blank
Karnaval Kemerdekaan di SDN 4 Bondo. Foto: Dok

Oleh: Dr. H. Mufid, M. Ag

Bangsa Indonesia adalah bangsa yang peduli terhadap peringatan Hari Kemerdekaan. Setiap tanggal 17 Agustus penduduk Indonesia memperingati hari kemerdekaan dengan suka cita. Bagi bangsa Indonesia tanggal tanggal 17 Agustus merupakan momen penting yang tidak hanya mempunyai makna historis, namun juga sarat dengan nilai pratiotisme, perjuangan , kebersamaan, nasionalisme dan cinta kepada tanah air.

Di seluruh daerah bahkan sampai ke pelosok tanah air , perayaan peringatan kemerdekaan dilaksanakan dengan cara yang khas dan unik. Penyelenggaraannya dilakukan dengan cara memadukan unsur seremonial kebangsaan  dengan budaya lokal.

Jepara, merupakan  kabupaten yang terletak di propinsi Jawa Tengah yang dikenal sebagai daerah yang mempunyai potensi alam yang bagus, masyarakatnya yang ramah serta terkenal sebagai industri mebel ukir sekaligus tanah kelahiran Ratu Kalinyamat dan Raden Ajeng Kartini dalam memperingati Hari Kemerdekaan Republik Indonesia mempunyai tradisi yang khas.

blank
Siswa selalu antusias ikuto kegiatan dalam memperingatai HUT Proklamasi RI.

Warga Jepara dalam melaksanakan peringatan Hari Kemerdekaan dengan cara memadukan  pelaksanaan protokoler nasional dengan tradisi penduduk khas jepara. Ada berbagai tradisi masyarakat Jepara yang sering dilaksanakan pada peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia, yakni berupa:

Pertama, melakukan do’a bersama dan malam tirakatan. Do’a dan tirakatan dilakukan biasanya bertempat di jalan kampung dengan diberi alas tikar atau di halaman rumah warga yang resprentatif, atau di halaman masjid atau musholla. Do’a bersama biasanya diawali tahlilan, kenduri bersama, sambutan atau tauisiyah dari tokoh agama dan masyarakat kemudian dilanjutkan berdo’a. Kegiatan ini dilakukan sebagai wujud rasa syukur atas kemerdekaan yang diberikan oleh Allah SWT kepada bangsa Indonesia dan sekaligus memohon kesejahteraan, keselamatan dan kemakmuran bagi bangsa Indonesia. Tradisi tersebut memperkuat harmonisasi antara amaliah keagamaan dengan budaya daerah.

blank
Orang tua, murid dan guru ramaikan karnaval PUAD Lintang, Desa Bondo

Kedua, gelar seni dan hiburan masyarakat. Pentas seni ini antara lain berupa: music tradisional, ketoprak, wayang kulit dan lainnya yang dilaksanakan sebagai bentuk dari hiburan rakyat dalam memperingati 17 agustus. Pentas seni ini bukan sekedar tontonan yang menarik, namun juga menjadi momen penting dalam menyampaikan pesan moral, perjuangan para pahlawan dalam mewujudkan kemerdekaan, cinta tanah air dan mengisi kemerdekaan dengan aktivitas yang positif.

Ketiga, pawai budaya. Kirab budaya ini dilakukan dalam bentuk memakai pakaian adat Jawa, menyuguhkan seni dan tari tradisional misalnya rebana hadrah, wayang orang dan permainan barongan. Pawai budaya ini menjadi pelajaran penting bagi generasi muda untuk melestarikan tradisi budaya yang dimiliki masyarakat

Keempat, perlombaan tradisional yang dilakukan penduduk Jepara antara lain: tarik tambang, balap karung dan panjat pinang. Perlombaan tersebut disatukan dengan tradisi local misalnya lomba ukir kayu sederhana, makan khas Jepara horok-horok sama bakso, pindang serani sama nasi dan lomba perahu oleh para nelayan dengan memakai atribut bendera merah putih.

Kelima, lomba kebersihan, kerapian dan  keindahan antar RT atau antar RW. Lomba ini  dilakukan oleh desa supaya kondisi lingkungan desa tetap bersih, indah dan nyaman. Lomba ini juga untuk menyemarakkan peringatan hari kemerdekaan republik Indonesi.

Penerimaan penduduk Jepara terhadap tradisi daerah untuk menyemarakkan hari kemerdekaan bisa dipahami dari berbagai aspek, baik itu aspek budaya, relegius, nasionalisme dan sosial.

Dari aspek budaya generasi muda diperkenalkan pada makanan, adat istiadat, kesenian dan lainnya yang menjadikan ciri khas Masyarakat Jepara. Sehingga generasi muda mampu mempertahankan identitas budaya local di Tengah-tengah arus globalisasi.

Dari aspek religious, pelaksanaanya diterima dengan baik oleh penduduk Jepara, sebab pada dasarnya masyarakat Jepara adalah masyarakat yang religious yang lekat dengan nilai-nilai spiritual seperti berdo’a bersama, tahlilan, sholawatan dan manaqiban.

Dari aspek nasionalisme, pengakuan dan penerimaan tradisi daerah untuk memeriahkan peringatan hari kemerdekaan akan memperkokoh cinta kepada bangsa. Cinta kepada bangsa adalah bagian dari pada iman ;”Hubbul wathon minal iman”

Dari aspek sosial, pelaksanaan peringatan hari kemerdekaan 17 agustus yang dilaksanakan dengan gotong royong, saling membantu dan kerjasama dari segenap lapisan masyarakat tanpa memandang status dan kedudukan akan menambah jalinan kerja sama sosial yang harmonis, dimana saat ini sangat dibutuhkan Masyarakat modern.

Untuk melestarikan tradisi local bisa diterima dalam memperingati kemerdekaan Republic Indonesia, maka dibutuhkan dukungan dari berbagai pihak.

Pertama, para tokoh agama dan tokoh masyarakat supaya mampu menjadikan contoh sebagai pelopor kegiatan peringatan kemerdekaan. Keteladan yang baik dan keikutsertakan tokoh agama dan masyarakat dalam melestarikan tradisi local dalam kegiatan tersebut akan ditiru oleh warga setempat.

Kedua, dibutuhkan kesadaran dan keterlibatan generasi muda dalam kegiatan peringatan kemerdekaan 17 agustus. Untuk itu pelaksanaan kegiatanya di desain sesuai selera dan generasi muda. Generasi muda yang peduli terhadap masyarakat dan bangsa akan membawa kemajuan negara Indonesia.

Ketiga, perlunya kebijakan dan dukungan dari pemerintah tingkat desa, kecamatan maupun kabupaten terhadap tradisi local dalam berbagai aktivitas kebangsaan. Dukungan pemerintah daerah yang berupa anjuran untuk memasukkan tradisi local sebagai kegiatan peringatan hari kemerdekaan adalah sangat penting dan berarti bagi keberlangsungan tradisi local di masa depan.

Semoga tradisi local yang berada di tengah penduduk Jepara menjadi sarana untuk melestarikan kebersamaan dan memperteguh rasa cinta kepada negara Indonesia. Dengan demikian, penerimaan masyarakat terhadap tradisi local bukan hanya mempertahankan kearifan lokal, namun juga berguna sebagai perekat nasionalisme di era globalisasi. Semoga bermanfaat. Aamiin.

Penulis, Kepala Pusat Studi Aswaja An-Nahdliyyah (PSAA) Unisnu Jepara