JEPARA (SUARABARU.ID) -Penulis asal Jepara yang aktif mengirim karya ke suarabaru.id, Sulismanto, terpilih menjadi salah satu penerima penghargaan budaya tahun 2025 dari Bupati Jepara Witiarso Utomo. Dia mendapat apresiasi atas kontribusinya mengawali pendokumentasian bahasa Jawa dialek Jeparanan dalam banyak tulisan yang terbit di sejumlah media massa.
Apresiasi itu diserahkan Wakil Bupati Muhammad Ibnu Hajar dalam kegiatan bertajuk Pemberian Penghargaan kepada Pihak yang Berkontribusi Dalam Pemajuan Kebudayaan Kabupaten Jepara pada Jumat (12/12/2025) pagi, di Pendopo R.A. Kartini Jepara.

Kepada SuaraBaru.id, warga Desa Suwawal, Kecamatan Mlonggo ini mengaku tidak pernah menduga akan mendapat penghargaan dalam kategori “Pelopor Dokumentasi Dialek Jeparanan” tersebut.
“Alhamdulillah. Mas Bupati dan Gus Wakil Bupati mengapresiasi. Saya hanya bisa berterima kasih. Saya benar-benar tidak menyangka, karena ini penghargaan bidang budaya. Dan menulis itu, kan, berada di luar panggung pentas budaya, ya?” kata mantan penyiar radio dengan nama udara Indra Sadewa ini.

Menurutnya, saat memutuskan membuat karya berbahasa Jawa di sela tulisan berbahasa Indonesia, dia hanya berniat ikut berkontribusi dalam pelestarian bahasa daerahnya melalui terbitan rutin di media massa. Dalam tulisan-tulisan itulah Sulismanto menyelipkan beberapa kata dan frasa yang menjadi ciri khas dialek di Kabupaten Jepara.
“Inspirasinya berasal dari rubrik Kopi Muria di harian Suara Merdeka entah tahun berapa. Pak Prayitno Kudus, sering menyelipkan dialek Kudus ke tulisan tersebut. Maka saya pikir, media massa berbahasa Indonesia pun, ternyata memberi ruang yang cukup untuk bahasa Jawa dengan dialek lokal,” kenangnya.

Awalnya, karya seperti itu dia tuangkan dalam Kemisan, rubrik rutin di majalah Gelora sejak Februari 2018. Majalah ini terbit di Jepara. Pegawai negeri sipil Pemerintah Kabupaten Jepara ini memang sempat menjadi wartawan dan editor di majalah tersebut sebelum berpindah tugas sebagai Penyusun Naskah Sambutan Bupati Jepara.
Suatu ketika dia mengirim tulisan dengan gaya yang sama ke SuaraBaru.id. “Karena majalah, kan, terbitnya bulanan, ya. Sementara saat itu ada ide menulis yang temanya cukup aktual sehingga perlu dikirim ke media massa yang terbit harian. Saya kirim ke SuaraBaru.id.,” katanya.
Ternyata, keunikan karyanya menarik perhatian Penanggung Jawab SuaraBaru.id., Amir Machmud Ns. Melalui wartawan yang ada di Jepara, SuaraBaru menawarkan rubrik rutin bertajuk Jeparanan. “Tentu saja saya sanggupi. Ini kepercayaan yang bagi saya, luar biasa,” kata Indra Sadewa.

Mulai saat itulah dia rutin menulis bahasa Jawa dialek Jepara. Karya seperti ini, juga menarik minat kajian dari perguruan tinggi. Sulismanto bercerita, dia pernah dihubungi dosen perguruan tinggi swasta di Kendal dan Jepara yang meminta izin membuat kajian dialek Jepara dalam tulisannya.
Karya tulis suami staf Sekretariat DPRD Kabupaten Jepara, Isda Ermawati ini juga mendapat ruang rutin di Djaka Lodang, majalah berbahasa Jawa yang terbit di Yogyakarta.

“(Tulisan) di Djaka Lodang bukan hanya artikel, tetapi juga untuk rubrik Pawarta dalam bentuk berita, dan untuk rubrik Wacan Bocah dalam bentuk cerkak atau cerita pendek berbahasa Jawa,” tambah ayah dua putra-Basunanda Aksal Kalyana dan Kalyana Panji Wardana-serta satu putri-Kalyana Gita Wardani-ini.
Pengalaman itu membuatnya sering mendapat kepercayaan menjadi juri untuk berbagai lomba menulis di Jepara, baik untuk kategori pelajar, mahasiswa, maupun pendidik. Dia juga beberapa kali diminta mendampingi pemenang lomba menulis di Jepara yang maju ke lomba tingkat provinsi, salah satunya, ikut mengantar Umar Abdillah, siswa SMP N 1 Jepara saat menjadi Juara 1 Menulis Cerkak dalam Festival Tunas Bahasa Ibu tingkat Provinsi Jawa Tengah tahun 2024.
Sulismanto juga aktif mengisi ceramah dan menyajikan materi menulis di berbagai kegiatan pelatihan jurnalistik dan pengembangan diri. Di antaranya di satuan pendidikan, lembaga pers mahasiswa, hingga kegiatan Kelompok Kerja Guru (KKG).

“Alhamdulillah pimpinan memberi dukungan penuh saat saya mendapat undangan menjadi narasumber. Terima kasih,” katanya.
Di kalangan jurnalis Jepara, Sulismanto dikenal sebagai salah satu penulis yang disiplin dalam kepatuhan terhadap kaidah bahasa Indonesia. Dia sering menjadi tempat bertanya beberapa penulis lain, saat mendapati keraguan aturan penulisan.
“Mungkin saya dikenal galak dalam hal itu. Apalagi saya cukup sering memberi masukan ketika mendapati kesalahan mendasar kaidah bahasa. Tetapi penting untuk membangun kesadaran bahwa nyawa hampir semua karya tulis itu, ya, memang kaidah bahasanya. Ini bisa ‘dibaca’ dalam karya tulis yang terbit di media massa mainstream,” tandasnya.
Menurutnya, banyak yang kurang memperhatikan hal tersebut.
“Dari beberapa kali menjadi juri lomba menulis, saya mendapati banyak karya yang sangat kuat dari sisi ide hingga alur penuangan gagasan, tapi kemudian harus kalah oleh peserta lain yang sama kuatnya. Pembedanya adalah kemampuan menulis dengan benar seperti yang terbit di media massa arus utama. Mungkin tidak banyak yang tahu, bahwa media massa arus utama sangat patuh EYD dan KBBI” tandasnya.
Karena kedisiplinan itu, dia dipercaya menjadi editor sejumlah buku. Yang terkini adalah Mozaik Gagasan R.A. Kartini untuk Bangsanya. Buku ini berisi antologi artikel tentang R.A. Kartini. Dan yang akan diluncurkan adalah Aksara Nalarendra: Antologi Cerpen. Mayoritas penulis di kedua buku ini adalah para pendidik.
Hadepe













