Oleh: Dr. Muh Khamdan
JEPARA (SUARABARU.ID)- Jepara kembali menorehkan sejarah dalam lanskap kebudayaan nasional. Enam warisan budayanya lolos sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTb) Indonesia 2025. Keenamnya adalah horog-horog, batik Jepara, bandeng serani, ukir kaligrafi Jepara, memeden gadhu, dan baratan Kalinyamatan. Pengakuan ini bukan sekadar formalitas administratif, melainkan afirmasi bahwa Jepara tetap menjadi kota yang hidup dalam denyut tradisi, kreativitas, dan spiritualitas yang tak pernah padam.
Keputusan ini sebagai bukti bahwa Jepara memiliki identitas budaya yang majemuk namun saling berkelindan. Dari kuliner, tekstil, seni rupa, hingga ritual sosial, Jepara menampilkan panorama budaya yang menyatu antara laut, tanah, dan manusia. Warisan ini tidak hanya menjadi milik masyarakat Jepara, melainkan juga menjadi bagian dari identitas kebudayaan Indonesia yang kaya dan berlapis.
Horog-horog, misalnya, adalah wujud sederhana dari kecerdasan kuliner masyarakat pesisir. Terbuat dari tepung sagu yang dikukus dalam wadah bambu, horog-horog menjadi simbol adaptasi ekologis. Masyarakat pesisir Jepara memanfaatkan sumber daya alam lokal tanpa bergantung pada gandum impor. Dalam setiap butir horog-horog tersimpan pesan kemandirian dan kelestarian.
Batik Jepara, di sisi lain, mengandung filosofi estetik yang berbeda dari daerah lain. Motifnya halus, namun sarat makna spiritual dan kosmologis. Sejak masa Ratu Kalinyamat, batik menjadi medium ekspresi perlawanan, keanggunan, dan kebangsawanan. Kini, batik Jepara bukan hanya kain, tetapi juga simbol keuletan perempuan Jepara yang terus menenun eksistensi budaya di tengah modernitas.
Bandeng serani memperlihatkan hubungan erat antara budaya pesisir dan kearifan kuliner. Masakan ini tidak sekadar resep, tetapi juga narasi tentang harmoni rasa antara laut dan darat. Ikan bandeng dibumbui dengan rempah khas pesisir, mencerminkan kemampuan masyarakat Jepara memadukan rasa asin laut dengan kehangatan rempah tropis. Ia adalah simbol kesederhanaan yang berkelas.
Sementara itu, ukir kaligrafi Jepara merepresentasikan dialog antara spiritualitas Islam dan keindahan seni ukir. Jepara telah lama dikenal sebagai kota ukir dunia, tetapi kaligrafi memperlihatkan dimensi yang lebih dalam, yakni seni sebagai wujud dzikir. Setiap guratan pahat mengandung nilai teologis sekaligus filosofi estetik yang menunjukkan hubungan harmonis antara tangan manusia dan ilham ketuhanan.
Memeden gadhu, tradisi yang unik dan penuh simbol, menjadi refleksi terhadap kehidupan agraris masyarakat Jepara. Sosok memeden atau boneka sawah yang menyerupai manusia, tidak sekadar untuk menakuti burung, tetapi juga mengandung nilai ritual, meliputi doa atas panen, simbol penjaga lahan, dan bentuk penghormatan terhadap alam. Dalam pandangan antropologi ekologi, memeden gadhu adalah representasi manusia yang berdialog dengan lingkungan.
Dan terakhir, baratan Kalinyamatan, sebuah tradisi yang sarat nilai spiritual dan sosial atas kisah Ratu Kalinyamat dan Sultan Hadirin. Baratan bukan hanya pawai lentera atau perayaan religius menjelang Ramadan. Ia merupakan arena rekonsiliasi sosial, tempat warga berkumpul tanpa sekat, merayakan kebersamaan dalam harmoni. Jepara melalui baratan menunjukkan bahwa kebudayaan dapat menjadi perekat, bukan pemisah.
Pengakuan keenam warisan ini sebagai WBTb Indonesia bukan hanya soal prestise, melainkan juga tentang tanggung jawab. Pemerintah daerah, pelaku budaya, dan masyarakat Jepara kini memikul amanah untuk menjaga kesinambungan tradisi. Pelestarian bukan berarti membekukan tradisi, tetapi memastikan bahwa tradisi tetap hidup, adaptif, dan relevan bagi generasi baru.
Dari sisi ekonomi, pengakuan ini membuka ruang besar bagi penguatan UMKM berbasis budaya. Produk seperti horog-horog dan bandeng serani memiliki potensi untuk dikembangkan dalam industri kuliner kreatif. Dengan strategi branding yang tepat, keduanya bisa menjadi ikon gastronomi Jepara, layaknya rendang bagi Sumatera Barat atau gudeg bagi Yogyakarta.
Demikian pula, batik dan ukir kaligrafi Jepara dapat memperluas pasar seni dan fesyen global. UNESCO dan lembaga internasional lain telah menunjukkan bagaimana warisan budaya dapat menjadi pendorong ekonomi kreatif yang berkelanjutan. Dengan ekosistem yang mendukung, Jepara bisa menjadi laboratorium ekonomi budaya yang menggabungkan nilai tradisi dan inovasi.
Konteks pariwisata juga menemukan momentumnya. Baratan Kalinyamatan dan festival budaya lain dapat dikemas menjadi atraksi wisata tahunan yang menarik wisatawan domestik maupun mancanegara. Pariwisata berbasis budaya bukan hanya menawarkan tontonan, tetapi juga pengalaman otentik yang membangun empati dan pemahaman lintas budaya.
Namun, keberhasilan ini menuntut keseriusan lintas sektor, baik pendidikan, kebudayaan, ekonomi, dan pariwisata harus bersinergi. Jepara memerlukan kebijakan kebudayaan yang terarah, berbasis riset antropologis, dan melibatkan komunitas lokal sebagai subjek, bukan objek. Budaya tidak bisa dikelola dengan logika proyek, tetapi dengan semangat pewarisan.
Akhirnya, enam WBTb asal Jepara ini adalah cermin dari jati diri bangsa yang menghargai akar tradisi. Di tengah dunia yang serba cepat, Jepara memberi pelajaran bahwa modernitas tidak harus menghapus kearifan lokal. Sebaliknya, dari horog-horog hingga baratan, Jepara menunjukkan bahwa budaya adalah kekuatan yang menyatukan, menghidupi, dan menginspirasi masa depan Indonesia.
Dr. Muh Khamdan, Doktor Studi Perdamaian UIN Jakarta; Analis Kebijakan Publik













