blank
Membawakan Lakon Prabakusuma Labuh, Dalang Anak Respati Listyatmoko dari Giriwoyo, Wonogiri, Jateng, meraih gelar juara pertama di Festival Dalang Anak Nasional 2025.(Dok. Ki Eko Sunarsono)

JAKARTA (SUARABARU.ID) – Lakon Prabakusuma Labuh, mengantarkan Respati Listyatmoko (12), meraih gelar juara pertama Festival Dalang Anak Nasional (FDAN) Tahun 2025. Siswa SMP Pangudi Luhur, Kecamatan Giriwoyo, Kabupaten Wonogiri, ini sekaligus menjadi tulang punggung Kontingen Pepadi (Persatuan Pedalangan Indonesia) Provinsi Jawa Tengah yang berprestasi meraih gelar juara umum.

FDAN digelar Senin sampai Rabu Tanggal 3 sampai dengan 5 Nopember 2025, di Halaman Gedung Pewayangan Kautaman, Kompleks Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta, Diikuti 28 peserta dari 9 provinsi di Indonesia.

Lakon Prabakusuma Labuh dimainkan Respati dalam sajian pakeliran padat. Yakni selama 40 menit, dimulai Pukul 10.10 sampai 10.50. Prabakusuma adalah salah satu putra Janaka-Batari Dewi Supraba, dan menjadi ksatria yang mahir dalam memanah. Mampu membinasakan Raja Antaswara dari Kerajaan Nagri Cempo Dirjo.

Itu terjadi, karena ambisi Antaswara ingin memperistri Batari Dewi Sri. Karena kesaktiannya, Antaswara menjelma jadi ular besar bernama Naga Taksaka. Tapi dapat disirnakan dengan senjata panah oleh Prabakusuma.

Badan Naga Taksaka kemudian berubah jadi lesung (alat untuk menumbuk padi), kakinya jadi alu (ketam), tangan dan bagian anggota badan lainnya berubah jadi cangkul, sabit dan kelengkapan alat bertani.

Kemudian wadya bala prajurit Nagari Cempo Dirjo yang disirnakan oleh Prabakusuma, berubah jadi aneka tanaman pangan, yakni menjadi pala kependhem (beragam ubi-ubian), pala kesimpar (tanaman sayur mayur yang tumbuh menjalar), dan pala gemandhul (buah-buahan).

Putra Dalang

Respati, menyatakan, mulai gemar wayang sejak kecil. Putra Dalang Ki Bagong Yunioko-Sulistyaningsih ini, ikut pasinaon (kursus) pedalangan di Sanggar Seni Atma Wiguna. ”Dilatih oleh Mas Alif (Dalang Ki Alifian Nur Rohman),” tutur Respati sembari menyebutkan serius berlatih mendalang sejak Tahun 2020. Sebelumnya, pernah berlatih menjadi warok (seniman reyog). ”Saya bercita-cita ingin menjadi dalang seperti Bapak (Bagong Yunioko),” kata Respati.

blank
Respati Listyatmoko (kiri) didampingi ayahnya Ki Bagong Yunioko (kanan) saat membeberkan riwayatnya tentang bagaimana berproses menjadi dalang cilik.(Dok.Ki Eko Sunarsono)

Ketua Pepadi Kabupaten Wonogiri, Dalang Ki Eko Sunarsono, menyatakan, tidak mudah untuk meraih gelar juara pertama di event bergengsi FDAN. Sebab event tersebut diikuti oleh 28 dalang dari 9 provinsi di Indonesia. Karena itu, ketika Respati meraih gelar juara pertama, ini merupakan prestasi yang luar biasa dan sangat membanggakan.

Respati yang tampil di urutan ketiga di FDAN, mampu menyajikan kualitas pakeliran yang prima. Gerak anak wayang dimainkan dengan permainan sabet atraktif. Sulukan Respati terdengar elok. Demikian halnya saat memainkan dodokan dan keprakan yang menjadi detak jantungnya pakeliran.

Nada keprak dan dodokan cempolo Respati, tampil mantab dalam membangun suasana tegang mendebarkan di adegan perang. Juga terasa pas dalam nada yang slow, ketika menyajikan adegan pisowanan dan kembali terdengar rancak pada saat budhalan prajurit. Respati tampil piawi saat menyajikan sabet yang atraktif, maupun saat menyampaikan antawacana (percakapan) anak wayang,

Prestasi Respati dan Kontingen Jawa Tengah di tingkat nasional, ikut menandai peringatan Hari Wayang Nasional (HWN) Tanggal 7 Nopember 2025. UNESCO menetapkan wayang sebagai Warisan Budaya Takbenda Kemanusiaan pada Tanggal 7 Nopember 2003.

Lembaga dunia yang menangani bidang pendidikan, ilmu pengetahuan dan budaya tersebut, mengukuhkan wayang sebagai Masterpiece of the Oral and Heritage of Humanity atau warisan maha karya dunia.(Bambang Pur)