blank
Tim SMAN 1 Wonosobo yang meraih juara 1 nasional LCC Empat Pilar MPR RI foto bersama dengan Kepala Sekolah dan guru pendamping. Foto : SB/Muharno Zarka

WONOSOBO (SUARABARU.ID)-Tim siswa SMAN 1 Wonosobo Jawa Tengah meraih prestasi bergengsi yakni keluar sebagai juara 1 Nasional Lomba Cerdas Cermat (LCC) Empat Pilar MPR RI 2025.

LCC Empat Pilar yang digelar Sekretariat Jenderal MPR RI itu sendiri, telah berlangsung di Gedung Bundar MPR RI di Jakarta, pada Senin (17/11) hingga Sabtu (22/11/2025) lalu.

Tim SMAN 1 Wonosobo, terdiri dari 10 siswa. Mereka adalah Ahmad Abdullah Faqih (XI B), Ihda Anjani Salsabila (XI B), Tanita Prisca Widiastuti (XI E), Febrian Kent Rakasiwi (XII B) dan Kemal Padma Tanaya (XII B).

Selain itu, juga Nadia Talita Anindya (XII B), Aulia Prasetya wati (XII C), Katryna Larasati Zizi S (XII D), Luna Alya Zahra (XII E) dan Talita Budi Yuliana (XII F). Mereka merupakan siswa yang hebat dan luar biasa karena bisa meraih juara I LCC Empat Pilar tingkat nasional.

Prestasi tersebut sekaligus menjadikan SMAN 1 sebagai satu-satunya sekolah di Indonesia yang telah tiga kali menjadi juara I nasional LCC Empat Pilar dan HAM serta sekali juara II untuk kompetisi LCC Empat Pilar.

Kepala SMAN 1 Wonosobo, Ibnu Rochmadi, menyebut pencapaian ini bukan hanya buah dari kecerdasan, tetapi juga hasil proses pembinaan panjang di sekolah.

“Seleksi di tingkat sekolah saja sudah luar biasa, berdarah-darah. Anak-anak yang masuk LCC Empat Pilar benar-benar siswa yang terbaik. Mereka punya kemampuan akademik dan mental yang kuat,” ujarnya.

Ibnu menceritakan bagaimana para siswa memaksimalkan waktu belajar hingga menjadikan salah satu ruangan di Gedung Bundar sebagai “markas belajar”. Mereka belajar dan berlatih setiap hari untuk mengejar prestasi.

“Seperti kamar mereka sendiri. Belajar di sana siang-malam. Pernah minta izin latihan malam, tapi tetap saya minta pulang karena harus jaga stamina dan istirahat yang cukup,” tambahnya.

Menurut Ibnu, keberhasilan SMAN 1 tak lepas dari eratnya hubungan lintas angkatan. Dari alumni 1989 hingga
Pendamping seperti Pak Narjo dan Pak Pujiono, tetap membersamai anak-anak hingga ke Jakarta—bahkan dengan biaya pribadi.

“Beliau berkomitmen membawa yang terbaik untuk SMAN 1 Wonosobo. Itu yang menginspirasi anak-anak. Persiapan menuju tingkat nasional dilakukan secara intensif selama satu bulan,” tegas Ibnu.

Selain pembinaan rutin dua kali seminggu, lanjut dia, pihak sekolah juga menghadirkan dosen dari Unnes Semarang sebagai mentor. Dana pembinaan mayoritas berasal dari BOS dan BOP SMAN 1 Wonosobo.

Golden Ticket

blank
Kepala SMAN 1 Wonosobo Ibnu Rochmadi menyerahkan piala LCC Empat Pilar MPR RI kepada Febrian Kent Rakasiwi. Foto : SB/Muharno Zarka

“LCC Empat Pilar merupakan ikon SMAN 1 Wonosobo, jadi harus maksimal. Saya juga telah meminta para pembina senior untuk membukukan seluruh metode, trik dan strategi pembinaan sebagai warisan bagi generasi selanjutnya,” pinta dia.

Sekolah memberikan apresiasi khusus bagi para juara, mulai dari penyambutan hingga dukungan akademik. Selama mengikuti proses LCC Empat Pilar, karena tidak mengikuti pelajaran lain, mereka diberi dispensasi khusus.

“Soal nilai pelajaran? Unlimited, pokoknya. Mereka minta berapa pun, ya sudah diberi. Mereka juga punya golden ticket ke Universitas Indonesia (UI) Jakarta, kuota 10 orang,” jelas Ibnu.

Para juara mendapat keleluasaan dalam organisasi, jadwal belajar, hingga bantuan guru untuk mengejar ketertinggalan pelajaran selama masa karantina.

Para siswa mengaku sempat minder melihat lawan-lawan dari kota besar. Karena pesaingnya dari SMAN favorit di seluruh Indonesia. Saat final, tim SMAN 1 Wonosobo berhasil mengalahkan tim dari SMA dari Riau dan Bengkulu.

“Kami dari kota kecil sempat pesimis. Tapi kami sadar, SMAN 1 punya DNA juara. Alumni saja bisa, kenapa kami tidak?” ujar Febrian Kent Rakasiwi, salah satu anggota tim.

Mereka mengusung semboyan “Satu untuk sepuluh, sepuluh untuk satu” untuk menjaga chemistry dalam tim beranggotakan sepuluh orang.

“Setiap orang punya karakter berbeda, tapi visi kami satu: juara nasional. Ego kami turunkan, kami saling menopang,” tegasnya.

Bagian tersulit bagi para peserta adalah menguasai topik kasus. Setiap anak harus mengetahui kasus yang terjadi, undang-undang yang ada hingga mampu memberikan solusi bagi kasus yang terjadi.

“Soalnya tingkat kesulitannya 10. Harus menganalisis pernyataan, relevansi hukum, dan dampaknya. Tidak sekadar hafalan,” ungkap mereka.

Pak Narjo dan Pak Pujiono, pembina senior yang telah mendampingi sejak 2009, tak kuasa menyembunyikan rasa bangganya. Keduanya dibantu guru PKN baru, yakni Barikna Fachrul Ilham.

“Saya bangga bisa mengantar anak-anak hingga tingkat nasional berkali-kali. Walau sudah pensiun, saya tetap ikut. SMAN 1 Wonosobo ini rumah saya,” katanya.

Muharno Zarka