blank
Salah melambaikan tangan pada fans Liverpool, usai laga melawan Leeds United, Minggu (7/12/2025) dinihari lalu. Foto: dok/gettyimages

blankOleh: Amir Machmud NS

// tak bolehkah pahlawan mengeluh/ mengungkapkan galau hati/ : merasa dikambinghitamkan/ merasa disisihkan/ tak menyisakan harga/ untuk jasa-jasanya…//
(Sajak “Galau Mo Salah”, 2025)

MOHAMED Salah Hamed Mahrous Ghaly disalahkan kiri-kanan. Ungkapan kegalauan hatinya, oleh sebagian orang — terutama para legenda Liverpool –, dipahami sebagai sesuatu yang tidak tepat, tidak patut disampaikan kepada publik.

Tak berhakkah seseorang meluapkan kegundahan, meletupkan kegalauan ketika merasa semua yang telah dia berikan tidak sepadan dihargai dan dimengerti?

Dia merasa menjadi pusat kesalahan, kambing hitam, dan selanjutnya dipojokkan. Realitas opini pun bisa berkembang ke tafsir subjektif: pahlawan seolah-olah tak boleh mengeluh, dan hanya berhak menerima apa pun yang terjadi, dan apa yang akan terjadi.

Gaduh soal Mo Salah menjadi topik paling viral di Liga Primer sejak pekan lalu. Tak peduli dia pernah dipuja-puji sebagai pusat kebergantungan tim, para pundit sepak bola, legenda The Reds, bahkan para eks pemain dari luar lingkaran Anfield berkomentar pro dan kontra. Semua bernada sama: menyalahkan Mohamed Salah.

Awalnya adalah komentar pemain berjejuluk Raja Mesir itu. Dengan nada pedas, dia menyampaikan dalam sebuah wawancara setelah tidak dimainkan dalam laga melawan Leeds United di Elland Road, 7 Desember lalu. Sudah tiga kali beruntun — melawan West Ham United, Sunderland, dan Leeds –, pelatih Arne Slot tidak menurunkan eks pemain Basel, Chelsea, Fiorentina, dan AS Roma itu.

Salah menyatakan kekecewaannya kepada Slot, dengan mengungkit apa yang sudah dia berikan sejak bergabung dengan Liverpool pada 2017. Salah juga mengisyaratkan spekulasi masa depan, dengan menyebut laga melawan Brighton & Hove Albion pada Sabtu 13 Desember ini bisa menjadi momentum perpisahannya.

Saat ini, sebagai juara bertahan, Liverpool sedang dalam situasi sulit. Mereka berada di peringkat kesembilan. Dari 10 pertandingan terakhir, Virgil van Dijk dkk hanya tiga kali menang, dua kali imbang, dan sisanya kalah. Para pemain rekrutan mahal seperti Florian Wirtz, Alexander Isak, Hugo Ekitike, atau Milos Kerkez belum tampil maksimal.

Arne Slot menjelaskan, dia menepikan Mo Salah karena pertimbangan kebutuhan tim. Salah baru membukukan lima gol dan tiga assist dari 16 pertandingan di semua ajang. Padahal musim lalu, dia mampu mengemas 57 gol dari 52 laga. Dia juga dinilai mulai lambat dalam membantu pertahanan. Sisi kanan Liverpool sering menjadi titik lemah yang dieksploitasi lawan.

Dalam statistik, sejak memperkuat Liverpool pada 2017, dia telah menyumbang 250 gol dan 188 assist dari 400 laga. Dia tercatat sebagai top scorer sepanjang masa The Reds di bawah Ian Rush (346 gol), dan Roger Hunt (285). Semua trofi di Liga Primer dan Eropa sudah dia bendaharakan.

Situasinya Kurang Tepat
Legenda Liverpool Michael Owen dalam unggahan di X menulis, “Oh, Mo Salah. Saya bisa membayangkan bagaimana perasaannya. Kamu sudah memimpin tim ini selama bertahun-tahun dan meraih semua gelar yang bisa diraih. Tetapi ini adalah permainan tim, dan kamu tidak bisa secara terbuka mengatakan apa yang kamu katakan”.

Owen bisa memahami apa yang dirasakan Mo Salah, tetapi mengingatkan bahwa situasinya kurang tepat.

Bagi Wayne Rooney, komentar Mohamed Salah merupakan kesalahan fatal. “Dia benar-benar menghancurkan warisannya di Liverpool. Akan sangat disayangkan jika dia menyiakan-nyiakan semua itu. Dia benar-benar salah,” ungkap legenda Manchester United itu seperti dikutip BBC. (detik.com, 9 Desember 2025).

