WONOSOBO (SUARABARU.ID)-Bupati Wonosobo, Afif Nurhidayat mengaku prihatin dengan tingginya angka penderita kanker anak di daerahnya.
Menurut Afif, data dari RS Sardjito Yogyakarta dan RSUD Temanggung menunjukkan bahwa pasien kanker anak banyak berasal dari Wonosobo.
“Ini sangat memprihatinkan. Saya minta Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Wonosobo segera mencari penyebab melonjaknya penderita kanker anak,” pinta dia.
Dikatakan Bupati Wonosobo, apakah penyakit kanker anak karena pola makan yang berubah atau ada faktor lain. Jika sampai penderita kanker anak dari tahun ke tahun terus meningkat tentu sangat berbahaya bagi generasi masa depan.
Dia menegaskan hal itu saat hadir dalam peringatan Hari Kesehatan Nasional (HKN) ke-61 tahun 2025 di Rumah Sakit Islam (RSI) setempat, Rabu (12/11/2025).
Bupati juga mengaku kerap mendapat laporan dari keluarga pasien asal Wonosobo yang kesulitan untuk bermalam selama menjalani pengobatan di Yogyakarta karena tidak memiliki biaya menginap.
“Banyak di antaranya yang tidak mampu menyewa tempat tinggal dan terpaksa tidur di masjid. Ini tentu sangat memprihatikan, dalam kondisi sakit harus tidur di masjid yang merupakan tempat terbuka,” ujarnya.
Sebagai bentuk kepedulian, Pemkab Wonosobo berencana membangun rumah singgah bagi warga yang menjalani pengobatan di luar daerah, khususnya di Yogyakarta.
Pola Makan

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Wonosobo, Jaelan Sulat, membenarkan adanya tren peningkatan penderita kanker anak.
Dia menyebut, salah satu faktor yang berpengaruh adalah pola makan yang tidak sehat di kalangan anak-anak. Karena kini banyak anak yang mengkonsumsi makan instans yang rendah gizi.
“Sekarang anak-anak lebih suka makanan dengan pewarna, perasa buatan, dan junk food. Dari hulunya, masyarakat Wonosobo memang sudah berisiko tinggi terhadap penyakit degeneratif,” jelasnya.
Dari data Cek Kesehatan Gratis (CKG) tahun 2025, tercatat 264.046 warga Wonosobo atau sekitar 28,68 persen telah mengikuti pemeriksaan kesehatan.
Hasilnya menunjukkan sejumlah indikator mengkhawatirkan : tekanan darah tinggi mencapai 58 persen, kelebihan berat badan 11,4 persen, obesitas 11 persen, dan perokok 20,6 persen.
Sementara tingkat aktivitas fisik warga tercatat sangat rendah, hanya 1,4 persen dari jumlah penduduk. Maka gerakan olahraga di masyarakat menjadi penting untuk menjaga kesehatan fisik.
“Fisik yang lemah karena kurang gizi dan olahraga menyebabkan warga rentan terhadap berbagai penyakit. Kini kecenderungan penyakit jantung, kanker dan darah tinggi meningkat karena pola makan dan pola hidup yang tidak sehat,” tegasnya.
Muharno Zarka













