KUDUS (SUARABARU.ID) – Warga Rumah Khalwat Balai Budaya Rejosari Kudus dan warga sekitar kembali memadati Halaman Rumah Khuldi RKBBR. Setelah sebelumnya hadir Inayah Wahid, Den Hasan dan para tokoh lain pada tahun-tahun sebelumnya. Mereka kembali mengikuti tradisi tahunan “Ngangsu Banyu 2025” yang digelar pada Sabtu pagi 30 Agustus 2025.
Acara yang menjadi simbol pelestarian budaya dan kearifan lokal ini berlangsung meriah dengan dihadiri tokoh masyarakat, budayawan dan seniman yang berasal dari wilayah Muria, yaitu Jepara, Kudus dan Pati.

Tradisi ngangsu banyu—yang dalam bahasa Jawa berarti “mengambil air”—merupakan bentuk penghormatan masyarakat terhadap sumber mata air yang selama ini menjadi bagian penting dalam kehidupan mereka. Kegiatan ini juga menjadi momentum spiritual untuk memohon berkah dan kelestarian alam, khususnya sumber-sumber air yang mulai terancam oleh perubahan iklim.

Acara yang berlangsung meliputi Upacara Kebudayaan memperingati Hari Kemerdekaan Indonesia. Lalu dilanjutkan dengan Doa Bersama Lintas Agama terkait kelancaran acara Ngangsu Banyu 2025 dan Doa Keselamatan Negeri oleh lima tokoh agama yang berbeda. Agama Hindu Bapak Nawanto, Agama Budha Bapak Sukarno, Agama Kristen Bapak Haryanto, Agama Katolik Romo. Martinus Mariosa Kleruk, MSF, Agama Islam Bapak Arif Khilwa, serta Penghayat kepercayaan (Sapto Darmo) Bapak.Nurlan.
Penyerahan tiga kendi air dari sumber air yang berbeda juga dilaksanakan, selanjutnya ketiga kendi tersebut di kirab hingga menuju ke Jun (penampungan air dari tansh) Besar yang berada di tengah halaman belakang RKBBR.

Asa Jatmiko selaku penggagas Ngangsu Banyu di RKBBR menjelaskan bahwa tahun ini kegiatan mengangkat tema “Gunung lan Ombak” sebagai pengingat akan pentingnya menjaga lingkungan dan air yang mengalir untuk masa depan.
“Air adalah sumber kehidupan. Dengan tradisi ini, kami ingin menanamkan nilai-nilai pelestarian lingkungan sejak dini, terutama kepada generasi muda,” ujarnya dalam sambutan di acara Pentas Seni pada malam harinya.

Rangkaian acara dimulai sejak pukul 09.00 WIB dengan kirab budaya, pertunjukan seni tari dan pertunjukan Macan Muria, doa bersama, dan prosesi ngangsu banyu secara simbolis oleh sesepuh dan para pemangku adat.
Siangnya, acara dilanjutkan Workshop Menggambar oleh Putut Pasopati dan Menulis Puisi oleh Aloeth Pati. Tampak anak-anak sekolah usia SD/SMP dari wilayah Jepara, Kudus dan Pati mengikuti workshop dengan gembira. Yang mana akan diumumkan tiga terbaik dari masing-masing workshop di malam harinya saat Pentas Seni dan penutupan Ngangsu Banyu 2025.

Pentas Seni malam harinya pun berlangsung meriah. Menampilkan Penari dari RKBBR Kudus, Laras dkk, Penggurit dan Pembaca Puisi Realita Nabiihaa Isyluhung Ersatriyo dari Semarang, Numa Mecca Azzahra Hanna dan Elang dari Kudus, Saras, Muhhammad Viqi, Azhari Muhammad dan Rama Dinta dari Jepara. Serta Pendongeng cilik Semarang Renjiro Maahiraaisyluhung Ersatriyo.
Alunan Musik Gagego dan WK Band juga memeriahkan acara dengan music dan lirik yang memikat hati para penonton. Penonton juga dimanjakan dengan sebuah Pertunjukan Teater Minatani dengan naksah adaptasi Semuel Becket yang berjudul Datang dan Pergi yang dimainkan apik dan Pertunjukan Olah Tubuh yang dimainkan oleh Tata Jaladara. Pengumuman pemenang tiga terbaik menulis puisi dan menggambar juga di umumkan di tengah acara.
Pada Workshop Menulis Puisi ada Raden Rangga Tirta dari SDN Rejosari pada juara pertama, dilanjutkan Vinna dari SD Cahaya Nur pada juara kedua dan Sifa Nurul Maulida dari MTS Matoliul Huda Posono pada juara ketiga.
Pada Workshop Menggambar ada Azzahra Layla dari MTS Matoliul Huda Posono pada juara pertama, dilanjutkan Jeje dari SDN 3 Rejosari pada juara kedua dan Allana dari SD Cahaya Nur pada juara ketiga.
Septiana Wibowo













