blank
SMP Kesatrian 1 Semarang menggelar sosialisasi dan mitigasi bencana gempa bersama BPBD Kota Semarang. Foto: Humas

Para siswa terlihat sangat antusias saat mengikuti simulasi “Drop, Cover, and Hold On”, yaitu teknik dasar menyelamatkan diri saat gempa terjadi. Mereka diajak untuk berlatih berlindung di bawah meja, melindungi kepala, dan menunggu sampai getaran berhenti. Setelah itu, peserta diajarkan cara evakuasi dengan tertib menuju titik kumpul aman di halaman sekolah.

Tim BPBD juga memperagakan cara sederhana memberi pertolongan pertama kepada korban luka ringan, dan memberikan edukasi tentang pentingnya memiliki tas siaga bencana (emergency kit) di rumah.

“Kami senang bisa berbagi ilmu langsung kepada anak-anak. Pendidikan kebencanaan harus dimulai sejak dini agar mereka tumbuh menjadi generasi yang tanggap dan tidak panik saat menghadapi bencana,” ujar Dwi Istanto,SE, salah satu narasumber dari BPBD Kota Semarang.

Simulasi yang Mendidik dan Menghibur

Suasana kegiatan semakin menarik ketika para siswa diajak mengikuti simulasi lapangan secara langsung. Skenario gempa bumi diciptakan secara realistis melalui sirine tanda bahaya dan instruksi evakuasi dari guru piket. Seluruh siswa bergerak cepat menuju area aman sesuai arahan guru dan petugas BPBD.

Tawa dan teriakan kecil bercampur menjadi satu, namun di balik itu semua tampak keseriusan mereka dalam memahami prosedur penyelamatan. Banyak siswa mengaku baru pertama kali mengikuti simulasi kebencanaan seperti ini.

“Awalnya saya agak takut, tapi setelah tahu langkah-langkahnya, ternyata tidak sesulit yang dibayangkan. Sekarang saya jadi tahu apa yang harus dilakukan kalau tiba-tiba ada gempa,” kata Kathina Devi , siswi kelas VIII, sambil tersenyum lega.

Para guru juga ikut berpartisipasi aktif. Mereka mendampingi siswa, memastikan setiap anak mengikuti instruksi dengan benar, sekaligus menjadi contoh dalam penerapan protokol evakuasi.

Menumbuhkan Budaya Siaga Bencana di Sekolah

Kegiatan sosialisasi ini bukan hanya sekadar agenda seremonial, tetapi menjadi bagian penting dari program rintisan SMP Kesatrian 1 Semarang menuju Sekolah Aman Bencana (SPAB). Melalui kolaborasi dengan BPBD Kota Semarang, sekolah berkomitmen membangun budaya kesiapsiagaan yang terintegrasi dalam kehidupan sehari-hari warga sekolah.

Beberapa langkah lanjutan yang akan dilakukan antara lain, menyusun peta jalur evakuasi di setiap kelas dan koridor sekolah, menyediakan titik kumpul aman yang ditandai dengan papan petunjuk yang jelas, membentuk tim siaga sekolah yang terdiri atas guru, petugas keamanan, dan perwakilan siswa, serta melakukan latihan evakuasi rutin minimal dua kali dalam setahun.

“Kami berharap kegiatan ini menjadi awal dari gerakan berkelanjutan. Sekolah harus menjadi tempat yang aman bagi peserta didik, dan kesiapsiagaan harus menjadi budaya, bukan hanya kegiatan sesaat,” tambah Ning Mulyati.