blank
Dalam edukasi penanganan kebakaran api kecil, yang digelar di Balai Desa Pokoh Kidul, Kecamatan Wonogiri, Kabupaten Wonogiri, dilakukan praktik pemadaman api kompor yang berkobar.(Dok.Damkar Wonogiri)

WONOGIRI (SUARABARU.ID) – Jangan bertindak sembrono dan meremehkan api kecil. Sebab, sumber nyala api yang tidak segera dipadamkan, kendatipun awalnya hanya sebagai api kecil, dapat berpotensi menjadi pemicu terjadinya musibah kebakaran dalam skala besar.

Demikian ditegaskan Koordinator Lapangan (Korlap) Pemadam Kebakaran (Damkar) Pemkab Wonogiri, Sriyanto Kembo, saat memimpin Tim Fighter Fire melakukan edukasi penanganan kebakaran di Balai Desa Pokoh Kidul, Kecamatan Wonogiri Kota, Kabupaten Wonogiri.

Edukasi pencegahan dan penanganan kebakaran, dilaksanakan Kamis (30/10/25). Kegiatan ini, diikuti oleh para Anggota Satuan Perlindungan Masyarakat (Satlinmas) dan perangkat desa, tokoh wanita dan pemuda. Ikut hadir Kepala Desa (Kades) Pokoh Kidul, Wuryatno.

Sembrono, artinya tindakan kurang berhati-hati, tidak cermat dalam melakukan sesuatu. Yakni perbuatan yang cenderung melakukan sesuatu dengan asal-asalan dan kurang teliti, yang mendorong ke perbuatan ceroboh dan sembarangan.

Materi edukasi yang diberikan kali ini, fokus pada teknik pemadaman api ringan. Yakni memakai cara manual dengan sarana karung goni basah, dan menggunakan tabung Alat Pemadam Api Ringan (APAR).

Kepada peserta, diberikan pemahaman tentang syarat utama api bisa menyala, yang dikenal sebagai teori tetrahedron api. Teori ini mengajarkan, bila salah satu dari unsurnya dihilangkan, maka nyala api akan padam.

Segitiga Api

Yang dimaksud syarat pada teori tetrahedron, Pertama adalah adanya bahan bakar (zat apa pun yang dapat terbakar, seperti kayu, kertas, gas, atau bensin). Kedua, ada Oksigen (O2) atau gas yang dibutuhkan untuk mendukung proses pembakaran. Ketiga, adanya unsur panas.

Sebelum teori tetrahedron diperkenalkan, ada pemahaman yang lebih sederhana yang disebut Segitiga Api. Ini mencakup tiga elemen, yakni bahan bakar, oksigen dan panas. Bila salah satu syarat tersebut diputuskan, maka nyala api menjadi padam.

Dipahamkan pula mengenai sifat api, yakni pantang padam sebelum semuanya ludes jadi abu. Dengan memahami sifat api dan cara penanganan api awal, diharapkan dapat menjadi bekal dan menjadi kunci sukses dalam penanggulangan kebakaran.

Pemahaman ini, perlu dimiliki oleh pihak-pihak yang berposisi di ring satu, yaitu ibu-ibu yang bekerja di dapur, pemilik rumah, pemilik toko atau warung. Sebab dalam mekanisme pemadaman api, bantuan Damkar, berada pada ring tiga, setelah bantuan warga sekitar yang berposisi di ring dua kewalahan.

Setelah sesi teori diberikan, kemudian dilanjutkan dengan bimbingan teknik penanganan kebakaran, yang dirangkai dengan praktik pemadaman api. Baik memakai cara manual dan menggunakan tabung APAR (Alat Pemadan Api Ringan).

Dalam skenario praktik pemadaman api, diperagakan api kompor mendadak berkobar. Bila menemukan kasus kompor berkobar, cepat cabut selang dari tabung gas. Atau lakukan pemadaman dengan cara menutup nyala api memakai karung goni basah.

Setelah beberapa kali diberikan contoh, giliran peserta diberikan kesempatan untuk berpraktik. ”Lho kok masih nyala ?,” ujar salah seorang peserta. Itu terjadi, karena tidak sepenuhnya karung goni basah menutup rapat nyala api. Ketika diulang lagi, api pun langsung padam.(Bambang Pur)