blank
Sucoro (kiri) tampil pada sebuah acara di kompleks Candi Borobudur belum lama ini. Foto: eko

KOTA MUNGKID (SUARABARU.ID) –
Ketua Yayasan Ruwat Rawat Borobudur, Sucoro Setrodiharjo, kembali mengeluarkan gagasan terkait dengan Candi Borobudur. “Candi Borobudur menyajikan ajaran yang bersifat lintas agama, etnis, dan golongan,” tuturnya hari ini, Kamis (11/12/25).

Tokoh budaya yang berdomisili di sebelah utara kawasan Taman Wisata Candi Borobudur itu menilai, candi tersebut berdiri tidak hanya sebagai mahakarya arsitektur, oleh Dinasti Wangsa Syailendra yang menganut agama Buddha Mahayana. Namun letaknya di tengah Pulau Jawa mempunyai filosofi Jawa. Filosofinya saling melengkapi, sehingga menjadi kesatuan ajaran spiritual sebagai refleksi visual dari filosofi universal tentang kehidupan bermasyarakat dan tata kelola pemerintahan yang ideal.

Menurut Sucoro, pesan moral yang tertuang dalam struktur bangunan dan reliefnya, kaya akan nilai-nilai spiritual, yang tetap relevan dalam konteks kehidupan modern. Yakni menekankan perlunya keselarasan sosial yang menciptakan harmoni di antara berbagai lapisan masyarakat. Integritas kepemimpinan diharapkan dapat menginspirasi terwujudnya tata kelola yang didasarkan pada prinsip-prinsip moral dan etika universal. “Dengan demikian, situsnya berfungsi sebagai pengingat abadi akan pentingnya mengintegrasikan nilai-nilai spiritual dalam setiap aspek kehidupan publik dan pribadi,” ujarnya.

Berdasarkan catatan dia,
struktur bertingkat Borobudur melambangkan perjalanan spiritual manusia dari dunia nafsu (kamadhatu) menuju pencerahan (rupadhatu dan arupadhatu), yang mengajarkan prinsip-prinsip sosial. Kebajikan (karma phala) relief di kaki candi (kamadhatu) menggambarkan hukum sebab-akibat (karma). “Itu mengajarkan kita (masyarakat) untuk menjalani kehidupan yang baik, penuh kebajikan, kedamaian dan menjauhi perbuatan yang merugikan sesama. Karena setiap tindakan akan membuahkan hasil (karma), baik dalam kehidupan sehari-hari maupun kehidupan jangka panjang,” tuturnya.

Kehidupan yang bermoral dan etis, lanjutnya, ada pada Relief Jataka dan Lalitavistara, yang menyoroti nilai-nilai kemanusiaan tentang empati, kepedulian, dan pengampunan, serta pentingnya saling menghargai martabat sesama manusia.

Harmoni, toleransi, dan gotong royong direfleksikan secara mendalam melalui perpaduan filosofi Buddha Mahayana dengan budaya lokal Jawa Nusantara. Perpaduan itu secara nyata tercermin di bangunan Candi Borobudur. “Candi Borobudur menjadi simbol toleransi, gotong royong, dan kemampuan masyarakat untuk hidup berdampingan dalam keragaman, serta menghargai perbedaan latar belakang agama dan budaya,” tuturnya.

Good Governance

Ditandaskan, meski Borobudur merupakan monumen keagamaan, nilai-nilai spiritual dan kemasyarakatan yang terkandung di dalamnya dapat diinterpretasikan secara mendalam sebagai landasan penting dalam konteks tata kelola pemerintahan yang baik (good governance). Seperti kepemimpinan yang berbasis etika menjadi inti dari ajarannya. Ajaran Buddha yang terpadukan dengan nilai-nilai filosofi Jawa menekankan pada, kepemimpinan yang bijaksana dan adil, berorientasi utama pada kesejahteraan masyarakat, bukan kekuasaan semata.

Selebihnya diutarakan, relief-relief di Candi Borobudur secara tidak langsung memvisualisasikan bagaimana seorang pemimpin (seperti Raja Samaratungga pada masa Dinasti Syailendra) membangun monumen spiritual bagi masyarakatnya. Itu menunjukkan pentingnya pemimpin yang melayani dan mengutamakan kepentingan kolektif.

Bangunan Candi Borobudur yang megah dan terstruktur, dengan visi spiritual untuk mencapai nirwana atau surga sebagai tujuan kehidupan sejati, menunjukkan adanya perencanaan matang dan tujuan jangka panjang yang jelas. Dalam konteks pemerintahan modern, merefleksikan pentingnya memiliki visi pembangunan berkelanjutan yang kuat dan berorientasi pada masa depan bangsa. Memastikan bahwa setiap langkah didasarkan pada tujuan akhir yang ideal.

Meski Candi Borobudur tidak secara eksplisit menggunakan istilah modern, konsep karma dan kebenaran universal yang tertanam di dalamnya mengimplikasikan adanya akuntabilitas moral. Ajaran itu menyatakan bahwa tindakan baik akan dihargai, sementara tindakan buruk akan menuai konsekuensi.

Filosofi itu secara mendasar mendorong para penguasa untuk bertindak secara bertanggung jawab dan adil, yang merupakan dasar dari akuntabilitas publik.Tujuan akhir perjalanan spiritual di Borobudur adalah pencerahan spiritual untuk semua makhluk. Konsep universal itu, menurutnya, sangat sejalan dengan tujuan utama tata kelola pemerintahan yang baik (good governance).

“Menjamin pelayanan publik yang adil dan merata, mencapai kesejahteraan umum bagi seluruh warga masyarakat,” pungkasnya.

Eko Priyono