GROBOGAN (SUARABARU.ID) – Dinas Kesehatan (Dinkes) Grobogan mencatat satu kasus penyakit Leptospirosis pada semester I 2025.
Meski jumlahnya baru satu, Dinkes Grobogan mengingatkan warga agar waspada dengan mengenali gejala dan menerapkan langkah pencegahan.
Kepala Dinkes Grobogan, dr Djatmiko MAP, menjelaskan kasus tersebut terdeteksi pada awal tahun di wilayah Kabupaten Grobogan.
BACA JUGA : Semarakan HUT Ke-80 Kemerdekaan RI : Serunya Pertandingan Bola Volley di Perum Purnamandala
Ia menegaskan, Leptospirosis adalah penyakit menular akibat bakteri Leptospira, yang kerap muncul saat musim hujan atau banjir.
“Penularan terjadi dari hewan ke manusia melalui air yang terkontaminasi, seperti genangan, sungai, hingga selokan kotor. Bakteri ini mampu bertahan hidup di lingkungan lembap dan basah,” ungkapnya.
Menurutnya, tikus menjadi hewan yang paling sering menyebarkan bakteri penyebab penyakit ini, terutama di lingkungan yang kebersihannya kurang terjaga.
Gejala dan Pencegahan Leptospirosis
Penderita Leptospirosis umumnya mengalami demam, nyeri otot, sakit kepala, dan mata merah yang muncul secara mendadak.
Infeksi bakteri Leptospira ini dapat menyebar melalui aliran darah hingga menyerang hati, ginjal, paru-paru, jantung, dan otak.
“Jika ditangani sejak dini, pasien bisa sembuh. Pemulihan ditandai suhu tubuh kembali normal, organ berfungsi baik, dan kondisi pulih dalam 3–6 minggu,” jelas Djatmiko.
BACA JUGA : Tertimpa Pohon Petai Roboh, Rumah Warga di Gondang Rusak Parah
Djatmiko menegaskan, pencegahan bisa dilakukan dengan menjaga kebersihan diri dan lingkungan sekitar tempat tinggal maupun pekerjaan.
Masyarakat disarankan menghindari kontak langsung dengan air kotor, menggunakan pelindung tubuh saat banjir, dan menghindari hewan pembawa bakteri.
“Dengan langkah pencegahan yang tepat, risiko tertular bisa ditekan,” tutupnya.
TYA WIDYA













