blank
KH. Muhammad Farid Abbad yang akrab disapa Gus Farid Abbad saat menyampaikan paparannya dalam Dialog Suluk Peradaban #1. Foto: Kang Brodin

JEPARA (SUARABARU.ID) – Perlu langkah bersama untuk kembali ke akar budaya yang diwariskan oleh leluhur hingga masyarakat mampu melompat cepat menghadapi krisis dan realitas karut marut persoalan kebangsaan.

Karena itu diperlukan politic will yang kuat di semua jenjang pemerintahan, pengajaran sejarah yang mencerahkan serta membangun benteng yang kokoh untuk  menghadapi pengaruh media sosial yang mampu membentuk kebenaran baru bukan atas dasar norma dan nilai, tetapi hanya berdasarkan persepsi yang sebagian terbentuk  framing para buser.

Hal tersebut mengemuka dalam  Dialog Suluk Peradaban Jepara # 1 yang mengangkat tema “Noto Jiwo, Mbangun Budhoyo” yang berlangsung di Joglo Astana Parasima, Desa Blingoh, Kecamatan Donorojo, Jepara Minggu (20/10-2025). Acara ini diprakarsai oleh pembina Astana Parasima, H. Udin.

blank
Hadi Priyanto. pegiat budaya dan penulis Jepara bersama Pdt Joko Setyo, Gus Farid Abbad dan Totok Harmanto. Foto: Kang Brodin

Acara yang dipandu oleh Sutrisno Kang Pete ini menghadirkan narasumber Gus Farid Abbad dari Kajen Pati, Pendeta Joko Setyo dari GITJ Betlehem Blingoh,  Totok Harmanto tokoh muda Hindu dari Plajan, Kecamatan Pakis Aji Jepara serta Hadi Priyanto, penulis dan pegiat budaya Jepara. Hadir juga budayawan Jepara Fakrudin yang akrab disapa Kang Brodin.

“Kita mulai dari Jepara karena senyatanya kota yang terletak di ujung utara pulau Jawa ini adalah salah satu pusat peradaban yang seharusnya  memiliki peradaban yang kuat, warisan para leluhur Jepara,” ujar H. Udin.

blank
Budayawan Jepara Fakrudin saat memberikan tanggapan. Foto: Hadepe

Sementara Sutrisno yang akrab di sapa Kang Pete mengungkapkan, langkah kecil untuk kembali berkiblat pada budaya bangsa, ini harus didukung bersama dan tidak boleh berhenti.

Hal senada juga disampaikan oleh Pendeta Joko Setyo. “Saya memberikan apresiasi dan menyambut hangat   Dialog Suluk Peradaban Jepara yang diselenggarakan  di Joglo Astana Parasima, Desa Blingoh. Ini ikhtiar untuk kembali menjadikan budaya sebagai arah dan modal  dalam membangun bangsa yang majemuk,” tegasnya.

blank
Narasumber bersama H. Udin dan moderator Sutrisno Kang Pete. Foto: Kang Brodin

Pernyataan Joko Setyo ini juga didukung oleh generasi muda Hindu, Totok Harmanto. “ Jujur saya ingin belajar peradaban yang berbasis pada budaya luhur bangsa,” ujarnya

Sedangkan KH. Muhammad Farid Abbad  yang akrab disapa Gus Farid Abbad, pengasuh pesantren Al-Raudloh Kajen, Pati yang juga dikenal sebagai tokoh pemberdayaan masyarakat desa ini mengungkapkan,  tertarik memulai kegiatan ini dari Jepara bukan saja karena Ibundanya berasal dari Jepara, tetapi Jepara dikenal pada masa lalu sebagai pusat peradaban yang bukan hanya memiliki pengaruh besar dalam syiar Islam, tetapi juga sosial, ekonomi dan politik.

“Jepara memiliki tokoh besar mulai Ratu Shima, Ratu Kalinyamat, Kyai Sholeh Darat, R.A. Kartini, RMP Sosrokartono yang tentu mewariskan nilai dan keteladanan yang masih relevan hingga saat ini. Sayang jika kemudian nilai luhur itu terkikis  oleh arus modernisasi dan nilai-nilai baru dan semakin dilupakan oleh masyarakat,” ungkap Farid Abbad yang kini juga menekuni  Antroplogi.

blank
Wawan, tokoh muda dari Tulakan yang menyoroti minimnya pengajaran sejarah dan budaya lokal, Foto: Hadepe

“Karena itu saat kita menghadapi krisis  multi dimensi hingga generasi muda kehilangan arah sebab semakin tidak mengenal akar budaya, mereka gampang terkontaminasi nilai peradaban lain. Karena itu perlu politic will  pemerintah yang kuat  dalam pelestarian budaya untuk mengembalikan ruh budaya yang kian hilang. Salah satunya adalah melalu pengajaran nilai sejarah dan budaya di semua jenjang pendidikan,” ungkap Gus Farid Abbad.

Sejarah menurut Gus Farid Abbad,  mestinya tidak hanya mengajarkan nama tokoh dan tanggal lahirnya, tetapi gagasan dan labuh labetnya dalam menjawab persoalan riil  di tengah-tengah bangsa itu yang penting. “Dengan demikian kita, generasi muda dan anak-anak dapat  belajar dari para leluhur,” paparnya

blank
Bersama putra almarhum Gus Umar Fayumi . Foto: Kang Brodin

Hadi Priyanto yang dikenal sebagai penulis buku dan pegiat budaya Jepara mengungkapkan pentingnya mengembangkan literasi sejarah budaya. “Jika tidak ditulis, maka nilai-nilai luhur itu  akan semakin hilang dan tidak lagi dikenal oleh pewaris,” ujarnya. Namun menulis  saja tidak cukup karena harus disertai dengan gerakan cinta membaca yang saat ini berada pada titik yang sangat rendah, tambahnya

Karena itu lembaga pendidikan, perpustakan termasuk perpustakaan desa, dan pemerintah harus mampu menghidupkan perpustakaan yang dimiliki dengan  buku-buku tentang budaya dan sejarah daerah.

“Oleh sebab itu diperlukan politic will pemerintah yang sungguh-sungguh dan tidak sekedar retorika,” ujar budayawan Jepara Fakrudin. Ini sangat perlu karena desain kurikulum saat ini tidak memberikan ruang yang cukup bagi pewarisan sejarah dan budaya lokal, pungkasnya.

Sementara Wawan, tokok muda dari Tulakan menyoroti minimnya pengajaran dan buku yang berisi tentang budaya dan sejarah lokal.

Hadepe