KUDUS (SUARABARU.ID) – Dalam sepekan terakhir, harga telur ayam di sejumlah pasar tradisional Kabupaten Kudus mengalami lonjakan cukup tajam. Jika sebelumnya dijual sekitar Rp26 ribu per kilogram, kini harga eceran menembus Rp30 ribu hingga Rp32 ribu per kilogram.
Kenaikan harga ini diperkirakan dipicu oleh meningkatnya kebutuhan pasokan telur untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang tengah dijalankan pemerintah, serta naiknya harga pakan ternak ayam di tingkat peternak.
Pantauan di lapangan menunjukkan, di sejumlah pasar seperti Pasar Baru dan Pasar Bitingan Kudus, harga telur yang biasanya stabil di kisaran Rp26–27 ribu kini melambung hingga Rp32 ribu per kilogram.
Salah satu pedagang di Pasar Baru Kudus, Muslikah, menuturkan bahwa kenaikan tersebut dipengaruhi oleh dua hal utama, yaitu meningkatnya kebutuhan untuk pasokan MBG dan mahalnya harga pakan ayam.
“Harga telur naik karena biaya pakan ikut naik dan sebagian stok langsung dikirim ke dapur program Makan Bergizi Gratis. Akibatnya, pasokan di pasar menjadi berkurang,” jelasnya, Sabtu (11/10/2025).
Ia menambahkan, akibat kenaikan harga, sejumlah pelanggan mulai mengurangi pembelian. Selain itu, distribusi telur dari pemasok juga sempat tersendat.
“Beberapa hari ini pengiriman agak terlambat, tapi stok di pasar masih tersedia, hanya saja tidak sebanyak biasanya,” ujarnya.
Sementara itu, Ana (45), salah satu pembeli, mengaku tetap membeli telur meski harganya naik cukup tinggi.
“Sekarang harganya sampai Rp32 ribu per kilo, padahal dulu masih di bawah Rp30 ribu. Tapi karena kebutuhan rumah tangga, mau tidak mau tetap beli,” tuturnya.
Ia berharap harga telur bisa segera stabil kembali agar masyarakat tidak terbebani.
“Biasanya saya beli Rp26 sampai Rp27 ribu, sekarang naiknya lumayan terasa. Mudah-mudahan segera turun lagi,” harapnya.
Ali Bustomi













