blank
Rektor Intiyas bersama Miranti Serad Ginanjar dan Santhi Serad berkeliling stan inovasi fakultas seusai talkshow bertajuk “Kebaya dan Kuliner Nusantara” pada Rabu (08-10-2025). Foto: Humas UKSW

Selain itu, Himpunan Mahasiswa dan Pelajar Papua Barat (HIMPPAR) menyajikan Barapen yang sehat dan unik, serta makanan khas lain dari etnis Karo, Lampung, dan Padang seperti Karo Cimpa, Sengkanaung, Kemplang, dan Patin. Sajian ini menguatkan kebersamaan sekaligus melestarikan keberagaman kuliner nusantara.

Acara ini dihadiri oleh berbagai unsur masyarakat mulai dari Rektor UKSW, Ketua TP PKK Kota Salatiga, Ketua Persit Kota Salatiga, ibu-ibu Bhayangkari, PKK, Dasawisma, serta tokoh masyarakat seperti Ketua RT, RW, dan Lurah. Kehadiran berbagai pihak ini mengokohkan sinergi kolaboratif dalam upaya menumbuhkan cinta dan pelestarian kebaya serta kuliner nusantara.

Menyatukan Generasi

Peserta talkshow memberikan tanggapan positif terhadap kegiatan tersebut. Nanik Sriwahyuni Widodo dari Gabungan Organisasi Wanita Salatiga menyatakan, “Acara ini bagus karena perempuan Salatiga sangat membutuhkan masukan dalam menggunakan kebaya sesuai pakem agar tidak salah kaprah.” Ia juga berpesan kepada anak muda agar menerapkan penggunaan kebaya di setiap acara untuk melestarikan budaya. Titik Ketut dan Tatik Edhi dari PKK RT 4 RW 11 Kemiri 1 Salatiga mengingatkan pentingnya menjaga dan melestarikan budaya nusantara.

Anjeli, mahasiswa Fiskom UKSW angkatan 2023, mengatakan, talkshow memberikan banyak pengetahuan tidak hanya tentang batik, tetapi juga ornamen nusantara lainnya.

Mahasiswa lainnya, Immanuela, anggota Etnis HIMPPAR UKSW, mengatakan bahwa melalui makanan khas mereka ingin memperkenalkan nilai kebersamaan dan gotong royong yang tergambar dalam proses pembuatannya.

Penyelenggaraan talkshow kebaya dan kuliner nusantara dalam GIHN 2025 di UKSW menjadi wujud nyata komitmen perguruan tinggi dalam mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya SDG 4 pendidikan berkualitas, SDG 9 industri, inovasi, dan infrastruktur, SDG 11 kota dan komunikasi berkelanjutan, serta SDG 17 kemitraan untuk mencapai tujuan.

Kegiatan ini juga sejalan dengan Asta Cita Presiden, terutama nomor 2 dalam penguatan riset dan hilirisasi inovasi, nomor 4 pembangunan SDM unggul, serta nomor 6 mendorong ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan.

Sebagai Perguruan Tinggi Swasta (PTS) terakreditasi Unggul, UKSW telah berdiri sejak 1956 dengan 15 fakultas dan 65 program studi di jenjang D3 hingga S3, dengan 34 Prodi Unggul dan A. Terletak di Salatiga, UKSW dikenal dengan julukan Kampus Indonesia Mini, mencerminkan keragaman mahasiswanya yang berasal dari berbagai daerah. Selain itu, UKSW juga dikenal sebagai “Creative Minority” yang berperan sebagai agen perubahan dan inspirasi bagi masyarakat.

R. Widiyartono