blank
Sucoro (kiri) menyerahkan berkas opini peserta kepada Wiwit Kasiyati - Koordinator Unit Warisan Dunia Borobudur dan Prambanan untuk dilanjutkan ke dewan juri, hari ini (Senin, 25/8/25). Foto: eko

KOTA MUNGKID (SUARABARU.ID) – Acara kompetisi opini dalam rangka Kongres Borobudur III yang dilaksanakan di Badan Konservasi Borobudur (BKB), hari ini (Senin, 25/8/25) itu untuk menampung pendapat masyarakat, terkait perkembangan Candi Borobudur. Camat Borobudur, Subiyanto, mengatakan hal itu ketika memberikan sambutan dalam acara tersebut.

Camat berterima kasih atas diselenggarakannya acara tersebut. Dia juga berterima kasih kepada Sucoro Setrodiharjo, yang telah membuka ruang komunikasi interaksi. “Apa yang dilakukan Pak Sucoro selama ini adalah sebuah jembatan antara masa lalu dan masa mendatang,” katanya.

Apa yang terjadi di era 80-an, kata Camat, diawali dengan proses penggusuran terhadap warga setempat. Menurut dia, apa saja yang terjadi tercatat baik oleh Sucoro dalam beberapa buku yang diterbitkan. “Ini merupakan literasi yang perlu dicatat,” tuturnya.

Seingat dia, ada relawan, tokoh-tokoh sentral di Borobudur yang telah sudi menyumbangkan tenaga dan fikiran untuk mencatat perkembangan Candi Borobudur sejak dahulu, sampai sekarang. Terakhir adalah terbangunnya Kampung Seni Borobudur. Proses itu sebenarnya sudah berjalan sejak 2003-2005. Waktu itu adalah konsep pembangunan Cagar Jawa.

Dia masih ingat usaha Sucoro dan beberapa orang yang memperjuangkan tidak jadinya program Jagat Jawa. “Upaya itu berhasil. Jagat Jawa tidak berhasil dibangun,” tuturnya.

Setelah Jagat Jawa tidak berhasil diwujudkan, Kabupaten Magelang memiliki objek wisata Ketep Pass. Itu dengan konsep wisata Solo – Selo – Borobudur.

Sedangkan acara hari ini, lanjutnya, adalah untuk menampung opini masyarakat, terkait perkembangan Borobudur saat sekarang. Itu dinilai akan menjadi catatan bersama, kalau suatu saat, kita sudah tiada. “Ada yang menuliskan bahwa pada saat itu terjadi beberapa penolakan dan permasalahan terkait dengan pembangunan Kampung Seni Borobudur,” tuturnya.

Maka, dia sangat mendukung kegiatan hari ini, yang diikuti 246 pengirim tulisan opini. “Terlepas isinya seperti apa, dewan juri yang akan menilai,” katanya.

blank
Para peserta seremoni lomba opini pengelolaan Candi Borobudur, hari ini (Senin, 25/8/25). Foto: eko

Terlepas dari penilaian juri, menurut dia, tulisan opini yang ada merupakan salah satu harapan dari masyarakat Borobudur untuk perkembangan ke depan. “Ini menjadi referensi para pengambil kebijakan, terkait bagaimana pengembangan Borobudur saat ini dan yang akan datang,” imbuhnya.

Tempat Meditasi

Sucoro Setrodiharjo, dalam kesempatan tersebut mengatakan, kegiatan itu merupakan tindak lanjut dari agenda acara Ruwat Rawat Borobudur (RRB). Dia ingat, semula Borobudur merupakan tempat untuk meditasi. Perkembangannya, Candi Borobudur menjadi destinasi pariwisata yang cukup banyak memberikan kontribusi finansial. Memang dirasa merupakan suatu hal positif.

Hal itu mendatangkan peluang kesejahteraan. Meski kesejahteraan yang diimpikan belum sesuai harapan. “Saya merupakan bagian dari 357 kepala keluarga (KK) yang tergusur oleh proyek Taman Wisata Candi Borobudur. Sampai saat ini kebijakan itu belum menyentuh,” tandasnya.

Oleh karena itu, dia melalui kegiatan RRB  mencoba membuat ruang komunikasi. Agar apa yang telah dia sumbangkan terhadap pemerintah dalam pengembangan destinasi wisata tersebut tidak percuma.

Pria berambut putih itu mengisahkan, awalnya Borobudur  merupakan tempat ibadah. Kemudian menjadi tempat wisata. Diakui, butuh strategi pengelolaan yang tidak mudah. Oleh karena itu dia membantu melalui acara RRB untuk sarana komunikasi. Demi mewujudkan wisata super prioritas yang bisa dirasakan secara adil dan merata oleh masyarakat.

Dikemukakan, dalam rangka RRB ke-23, tahun ini diadakan kompetisi opini. Itu merupakan ruang komunikasi untuk mewujudkan pengaruh destinasi wisata yang dirasakan masyarakat. “Selama ini banyak pemberdayaan yang diberikan oleh Kementerian dan telah dikolaborasikan dengan pengelola wisata. Tapi yang didapat masyarakat belum adil dan merata,” ujarnya.

Pelaksanaan kompetisi opini itu dipandu Novita dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (Brin). Wiwit Kasiyati – Koordinator Unit Warisan Dunia Borobudur dan Prambanan juga memberikan arahan singkat.

Panitia juga menghadirkan tokoh
agama Buddha, Bante Dikti, untuk menuturkan manfaat sebuah candi. Juga hadir pengelola mobil wisata VW. Mereka memberikan paparan terkait keberadaan Candi Borobudur.

Tim juri akan melakukan penilaian sampai tanggal 27 Agustus mendatang.

Eko Priyono