blank

Oleh :Dzakiyudin Wafa

Meskipun seharian mendung dan sempat gerimis di sore hari, malam itu cuaca cerah. Sambatan Roso kali ini dihadiri 40-an orang dari berbagai latar belakang.
Tiga orang pemantik diskusi yang hadir malam itu diperkenalkan Agung satu per satu. Mahrus dari Desa Plajan berlatar belakang petani pecinta tanaman dari lereng Muria. Aneka tanaman variegata menghiasi rumahnya yang disebut Omah Grumbul. Pemantik kedua adalah Gunawan Muhammad, seorang dosen UNISNU (Universitas Nahdlatul Ulama) Fakultas Science Tech. Yang ketiga adalah Nur Hamid dari Perhutani, pemangku wilayah hutan di Kecamatan Batealit.

Setelah memberikan narasi pengantar, Agung kemudian mengelaborasi profil para pemantik satu per satu. Dimulai dari Mahrus yang disebut Agung sebagai gurunya dalam bertani sekaligus guru banyak orang. Agung bercerita tentang keseharian Mahrus berbagi bibit tanaman di rumahnya. Setiap orang yang datang di “jagongi” (diajak berbincang) dengan hangat, tanpa memikirkan apakah mereka akan membeli atau tidak. “Wes teko diwenehi tanduran variegata gratis sik disuguhi kopi dan jajanan” begitu seloroh Agung.

blank

Mahrus dengan rendah hati membalas seloroh itu: “Ora, kuwi mung sampeyan liyane do tuku”. Elakan Mahrus itu langsung dijawab oleh Wawan (Sanggar Persing): “Aku yo podo. Ngerampok bibit nang Mahrus kanggo tak dol”.

Inilah esensi ‘Menanam Rasa, Menyemai Asa’. Berkali-kali Mahrus mengatakan tidak punya kemampuan public speaking yang baik. Namun, apa yang dilakukan kesehariannya itu sangat mencerminkan tema malam itu.

Pemantik kedua, Gunawan Muhammad, memaparkan kegiatan lain di luar kampus yang banyak dilakukan sebagai bagian menyalurkan potensi dirinya. Ada GPS (Gerakan Pungut Sampah) Jepara, Bank Sampah desa, dan kelas Bahasa Inggris yang bekerja sama dengan GEC Jepara (Global English Club Jepara).

Gunawan bercerita perjalanan mengenal Maiyah dari mulai kuliah di Yogyakarta (Mocopat Syafaat). S2 di Bandung sering ke Kenduri Cinta Jakarta. Hingga terakhir semasa kerja di Semarang hadir di Gambang Syafaat.

Pemantik ketiga adalah Nur Hamid. Di usianya yang menjelang pensiun, beliau memikirkan bagaimana cara meninggalkan warisan (legacy) bagi generasi berikutnya. Dengan anggaran pribadi, Nur Hamid membenahi basecamp Kemantren (rumah dinasnya) menjadi tempat edukasi tanaman, perikanan, dan Taman Baca Wana Aksara. Beliau mempersilakan siapa saja untuk bisa memanfaatkan kegiatan yang positif di tempat tersebut. Nur Hamid bercerita, selain kedinasan, jiwa pramukanya juga membuatnya bahagia ketika ada komunitas manapun yang mengajaknya.

blank

Wilayah tugas Nur Hamid mencapai luasan 1.836 ha. Dengan luas wilayah itu, Nur Hamid merasa akan berat jika bekerja sendirian, sehingga membutuhkan bantuan dari berbagai pihak/organisasi lain.

Setelah seluruh pemantik memaparkan materinya, Agung kemudian mempersilahkan audiens untuk bertanya/berdiskusi.
Safre Samsudin bersama dua orang temannya yang rata-rata seusia (Gen Z) menamakan diri komunitas Exje Adventure. Safre bercerita tentang kegiatan mereka mencari makam kuno dengan patokan awal tanaman besar yang ada. Hobinya adventure sekaligus membaca alam. Beberapa catatan/jurnal kemudian dibuat berdasarkan perjalanan selama ini. Selain makam, mata air dan air terjun juga menjadi destinasi kunjungan sekaligus riset kecil mereka. Safre datang ikut Sambatan Roso untuk menambah teman seperjalanan.

Seperti Safre Eko dari Plajan juga memiliki harapan yang sama. Mata air yang semakin surut dari hari ke hari, pohon tua yang varietasnya semakin sedikit. Dengan teman-teman SEKBER PAJ (Sekretariat Bersama Pencinta Alam Jepara), ia melakukan upaya penanaman di beberapa titik. Namun, seringkali tanaman tercerabut atau dicabut oleh orang-orang tidak bertanggung jawab tidak lama setelah ditanam. Menambahkan apa yang disampaikan Eko, Plongor (Handoyo) menceritakan bahwa Plajan pernah mempunyai PERDES (Peraturan Desa) bagi siapa yang ingin menikah, diwajibkan untuk menanam minimal 5 tanaman keras. Tapi ketika Kepala Desa berganti, PERDES itu diacuhkan begitu saja.

Kegelisahan tentang mata air yang mengering dan petani yang semakin kehilangan asa menjadi topik yang sangat hangat malam itu. Menyalahkan regulator dan pemangku kebijakan bukanlah sebuah langkah bijak, meskipun hal itu mungkin merupakan fakta. Seperti ajakan yang disampaikan Wawan, “Mari kita mulai dari diri sendiri dan lingkungan terkecil yang bisa kita pengaruhi.”

Pukul 00.10, acara dipuncaki dengan pemutaran nomor ‘Shohibu Baiti’ secara khidmat, dengan lampu yang sebelumnya telah dimatikan.

Setelah acara utama ditutup, terbentuk lingkaran-lingkaran kecil untuk menyambung silaturahmi, hingga membahas teknis strategis untuk kolaborasi gerakan yang akan dilakukan.

Hadepe