Bagian Prokopim Pemkab Pacitan, mengabarkan, upacara peringatan Hari Pramuka Ke-64, digelar di Alun-alun depan Kantor Bupati Pacitan. Tampil menjadi inspektur upacara, Bupati Pacitan yang diwakili oleh Wakil Bupati (Wabup) Gagarin Sumrambah.
Ikut hadir jajaran Forkopimda beserta para Pimpinan Organisasi Perangkat Daerah (OPD), para Pengurus Kwartir Cabang (Kwarcab) Gerakan Pramuka Kabupaten Pacitan. Tema peringatan Tahun 2025 adalah ”Kolaborasi untuk membangun ketahanan bangsa.”
Wabup Gagarin, membacakan sambutan Ketua Kwartir Nasional Gerakan Pramuka Komjen Pol (Purn) Budi Waseso. Dikedepankan, menghadapi tantangan global yang semakin kompleks, Gerakan Pramuka harus hadir sebagai salah satu solusi strategis untuk membentuk karakter generasi muda yang tangguh, berintegritas dan berwawasan kebangsaan.
Wartawan Bambang Pur yang pernah dua kali melakukan tugas jurnalistik ke China, mendapatkan pemahaman bahwa Liong dan Barongsai adalah tarian tradisional khas Tiongkok. Tarian ini, sering ditampilkan secara bersamaan. Utamanya untuk memeriahkan perayaan Hari Raya Imlek sebagai Tahun Baru China atau saat datang perayaan Cap Go Meh.
Di balik kemeriahan pertunjukan kesenian China tersebut, terkandung empat pesan sakral. Pertama, Shi Wu Xiao Zai (tarian singa menangkal bencana). Kedua, Lo Go Qu Mo (genderang tambur menolak bala). Ketiga, Gong De Wu Liang (pahala tiada terhingga). Keempat, Cang Tian Bao You (Tuhan Yang Maha Esa melindungi).
Dari sisi pemahaman spiritual Tionghoa, kehadiran liong (diyakini sebagai titian kendaraan Dewi Kwan In, yakni Dewi penebar keberutungan), dimaknai sebagai ritual untuk mencapai empat kehendak. Yakni menggapai kesejahteraan, kesuksesan, ketenteraman dan kedamaian.
Filosofis
Pemain Barongsai menggunakan kostum menyerupai singa, melambangkan keberanian dan kekuatan. Liong, tarian yang menampilkan geliat naga, yakni makhluk mitologi yang melambangkan kekaisaran dan kekuatan. Keduanya, memiliki makna simbolis dan menjadi bagian dari tradisi perayaan kebudayaan Tiongkok.
Tarian Barongsai, dapat dimainkan dalam berbagai jenis joget yang atraktif. Seperti meloncat-loncat dari tiang tonggak satu ke tonggak lain yang lebih tinggi. Ini hanya dapat dilakukan oleh pemain Barongsai yang sudah mahir dan terlatih.
Juga sering menampilkan atraksi yang menegangkan, yakni melakukan gerakan atraktif mencolot untuk menembus lingkaran api. Berikut memanjat di ketinggian untuk mengambil angpao (amplop berisi uang), yang tergantung dengan tali dengan gerak joget jenaka.
Liong, biasanya ditampilkan dalam tarian yang lebih panjang dan berliku-liku, menggambarkan gerakan naga yang dinamis. Diiringi irama musik tradisional Tiongkok, yakni berupa tetabuhan genderang tambur dan bedug yang dipadukan dengan kencreng logam sejenis instrumen gong beri. Yang nada iramanya ritmis, dan mampu membangun suasana riang yang meriah.
Tarian Barongsai dan Liong (Naga) memiliki makna filosofis yang dalam dalam budaya Tionghoa. Tarian ini tidak sekadar sebagai pertunjukan, tetapi juga mengandung doa permohonan keberuntungan, kemakmuran dan tolak bala.
Suara musik yang keras dan gerakan tarian barongsai yang lincah, dipercaya dapat untuk mengusir roh jahat dan energi negatif. Yang selanjutnya untuk mengundang aura keberuntungan dan kebahagiaan. Warna-warni pada barongsai, seperti kuning (bumi), hitam (air), hijau (kayu), merah (api) dan putih (logam), melambangkan berbagai unsur alam dan elemen keberuntungan.
Tuah dari tarian Barongsai dan Liong, dipercaya dapat melindungi masyarakat dari marabahaya dan mendatangkan kesejahteraan serta kemakmuran dan kekuatan. Tarian ini, menjadi simbol kebahagiaan dan kesenangan, melambangkan energi positif untuk menarik aura keberuntungan.(Bambang Pur)













