WONOGIRI (SUARABARU.ID) – Lagu Tujuh Belas Agustus Tahun Empat Lima, populer disebut sebagai nyanyian Hari Merdeka. Ini diciptakan oleh Husein Mutahar (Sayyid Muhammad Husain Al Mutahar) pada Tahun 1946, atau selang satu tahun dari Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia (RI).
Selain menciptakan Lagu Tujuhbelas Agustus (Hari Merdeka), Husein Mutahar juga dikenal sebagai penggagas Paskibraka atau Pasukan Pengibar Bendera Pusaka. Tokoh Kepanduan Indonesia ini, lahir pada Tanggal 5 Agustus 1916 di Semarang dan meninggal pada Tanggal 9 Juni 2004.
Sabtu pagi (9/8/25), Lagu Hari Merdeka, ikut didendangkan untuk mengiringi senam sehat massal yang dilakukan oleh para pesenam PORPI (Persatuan Olahraga Pernapasan Indonesia) dari Komunitas Abiyoso Kabupaten Wonogiri. Agenda senam sehat bersama ini, digelar di halaman Gedung Olahraga (GOR) Giri Mandala Wonogiri.
Ketua dan Sekretaris PORPRI Abiyoso Kabupaten Wonogiri Bambang Tri Jatmiko SE MM (mantan Sekretaris Bappeda Kabupaten Wonogiri) dan KH Nurhadi Safei, menyatakan, Lagu Hari Merdeka ikut didendangkan pada edisi khusus senam di Bulan Merdeka. Ini sekaligus untuk menyambut peringatan HUT Ke-80 Kemerdekaan RI.
Dipimpin Ketua Ranting PORPI Wonogiri, Sugeng Driyanto, seusai senam bersama dirangkai dengan Bakti Sosial (Baksos) Bulan Merdeka. Yakni memberikan santuan kepada 19 anak yatim, masing-masing menerima uang Rp 300 ribu. Penyerahannya dilakukan oleg Sugeng Driyanto, KH Nur Hadi Safei, Bambang Tri Jatmiko, bersama Drs H Sukiyono MM (Mantan Sekretaris DPRD dan Mantan Kepala Satpol-PP Kabupaten Wonogiri) dan para tokoh senior Abiyoso.
Komunitas pesenam sehat Abiyoso, secara rutin melakukan senam sehat sepekan dua kali, yakni pada Hari Selasa dan Sabtu di halaman GOR Giri Mandala Kabupaten Wonogiri. Mereka merupakan para insan yang menyukai kebugaran, dengan melakukan gerak senam pernapasan secara rutin.
Abiyoso
Nama Abiyoso, diambil dari salah satu tokoh wayang. Yakni seorang tokoh Begawan yang merupakan kakek dari trah (keluarga) Pandawa dan Kurawa. Abiyoso merupakan putra dari Begawan Palasara (pertapa dari Gunung Rahtawu dengan ibu Dewi Durgandini, yang hidup di Pertapaan Sapta Arga.

Ketika menjadi Raja Astina, Abiyoso bergelar sebagai Prabu Krisna Dwipayana. Meski sebagai pertapa, Abiyoso tak pernah menginginkan jadi raja. Sebagai raja, Abiyoso, mempunyai kewajiban meneruskan garis keturunan Keluarga Barata dan Keluarga Kuru.
Terlepas dengan nama Abiyoso, lagu pengiring senam terdiri atas Lagu Baku dari Porpri, kemudian dirangkai dengan aneka ragam tembang kreasi, bahkan ada yang liriknya berbahasa Jawa sebagai cerminan budaya lokal.
Formasi senam sehat bersama, terdiri deret di barisan paling depan adalah para instruktur dan pelatih, yang gerakannya ditirukan massa pesenam yang berada di belakangnya. Yang sesekali diselingi teriakan yel-yel pembakar semangat. Seperti pada sesi senam yang diiringi Lagu Tujuh Belas Agustus Empat Lima, para peserta senam sehat meneriakkan yel-yel ”Merdeka.”
Teriakan Yel-yel Merdeka, dimunculkan untuk memberikan tanda penyambutan genap dasa (10) windu (genap 8 tahun) Kemerdekaan RI Tahun 2025. Ini selaras dengan iringan Lagui Hari Merdeka, yang merupakan salah satu lagu wajib nasional, yang lazim didendangkan dalam menyambut Dirgahayu Kemerdekaan Indonesia Tanggal 17 Agustus.
Lagu Hari Merdeka diciptakan oleh Husein Mutahar, di Yogyakarta tepat di hari kemerdekaan 79 tahun silam. Simak ini lirik lagunya yang legendaris tersebut: Tujuh belas Agustus tahun empat lima/ Itulah hari kemerdekaan kita/ Hari merdeka nusa dan bangsa/ Hari lahirnya bangsa Indonesia Mer-de-ka. Sekali merdeka tetap merdeka/ Selama hayat masih dikandung badan. Kita tetap setia tetap sedia/ Mempertahankan In-do-ne-si-a/ Kita tetap setia tetap sedia/ Membela negara kita.(Bambang Pur)