“Waktu terus berjalan, dan musim ini dia belum tampil dalam performa terbaiknya, dalam ketajamannya. Anda ingin melihatnya bekerja keras dan berkata, ‘Oke, kalau begitu saya akan tunjukkan’,’’ kata Rooney. “Untuk memiliki arogansi mengatakan dia tidak harus berjuang keras karena dia sudah pantas mendapatkan tempatnya, Anda harus berada dalam performa terbaik setiap minggu untuk mencoba dan tetap berada di tim…”

Legenda Liverpool Danny Murphy mengingatkan, “Anda boleh marah, boleh frustrasi, boleh emosional, telah melakukan hal-hal luar biasa untuk klub ini, tetapi Anda harus berada di koridor klub,” ujarnya.

Murphy menyarankan, “Ketuk pintu manajer, pergi dan bicaralah dengan CEO atau siapa pun yang Anda butuhkan. Temui pemiliknya. Lakukan apa pun yang harus Anda lakukan. Ekspresikan rasa frustrasi Anda”.

Berbeda dari rata-rata legenda Liverpool, mantan kapten Stevan Gerrard memahami kekesalan Mo Salah, tetapi dia menyarankan agar Salah segera berdamai dengan Arne Slot. Menurut Gerrard, kekesalan Salah tak sepenuhnya keliru. Dia ingat, dulu Luis Suarez juga pernah berkonflik dengan manajer Brendan Rodgers, yang diselesaikan dengan baik.

Dia mengatakan, keliru jika Mo Salah menyebut ada pihak yang mencoba menyingkirkannya. “Dia harus menarik kata-kata itu dan menyelesaikan langsung dengan manajer. Virgil van Dijk (sebagai kapten) harus turun tangan. Dulu saya sering menyelesaikan hal-hal seperti ini demi kepentingan klub, tim, dan para suporter. Semua pemain pernah kehilangan kontrol. Ketika semuanya sudah mereda, saya yakin Mo akan berpikir, ‘Saya tidak seharusnya mengatakan itu, saya terlalu emosional’…,” kata Gerrard. (detik.com, 11 Desember 2025).

Refleksi “Kegalauan”
Apa yang membelit hati Mo Salah saat ini, sejatinya merefleksikan “kegalauan” yang tergambar dalam permainan Liverpool sebagai tim. Sebagai juara bertahan, performa The Reds menurun drastis. Keputusan Arne Slot untuk tidak memainkan Salah patut dilihat sebagai bagian dari pertimbangan taktikal, ketika berbagai cara dan skema belum menciptakan soliditas permainan. Sedangkan Salah menanggapinya dengan merasa dia menjadi kambing hitam dibandingkan dengan apa yang selama bermusim-musim telah dia persembahkan.

“Kesalahan” utamanya, tentu, karena Mo Salah tidak membuat gol setidak-tidaknya seproduktif musim lalu.

Yang masih menjadi tanda tanya, seperti apa akhir dari kemelut Anfield ini?

Pertama, apakah Mo Salah bakal tampil di Piala Afrika membela tim nasional Mesir dengan performa yang membuat Arne Slot kembali mempertimbangkan menjadi elemen utama dalam skema taktiknya, setelah Salah tidak dibawa dalam laga Liga Champions melawan Internazionale Milan di San Siro. Atau justru sebaliknya?

Kedua, apakah bakal terjadi peredaan relasi antara sang pemain dengan Arne Slot dalam perenungan, dan titik temu taktik yang saling dipahami? Ketiga, benarkah laga melawan Brighton nanti menjadi perpisahan Mo Salah dengan Liverpool? Atau malah Slot tidak memainkannya?

Keempat, apakah kegalauan yang diungkapkan Salah itu menjadi semacam konsiderans bagi manajemen Liverpool untuk mengakhiri kerja sama, lalu bagaimana bentuknya?

Kelima, bakal bangkitkah Liverpool dalam kondisi relasi pemain dan pelatih yang seperti ini, atau perlu penyegaran untuk memulai dari nol? Tentu banyak referensi di masa lalu tentang masalah relationship yang sama dalam dinamika industri sepak bola profesional .

Bagi saya, kegalauan Mohamed Salah justru memperlihatkan, hati dan perasannya masih begitu kuat bertaut dengan Liverpool. Penurunan performa, dalam usia 33, bisa saja mulai dirasakan, namun bahwa dalam beberapa musim terakhir dia menjadi pilar penentu adalah realitas yang tak terbantahkan. Dia hanya membutuhkan komunikasi yang tepat untuk berelasi dengan pelatih.

Yakinilah, Mo Salah masih sangat penting untuk Pasukan Anfield…

Amir Machmud NS, wartawan Suarabaru.Id