WONOGIRI (SUARABARU.ID) – Gerak jalan sehat Tujuhbelasan, Minggu (10/8/25), digelar semarak oleh berbagai komunitas masyarakat di Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah. Baik warga di lingkup Rukun Tetangga (RT), di tingkat Lingkungan, Kelurahan dan Desa, maupun di tingkat Kecamatan. Menyediakan bermacam hadiah hadir atau doorprize yang menarik.
Di Lingkup RT 01/RW 04 Lingkungan Cubluk, Kelurahan Giritirto, Kecamatan Wonogiri Kota, Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah, dikemas secara massal melibatkan semua warga, dalam nuansa riang ria untuk merayakan Agustus Bulan Merdeka. Berlangsung dalam kebersamaan yang guyub rukun. Para peserta gerak jalan sehat, disuguhi menu utama sarapan Soto Gobyos Nusantara. Yakni salah satu jenis kuliner khas Tanah Air.
Kata Gobyos, artinya berkeringat. Karena kuah soto yang disajikan untuk sarapan, disajikan panas dengan api kompor yang didatangkan ke lokasi finish. Nusantara, mengukukuhkan nama Tanah Air Bangsa Indonesia, yang tengah merayakan genap dasa (10) windu (8 tahun) atau HUT Ke-80 Kemerdekaan Republik Indonesia (RI) Tahun 2025. Karena event gerak jalan Tujuhbelasan tersebut, digelar untuk memeriahkan Dirgahayu Indonesia.
Soto adalah hidangan berkuah yang kaya rempah dan memiliki sejarah panjang di Indonesia, dengan berbagai variasi rasa dan isian yang berbeda-beda di setiap daerah. Asal-usulnya diperkirakan dari pengaruh kuliner Tionghoa. Yang kemudian diadaptasi dan disempurnakan melalui cara akulturasi dengan menu berbudaya lokal.
Karena dipengaruhi local wisdom, melahirkan beragam jenis soto sesuai dengan pengaruh daerah masing-masing. Di Jakarta misalnya, terkenal dengan sebutan Soto Betawi. Di sejumlah tempat, dinamakan sesuai dengan kota setempat masing-masing. Seperti Soto (Coto) Makasar di Sulawesi Selatan, Soto Lamongan di Jawa Timur, Soto Kudus di Jawa Tengah, Soto Banjar, Soto Padang dan lain-lain.
Dalang kondang ahli sabet di pakeliran wayang kulit, (Alm) Ki Manteb Sudarsono, pernah menyebutnya Soto yang kaya bumbu rempah-rempah, dapat menjadi sarana penyembuh masuk angin. Sebagai dalang wayang kulit yang senantiasa kurang tidur, Ki Manteb Sudarsono, senantiasa mengandalkan Soto untuk dijadikan semacam doping, yang mampu meningkatkan stamina ketahanan jasmani. Sehingga meskipun dalam sebulan menerima order mendalang 30 kali, kondisi jasmaninya tetap dalam kondisi fit.
Jajan Pasar
Soto Gobyos Nusantara yang disajikan pada event gerak jalan sehat massal Tujuhbelasan di RT 01/RW 04 Lingkungan Cubluk, dimasak oleh Koki (Juru Masak) Ny Sumarni. Koki, berasal dari suku kata Cook (Bahasa Inggris). Artinya, seorang yang profesional dan ahli dalam memasak, menyiapkan serta menyajikan makanan.

Di rumahnya, Ny Sumarni, membuka warung Soto Dalu. Dia dikenal sebagai Koki yang dipercaya untuk menyiapkan masakan dalam berbagai event hajatan, seperti mantu, khitanan, rapat-rapat, pesta ulang tahun, arisan dan lain-lain.
Kecuali menu Soto Gobyos Nusantara, secara swadaya warga juga menyuguhkan aneka macam makanan, termasuk jajan pasar. Dinamakan jajan pasar, karena beragam makanan (jajanan) tersebut dibeli dari pasar. Bersamaan itu, pantia juga menggelar aneka ragam perlombaan permainan ketangkasan tradisional.
Budayawan Jawa Peraih Anugerah Bintang Budaya Kanjeng Raden Arya (KRA) Drs Pranoto Adiningrat MM, menyatakan, jajan pasar masuk dalam ensiklopedi Kejawen pada halaman 257 Buku Bauwarna Adat Tata Cara Jawa. Pranoto yang Abdi Dalem Keratin Surakarta Haduningrat, menyatakan, Buku Bauwarna adalah karya Drs R Harmanto Bratasiswara (Yayasan Suryasumirat, Jakarta 2000).
Dalam Kejawen, jajan pasar dijadikan pelengkap dalam upacara adat, termasuk ketika menggelar kenduri selamatan. Seperti upacara tingkeban menyongsong genap tujuh bulan kehamilan), tedhak sinten, khitanan, tarapan, mantu, lih-lihan (pindah rumah, kantor, tempat usaha dan lain-lain).
Sesaji jajan pasar, memiliki makna filosofis agar banyak mendapatkan dukungan dari semua pihak. Hal ini penting, demi suksesnya acara perhelatan dan cepat dikabulkannya doa permohonan. Termasuk doa permohonan rezeki yang dapat datang dari beragam sumber, sebagaimana beragamnya makanan pada sesaji jajan pasar.(Bambang Pur)













