blank
Sesi diskusi oleh Prof. Nyarwi Ahmad, Ph.D dan Agus Sudibyo di acara Diskoma edisi ke- 24. Foto: Humas

YOGYAKARTA (SUARABARU.ID) – Magister Ilmu Komunikasi Universitas Gadjah Mada (UGM) menggelar Diskusi Komunikasi Mahasiswa (Diskoma) edisi ke-24 bertajuk #IndonesiaBerbenah: dari Retorika Arogansi Menuju Retorika Urgensi, baru-baru ini.

Kegiatan ini diselenggarakan melalui platform Zoom Meeting dan disiarkan langsung di kanal YouTube Departemen Ilmu Komunikasi UGM dengan menghadirkan dua narasumber, Dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (Fisipol) UGM, Prof. Nyarwi Ahmad, Ph.D. dan Praktisi Komunikasi Publik, Agus Sudibyo.

Menurut Ketua Program Studi Magister Ilmu Komunikasi UGM, Dr. Rahayu, M.Si., M.A, Diskoma sudah menyediakan tema yang menarik. Hal ini sebagai upaya untuk membangun makna bersama tentang retorika para pemimpin saat ini.

blank
Peserta Diskoma edisi ke- 24 yang hadir melalui platform zoom meeting. Foto: Humas

Ia berharap dengan retorika pemimpin yang lebih baik, membuka ruang agar lebih terbuka dalam menyampaikan aspirasi masyarakat. “Mari diskusikan bagaimana cara terbaik agar para pemimpin dapat melayani publik sebaik mungkin, salah satunya dengan cara berkomunikasi yang lebih baik,” ujarnya.

Pada sesi pemaparan Prof. Nyarwi menyampaikan tentang minimnya empati pemimpin dalam memainkan seni retorika. Ia mengungkapkan bahwa ucapan para pemimpin sering kali tidak tepat sasaran. Adanya retorika arogansi ini, kualitas diskusi publik akan mengalami penurunan.

“Sebenarnya ini tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga menjadi trend dari berbagai belahan dunia, terutama di negara yang dipimpin oleh gaya retorika populis bahwa tidak ada demokrasi yang berkembang dengan baik tanpa komunikasi yang baik. Sehingga banyak jadi blunder,” ucap Prof. Nyarwi.

Ia menegaskan bahwa para elit kerap tidak mampu membedakan antara persuasi dan pemaksaan dalam komunikasi publik. Menurut Prof. Nyarwi, persuasi dalam komunikasi publik seharusnya dilakukan dengan pendekatan argumentatif, melalui pendapat dan data untuk mengubah sikap secara demokratis.

Sebaliknya, pemaksaan justru dilakukan dengan cara yang tidak demokratis dan sering kali mengarah pada kekerasan verbal. Ia mencontohkan kritik publik yang disampaikan kepada pemerintah terkait kurang berhasilnya penciptaan lapangan kerja. Kritik tersebut justru dibalas dengan respons berupa tagar #KaburAjaDulu.

Baginya, ini bukan diskusi, melainkan wujud dari retorika arogansi. “Keduanya berbeda. Persuasi dilakukan dengan pendekatan melalui argumen, pendapat, dan data untuk mengubah sikap. Sementara itu, pemaksaan justru menggunakan cara yang tidak demokratis, bahkan mengarah pada kekerasan verbal,” tegasnya.

Sementara itu Agus Sudibyo yang mengungkap tentang retorika pemimpin yang saat ini dipengaruhi oleh perkembangan teknologi mengatakan bahwa transformasi digital mengubah landscape media sehingga terjadi perpindahan media lama ke media baru.