Oleh: Amir Machmud NS
// hari penghakiman/ akan tiba saatnya/ itukah laga melawan Arab Saudi dan Irak?/ lolos langsung ke Piala Dunia/ atau harus lewat babak kelima/ akan tercetak sejarah/ atau sepak bola kita kembali ke habitat…//
(Sajak “Perjalanan Timnas”, 2025)
LAGA FIFA matchday melawan Taiwan dan Lebanon di Gelora Bung Tomo Surabaya beberapa hari lalu, menjadi gambaran kira-kira seperti apa penampilan tim nasional Indonesia menghadapi babak keempat kualifikasi Piala Dunia 2026 melawan Irak dan Arab Saudi, bulan depan.
Pelatih Patrick Kluivert tak punya simulasi laga lagi, selain menganalisis plus-minus performa Jay Idzes dkk dari dua pertandingan tersebut, yang berakhir dengan kemenangan 6-0 dan 0-0. Ada dua hal yang secara menonjol tersajikan, yakni produktivitas di partai pertama, dan ketidakmampuan mencetak gol di partai kedua.
Dan, yang paling patut menjadi analog adalah partai kedua, karena sebagai sesama tim Timur Tengah, Lebanon punya gaya dan karakter yang mirip dengan dua calon lawan di babak keempat kualifikasi Piala Dunia.
Sentuhan Kluivert
Kalau kita cermati, Patrick Kluivert benar-benar memperlihatkan sentuhannya di dua laga FIFA matchday itu. Di empat laga sebelumnya, mantan striker legendaris Ajax dan Barcelona itu belum banyak mengubah taktik warisan Shin Tae-yong. Timnas kalah 1-5 dari Australia ketika Kluivert mengawali tugas dan mencoba menerapkan filosofi permainannya. Ketika melawan Bahrain, China, dan Jepang dalam lanjutan babak kualifikasi, dia tetap menghadirkan skema 3-4-3.
Baru dalam FFA matchday beberapa waktu lalu, dia menerapokan skema 4-4-2. Bahkan merombak pemain. Apalagi hadir dua pemain naturalisasi baru yang menjanjikan, Mauro Zilstra dan Miliano Jonathans. Kluivert mereposisi sejumlah pemain dengan peran baru.
Kita simak Calvin Verdonk, yang kini dimainkan sebagai gelandang. Biasanya, pemain Lille ini menjadi fullback atau bek sayap dan bek tengah. Kini dia dikolaborasikan dengan Joey Pelupessy. Verdonk — dengan skill, visi, kekuatan, kecepatan, dan umpan akurat –. dipoles menjadi inverted fullback untuk memperkuat ini tengah. Karakter bermain yang dipopulerkan oleh Pep Guardiola di Barcelona itu, tampak diperankan oleh Verdonk tanpa canggung.
Perubahan lain, Nathan Tjoe-A-On diperankan sebagai ball winner yang hadir di berbagai sisi permainan, ada di mana-mana. Dia bertugas mencegat bola, mengintersep, dan mengontrol permainan ketika bola mendekat ke wilayah pertahanan Merah-Putih.
Kembalinya Nathan dengan peran baru, memberi harapan di kualifikasi nanti. Kini Kluivert masih harus memoles lini depan, yang buntu saat berhadapan dengan Lebanon. Kini harapan baru dihadirkan lewat kecepatan Emilio Jonathan, setelah Ole Romeny harus beristirahat karena cedera.
Hasil 0-0 melawan Lebanon padahal timnas memegang kendali permainan, perlu segera ditemukan solusinya. Kemenangan 6-0 dalam laga pertama tidak bisa dijadikan ukuran untuk proyeksi menghadapi Irak dan Arab Saudi, karena bagaimanapun Indonesia memang lebih baik dari Taiwan.
Peran “Prof Haye”
Dari laga melawan Taiwan dan Lebanon, terlihat jelas konsistensi performa Jordi Amat, Nathan Tjoe-A-On, dan Shayne Pattynama. Ini tentu berkat menit bermain di klub yang cukup. Pada bagian lain, kita melihat penurunan performa dua pemain yang sebenarnya diharapkan menjadi kunci: Thom Haye dan Marselino Ferdinan.
Agaknya, Kluivert bisa mencoba Ricky Kambuaya untuk memainkan peran Marselino. Pemain Dewa United ini memberi harapan untuk mengisi gelandang yang bisa beroperasi ke sayap yang selama ini diperankan oleh Marselino. Di Oxford United, Marselino tidak cukup mendapat menit bermain, bahkan kini dipinjamkan ke klub Slovakia, AS Trencin. Kondisi ini sangat memengaruhi performanya di timnas.
Thom Haye, “Sang Profesor” yang selama ini menjadi andalan sebagai pengatur permainan, seperti kehilangan sentuhan dalam laga melawan Taiwan dan Lebanon. Boleh jadi karena selama beberapa bulan dia tidak bermain karena baru saja mendapatan klub. Belum ada sosok pengganti dengan kemampuan yang setara. Kita berharap, menit bermain di Persib bisa membantu untuk memulihkan ketajaman intuisi pengaturan serangan dan reaksinya.
Untuk sektor belakang, yang akan menentukan siapa pilihan Kluivert kiranya hanya faktor kebugaran. Di jantung pertahanan, dia bisa fleksibel memilih: Jordi Amat-Rizky Ridho, Jay Idzes-Jordi Amat, Jay Idzes-Rizky Ridho, atau Jay Idzes-Justin Hubner.
Di bawah mistar, ada dua benteng yang sama-sama tangguhnya: Emil Audero Mulyadi, atau Martin Paes. Keputusan siapa yang akan diturunkan tinggal menimbang siapa yang lebih bugar.
Kehilangan Tempat
Konsekuensi persaingan menyebabkan banyak pemain produk lokal yang kehilangan tempat di timnas. Selain karena arus deras pemain diaspora, juga masalah menit bermain, persaingan kualitas, dan kebutuhan taktis pelatih.
Nama-nama yang pada era STY menjadi langganan timnas, sekarang benar-benar tidak pernah mendapatkan panggilan. Dari Asnawi Mangkualam (Port FC), yang notabene eks kapten sebelum Jay Idzes, lalu Pratama Arhan (Bangkok United), Witan Sulaiman (Persija), Ernando Ari (Persebaya), juga Elkan Baggot (Ipwich Town), dan Saddil Ramdani (Persib).
Apakah masih ada peluang bagi mereka untuk kembali?
Nyatanya, Marc Klok (Persib) yang tak pernah lagi dipanggil di era STY, membuktikan tampil bagus saat memperkuat timnas di FIFA matchday. Dia menjadi salah satu alternatif yang bisa memperkuat kedalaman skuad Kluivert di sektor gelandang bertahan.
Dalam sisa waktu sekitar satu bulan, Kluvert harus menyimulasikan tim terkuat menjelang babak keempat Pra-Piala Dunia. Pertaruhan masa depannya di Indonesia, yang utama tentu dipertimbangkan dari hasil yang dibawa dari laga tersebut.
Baru saja timnas U23 racikan Gerard Vanenburg gagal lolos ke Piala Asia U23, padahal tahun lalu, di putarann final Indonesia bisa lolos hingga semifinal. Tentu kita berharap, dengan sejumlah penyegaran yang dilakukan, skuad Kluivert menorehkan jalan yang berbeda…
— Amir Machmud NS, Wartawan Suarabaru.Id dan Ketua PWI Provinsi Jawa Tengah —













