blank
Sebanyak 27 tim adu kepandaian memasak Jangan (Sayur) Lombok dalam festival yang digelar di SMK Negeri 1 Wonogiri.(Dok.Rafi)

WONOGIRI (SUARABARU.ID) – Festival Jangan (Sayur) Lombok (Cabai), Rabu (12/11/25), digelar di SMK Negeri 1 Wonogiri, Jawa Tengah. Event ini, digelar dalam rangka memeriahkan peringatan Hari Kesehatan Nasional (HKN), HUT Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) dan HUT Korpri Tahun 2025 tingkat Kecamatan Wonogiri Kota, Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah.

Kegiatan yang terhitung langka ini, sekaligus sebagai upaya melestarikan wisata kuliner tradisional Jawa yang melegenda. Berlangsung semarak, dibuka dengan pemukulan gong oleh Camat Wonogiri Kota Fredy Sasono. Dihadiri jajaran Forkopimcam, para Kepala Sekolah (Kasek), para pimpinan dinas instansi terkait.

Diikuti oleh sebanyak 27 tim, yang datang mewakili sekolah (SMP, MTs, SMA/MA, SMK), dari komunitas guru yang tergabung dalam gugus, dan dari Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD) Puskesmas. Aspek penilaiannya berpijak pada cita rasa, ketepatan waktu dalam memasak, ragam komponen (bahan) yang digunakan.

Jangan Lombok, begitu akrab dengan lidah masyarakat Kabupaten Wonogiri, yang memiliki latar belakang historis sebagai bagian dari wilayah Praja Mangkunegaran. Masakan sayur yang berbahan lombok rajang, santan kelapa, berbumbu bawang merah dan bawang putih, lengkuas dan daun salam ini, terasa nikmat untuk kelengkapan lauk makan nasi. Cocok dipadukan dengan ayam goreng, empal daging sapi, bacem daging, rempah, ikan asin bakar atau keripik teri.

Warung makan Jangan Lombok legendaris di Wonogiri, diantaranya di Betal (Ibukota Kecamatan Nguntoronadi) milik Bu Yomo (Alm). Terkenal sejak dari Betal lama (sebelum tergenang perariran Waduk Gajahmungkur), maupun sesudah pindah ke Betal Baru di Kedungrejo. Jangan Lombok Bu Yomo, nikmat karena padu dengan daging bacem yang disertai srondeng ragi kelapa parut.

Nemlek

Jangan Lombok legendaris yang pedasnya terasa hooohaaaah, dijajakan di warung kaki lima Mak Las (Alm) di terminal angkutan pedesaan Ibukota Kecamatan Eromoko, sekitar Kilmeter 29 Wonogiri-Pracimantoro. Menu Jangan Lombok Mak Las, terasa nikmat saat dilengkapi dengan ayam (kampung) goreng yang gurih.

blank
Camat Wonogiri Kota Fredy Sasono (kanan) didampingi jajaran Forkopimcam, memukul gong untuk menandai dibukanya festival Jangan Lombok.(Dok.Rafi)

Di Ibukota Kecamatan Baturetno (sekitar 45 Kilometer arah selatan Kota Wonogiri), ada warung Nemlek yang menyuguhkan menu unggulan Jangan Lombok dengan empal daging sapi yang empuk. Di wilayah Wonogiri selatan, ada menu khas Jangan Lombok Gerus (lomboknya diulek tidak dirajang). Memasaknya, dipadukan dengan rempah (glinding adonan daging cacah dengan kelapa parut).

Jangan (sayur) Lombok (cabai), dikenal sebagai kuliner tradisional yang telah melegenda sejak lama. Sebagai sayur khas yang banyak disukai masyarakat (Jawa), keberadaannya dituliskan di Serat Centhini, yakni buku enslikopedi budaya Jawa.

Serat Centhini, ditulis oleh Tim Keraton Pimpinan Adipati Amangkurat III (yang kemudian hari menjadi Raja Surakarta Pakubuwana V), dengan melibatkan tiga pujangga keraton di Abad Ke-19 (Tahun 1814-1823). Yakni Raden Ngabehi (RNg) Rangga Sutrasana, RNg Sastradipura dan RNg Yasadipura II.

Yang dijadikan sumber penulisan Serat Centhini adalah kitab Jatiswara, bersangkala (surya sengkala) penanda tahun jati tunggal swara raja, yang menunjukkan angka 1711 (Tahun Jawa) masih di zaman pemerintahan Sunan PB III.(Bambang Pur)