GROBOGAN (SUARABARU.ID) – Kota Surakarta tercatat sebagai satu dari dua wilayah di Jawa Tengah yang masuk catatan Kejadian Luar Biasa (KLB) Campak.
Data Kementerian Kesehatan RI menunjukkan 46 wilayah menyatakan KLB Campak. Termasuk di wilayah Kota Surakarta dan Kabupaten Banyumas..
Sebagai wilayah terdekat dari Kota Surakarta, Dinas Kesehatan Grobogan menyatakan sepanjang 2025 ini belum tercatat adanya kasus suspek campak di wilayah Grobogan alias nihil.
BACA JUGA : Jejak Perjuangan Doktor Manajemen UKSW Muchammad Rully Sjahirul Alim di Puncak Akademik
Meski demikian, Dinkes Grobogan tetap mengimbau kepada masyarakat agar memantau perkembangan kesehatan putra-putrinya. Hal itu disampaikan Kepala Dinas Kesehatan Grobogan, dr Djatmiko.
“Sampai saat ini, belum ada temuan kasus suspek campak di Kabupaten Grobogan. Aman. Fokus kita kali ini pada pelaksanaan BIAS, yang digelar bulan Agustus 2025 ini. Kemudian, nanti di bulan November 2025, ada imunisasi DT untuk kelas 1 SD dan TD untuk kelas 2 dan 5,” jelas dr Djatmiko, Rabu (27/8/2025).
Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS) tahap pertama di bulan Agustus 2025 ini pemberian fokus pada kelas 1 SD yakni vaksin MR (Campak dan Rubella) serta kelas 9 SMP vaksin HPV yang meyasar ratusan ribu pelajar di Kabupaten Grobogan.
Dinkes Grobogan juga tetap memberikan edukasi kepada masyarakat untuk mengetahui bagaimana mendeteksi penyakit campak pada anak.
“Campak adalah penyakit akibat infeksi virus yang ditandai dengan demam, sakit tenggorokan, dan ruam di seluruh tubuh. Infeksi virus berawal dari saluran pernapasan yang kemudian menular melalui percikan air liur,” ujar dr Djatmiko.
Bisa dibilang, gejala campak ini mirip dengan rubella. Namun, ternyata kedua penyakit ini berbeda. Pada campak, ruam bisa bertahan selama 5–7 hari.
“Sementara ruam rubella berlangsung selama 1–3 hari. Kedua penyakit tersebut sama-sama dicegah dengan vaksin MMR dan itu seperti yang kita berikan kepada pelajar kelas 1 tingkat SD/sederajat dalam program BIAS 2025 tahap pertama, ” jelas dr Djatmiko.
Siapa yang Bisa Terkena?
Alumnus Fakultas Kedokteran Unissula Semarang menjelaskan, seseorang bisa terkena campak ketika menyentuh mulut atau hidungnya setelah memegang benda yang terkontaminasi droplets penderita campak.
Penderita yang bisa terpapar penyakit ini adalah yang belum cukup umur menerima vaksin atau yang sudah cukup umur tetapi belum menerima vaksin campak dan MMR secara lengkap.
“Bagi yang tinggal bersama atau merawat orang yang terinfeksi campak akan mudah terpapar. Begitu juga yang memiliki tubuh lemah akibat kondisi kesehatan tertentu,” ungkap dr Djatmiko.
BACA JUGA : UKSW Tembus 12 Besar Nasional dan 638 Dunia, Puluhan Peneliti Masuk Deretan Ilmuwan Terbaik
Dinkes Grobogan mengimbau kepada seluruh masyarakat, khususnya orangtua dan pengasuh anak untuk segera membawa melengkapi imunisasi campak ke fasilitas kesehatan, posyandu, maupun puskesmas terdekat.
“Jika anak atau anggota keluarga mengalami demam, bercak merah pada kulit, batuk, pilek dan mata merah, segera periksakan ke Puskesmas atau Fasyankes terdekat,” pesannya.
Ia menambahkan, penderita yang mengalami sakit campak ini perlu diisolasi di rumah untuk mencegah penularan ke orang lain serta memberikan gizi seimbang untuk meningkatkan daya tahan tubuh.
TYA WIDYA













