SEMARANG (SUARABARU.ID) – Sampai saat ini plastik masih merupakan benda yang diminati orang untuk mengemas barang. Itu lantaran, plastik selain relatif lentur juga mampu melindungi barang dari air. Hal demikian menjadikan plastik sebagai bahan yang sangat diminati untuk pengemasan/packaging. Dampaknya jumlah plastik bekas juga semakin banyak seiring bertambahnya kebutuhan dan jumlah manusia.
Trainer Global Ecobrick Alliance (GEA) Dra. Eko Gustini Wardani Pramukawati menyatakan, terkait hal tersebut kita semua harus bertanggung jawab terhadap sisa-sisa plastik, khususnya yang dikonsumsi masing-masing pribadi, seperti plastik bungkus kemasan, dll.
“Kita bisa membuat ecobrick, bata yang berasal dari dari sisa-sisa plastik menjadi salah satu solusi agar plastik tidak mencemari bumi,” kata Eko Pramukawati dalam acara “Bimbingan Pembuatan Ecobrick” yang diselenggarakan RT 02 RW 16 Perum Bukit Beringin Asri, Tambakaji Ngaliyan Kota Semarang baru-baru ini.
Kering dan Bersih
Menurut Eko Pramukawati, plastik sebagai bahan ecobrick harus dipastikan dalam keadaan kering dan bersih, kemudian digunting/dipotong kecil-kecil. Penggunaan sisa-sisa plastik yang kering dan bersih akan meminimalisir timbulnya gas metan.
“Meski tampaknya sepele, namun saat pembuatan ecobrick dari plastik basah dan kotor, maka dikhawatirkan bisa menimbulkan gas metan yang tentu saja membahayakan, terutama saat dibuka tutup botol ecobrick-nya,” kata Eko.
Semakin kecil potongan plastik, maka semakin memudahkan untuk memampatkannya. Kolaborasi dengan sobekan plastik lembut, seperti tas kresek juga akan mempermudah dalam memampatkannya.
Itu lantaran ecobrick memiliki aturan berat yang harus ditaati, yaitu minimal 0,33 volume botol. Memampatkan ecobrick perlu dengan “rasa”. Memampatkan secara kasar apalagi dengan tongkat yang kurang berstandar, kadang bisa membuat botol plastik sebagai tempat sisa-sisa plastik menjadi sobek.
Jika itu terjadi, maka ecobrick gagal tersebut tidak bisa dirangkai sebagai bahan bangunan dalam ruang, baik untuk dijadikan bangku atau meja.
Anggota Korps Pelatih Pusdiklatcab Cakrabaswara Kota Semarang tersebut menambahkan bahwa terkait warna dasar ecobrick yang akhirnya menjadi warna depan bangku/dingklik dan berbagai rangkaian lain seperti meja, tergantung dari keinginan pembuat/ecobricker. Kalau misalnya ingin bangku/meja ecobrick berwarna hijau, maka plastic yang menjadi bahan dasar ecobrick juga mencari yang berwarna hijau. Hal demikian akan menambah nilai artistik dari ecobrick.
Meski kegiatan berlangsung sampai siang, namun mengingat jumlah ecobrick yang dihasilkan belum memenuhi jumlah standar untuk membuat bangunan berbentuk hexagon dan triangle, maka pembuatan ecobrick diteruskan di rumah masing-masing warga.
“Kelak saat jumlah ecobrick sudah sesuai memenuhi kebutuhan, kami akan mengundang Bu Eko lagi untuk ngajari merangkainya”, tutur Ketua RT.02 RW.16 Tambakaji, Ngaliyan Kota Semarang, Ragil Sasongko.
Ekprams













