PATI (SUARABARU.ID) — Program Jaminan Kesehatan Nasional, yang diselenggarakan oleh BPJS Kesehatan menjadi penopang harapan masyarakat saat kondisi darurat kesehatan menimpa, hal itulah yang dialami oleh Sri Lestari (34), warga Desa Tawangrejo, Kecamatan Winong, Kabupaten Pati.
Sudah tiga hari Sri Lestari menemani ayahnya, Sarjono (74), yang tengah menjalani perawatan intensif di RS Fastabiq Sehat Pati akibat hipertensi, stroke non-hemoragik, serta fraktur tulang paha.
Warga Desa Tawangrejo, Sri Lestari menyampaikan kisah tersebut berawal ketika Sarjono (ayahnya), peserta JKN segmen Penerima Bantuan Iuran (PBI) yang iurannya ditanggung pemerintah, tiba-tiba terjatuh dari kursi ruang tamu pada suatu siang.
“Keluarga yang panik segera memberikan pertolongan pertama dengan membaringkannya di kamar,” ujar Sri Lestari.
Selama dua hari, lanjut Sri Lestari, perawatan dilakukan secara mandiri, namun keluhan nyeri hebat di bagian paha atas, membuat kondisi sang ayah semakin mengkhawatirkan. Keluarga pun memutuskan membawa Sarjono ke RS Fastabiq Sehat, rumah sakit terdekat dari tempat tinggal mereka di Pati.
“Waktu itu Bapak duduk di kursi ruang tamu, tiba-tiba langsung jatuh. Kami kaget, langsung mengangkat dan memindahkan ke tempat tidur,” ucap Sri Lestari saat ditemui diruang perawatan, Selasa 09 Desember 2025.
Lanjutnya, di rumah sakit, tenaga medis segera memberikan penanganan cepat. Setelah dilakukan pemeriksaan, diketahui tekanan darah Sarjono sangat tinggi, mencapai 200/140 mmHg. Dokter kemudian melakukan pemeriksaan penunjang melalui rontgen, dan hasilnya menunjukkan adanya keretakan pada tulang pinggul bawah yang diduga kuat terjadi akibat benturan saat terjatuh. Respons sigap ini membuat keluarga merasa lebih tenang karena kondisi ayahnya bisa segera tertangani oleh tenaga profesional.
Tak Dibeda-bedakan
“Dokter langsung periksa dan jelaskan kondisinya. Perawatnya juga gerak cepat sekali, jadi kami merasa sangat terbantu,” ungkap Sri Lestari.
Sri Lestari juga membagikan pengalamannya selama mendampingi sang ayah menjalani perawatan, menurutnya, seluruh layanan rumah sakit diberikan tanpa dibeda-bedakan baik peserta JKN maupun peserta umum. Mulai dari keramahan perawat, kebersihan ruang perawatan, hingga perhatian dokter saat menyampaikan informasi medis, semuanya membuat Sri merasa dihargai sebagai keluarga pasien.
“Pelayanannya benar-benar baik. Kami nggak pernah merasa dibedakan karena memakai JKN. Ruangan Bapak juga bersih dan nyaman,” kata Sri Lestari.
Lebih lanjut, Sri Lestari mengatakan bahwa kehadiran Program JKN sangat meringankan beban keluarganya, dengan kondisi ayah yang membutuhkan perawatan intensif dan pemeriksaan penunjang, ia menyadari bahwa biaya yang harus dikeluarkan tidaklah sedikit. Namun berkat program JKN yang dimiliki ayahnya, seluruh layanan dapat diakses tanpa biaya tambahan.
“Kalau tanpa JKN, saya nggak kebayang harus bayar berapa. Alhamdulillah semuanya ditanggung, jadi kami bisa fokus ke kesembuhan Bapak,” jelas Sri Lestari.
Sri Lestari berharap semakin banyak masyarakat yang sadar akan pentingnya menjadi peserta JKN. Ia menilai bahwa pelayanan yang diterimanya nyata memberikan rasa aman saat kondisi darurat datang tanpa diduga.
“Bagi keluarganya, JKN bukan hanya program, tetapi penyelamat di saat masa sulit,” tandas Sri Lestari.
Kudnadi Saputro













