARA (SUARABARU.ID)—Jepara Wood Carving Performance Galery ahirnya menjadi magnet bagi wisatawan mancanegara. Dalam sepekan terakhir, banyak pengunjung asing dari berbagai negara tercatat mengunjungi galeri tersebut untuk melihat langsung proses pembuatan ukiran kayu khas Jepara yang telah diakui sebagai warisan seni bernilai tinggi dari Indonesia.

blank
Wartawan Suarabaru.id ( kiri ) tengah berbincang dengan wisatawan. Foto: Hadepe

Pantauan di lokasi pada Sabtu 13 Desember 2025, wisatawan asing tampak berkunjung ke galeri untuk mengamati dan belajar mengukir serta melihat-lihat cidera mata ukir yang di display di Galeri.  Mereka juga tampak mendokumentasikan proses pelatihan ukir yang dilakukan oleh puluhan  siswa SMP Jepara. Beberapa pengunjung bahkan mencoba langsung mengukir dengan bimbingan instruktur yang merupakan guru dan seniman ukir berpengalaman.

Fleur wisatawan asal Belanda mengaku terkesan dengan ketelitian para pengrajin. Dia sangat mengapresiasi dan tertarik untuk belajar ukir, yang baru sekali ini dilihat.  Dia dan temannya Sterre juga berkesempatan mencoba mengukir selama kurang lebih 1 jam  dengan menggunakan palu dan tatah dan mengaku menjadi pengalaman pertama yang sangat menyenangkan.

blank
Wisatawan asal Romo ini mengakui bahwa ukir Jepara tidak hanya indah tetapi memiliki filosofi tinggi. Foto: Hadepe

Hal senada disampaikan Manu dan Luigi wisatawan asal Roma Italia. Mereka menyebut seni ukir Jepara memiliki nilai filosofis yang baik. “Bukan hanya indah, tetapi setiap ukiran memiliki makna yang lebih. Saya sangat menghargai bagaimana tradisi lama masih dijaga hingga sekarang,” kata mereka. Rombongan ini juga memberikan tips kepada  instruktur.

Pengelola galeri dan Ketua Yayasan Pelestari Ukir Jepara, Hadi Priyanto, mengatakan bahwa kunjungan wisatawan asing mengalami peningkatan signifikan dibandingkan sebelumnya.

blank
Tidak hanya berlatih ukir, wisatawan juga mengabarkan kepada teman-temannya bahwa ia sedang mengikuti proses mengukir. Foto: Hadepe

“Sekarang hampir setiap hari kami menerima kunjungan wisatawan dari Eropa, Asia dan wisatawan lokal. Mereka tidak hanya melihat-lihat, tetapi juga ada yang mengikuti paket kelas mengukir dan ada yang memesan produk khusus,” jelasnya.

Menurutnya, meningkatnya minat wisatawan asing memberikan dampak positif bagi keberlangsungan seni ukir dan kesejahteraan perajin. Saat ini, Yayasan Pelestari Ukir berkolaborasi dengan 50 lebih perajin aktif dan tutor yang tergabung dalam Paguyuban Ukir Sungging Prabangkoro dan Paguyuban Pengukir Perempuan RA Kartini.

“Sehingga dengan tingginya antusiasme pengunjung asing, diharapkan kami mampu menjadi salah satu pusat pelestarian seni tradisional sekaligus jembatan diplomasi budaya Indonesia di tingkat internasional.” Ujar  Hadi Priyanto. Ini baru pemanasan menjelang Tingkat kunjungan ke Karimunjawa pada bulan April – Agustus