WONOSOBO (SUARABARU.ID)-Di tengah keterbatasan, harapan sering kali lahir dari tempat yang tak terduga.
Di Desa Mergosari, Kecamatan Sukoharjo, Wonosobo, sebuah gerakan sunyi bersedekah telah menggugah kesadaran kolektif warganya.
Gerakan itu bernama Badan Amil Zakat Desa (Bazdes), yang lahir bukan dari gelontoran dana pemerintah, tapi dari keyakinan bahwa orang kecil pun bisa berbagi.
“Hanya di Desa Mergosari, orang miskin bisa bersedekah. Karena ini memang program dari warga untuk warga,” ujar Slamet Supriyono, Kepala Desa Mergosari yang juga penggagas program ini.
Bazdes bukan sekadar lembaga pengumpul zakat. Ia adalah simbol kebangkitan desa, lambang kemandirian, dan semangat gotong royong yang nyaris hilang di tengah modernisasi.
Gagasan membentuk Bazdes sudah muncul sejak akhir 2022, saat Mas Supri-demikian dia kerap disapa-baru terpilih sebagai Kepala Desa Mergosari. Ide itu ia bawa dari pengalaman masa lalu saat masih bekerja di perusahaan LPG di Wonosobo.
Di sana, ia pernah menempatkan kotak amal di 21 mobil operasional dan berhasil mengumpulkan dana hingga Rp 10 juta per-bulan. Ide itupun diterapkan di desanya.
Pengalaman itu membekas. Ia yakin, jika dunia usaha bisa melakukannya, desa pun pasti bisa. Maka, pada 29 Desember 2022, Bazdes Desa Mergosari resmi diluncurkan. Hasilnya? Lebih dari Rp14 juta berhasil dikumpulkan hanya dalam satu bulan pertama.
“Saya sampai sujud syukur melihat perolehan dana di bulan pertama,” ujar Mas Supri yang juga penguasa Agen Gas Elpiji itu, mengenang awal pembukaan koin itu.
Dana itu digunakan sepenuhnya untuk merehabilitasi rumah tidak layak huni (RTLH).
Dalam perjalanannya sebanyak 11 rumah warga miskin yang ada di 4 dusun direnovasi. Besaran bantuan bervariasi tergantung kebutuhan rumah yang akan direnovasi.
Desa Mandiri

“Bahkan warga sekitar ikut menyumbang, ada yang ngasih kayu, tenaga, konsumsi. Pemilik rumah enggak usah mikir apa-apa. Semua ditangani warga dengan gotong royong,” terang Mukmin, Bendahara Bazdes Desa Mergosari.
Kini Desa Mergosari sudah menyandang status desa mandiri, dengan anggaran dana desa sekitar Rp 1,1 miliar per-tahun. Bazdes yang dikelola pun kini menunjukkan perkembangan yang cukup menggembirakan.
Namun, Mas Supri memilih tidak menggantungkan nasib warganya pada dana RTLH dari pemerintah pusat maupun provinsi. Dia ingin solusi yang lahir dari desa, dikelola oleh desa dan kembali untuk warga desa.
“Kami tidak minta-minta keluar. Semua bisa ditangani dari dalam. Untuk menjaga transparansi, daftar penyumbang dan jumlah dana yang terkumpul ditempelkan di empat masjid yang tersebar di empat dusun,” katanya.
Selain itu, laporan keuangan juga disebar melalui grup-grup WhatsApp warga. Setiap bulan laporan terbaru disampaikan, lengkap dengan nama penyumbang dan nilai nominal.
Sebanyak 750 kaleng amal dibagikan ke rumah-rumah warga. Penarikannya semula dilakukan oleh anak-anak IPNU/IPPNU, namun karena kesulitan teknis, kini diambil alih oleh 38 kader PKK.
Dari setiap penarikan, 10 persen dialokasikan untuk insentif penarik, 5 persen untuk ATK, dan 5 persen untuk MWC NU, yang sejak itu berhenti menjalankan program Koin NU di Mergosari.
“Sisa 80 persen sepenuhnya untuk program sosial.
Rata-rata isi kaleng bervariasi, dari Rp 2.000 hingga ratusan ribu rupiah. Ada juga yang kosong. Namun, semangat berbagi tetap menyala,” terang dia.
Menariknya, warga Desa Mergosari yang menjadi pekerja migran di luar negeri pun ikut berperan. Mereka mengirikan uangnya setiap bulan untuk disedekahkan lewat Bazdes.
Mereka diberi nomor rekening untuk transfer melalui Bank Himbara. Hasilnya, Rp 20 hingga Rp 30 juta per tahun berhasil dikumpulkan dari 180 pekerja migran yang tersebar di berbagai negara.
Semangat Sedekah
Setelah program RTLH selesai, Bazdes kini bersiap menyasar sektor pendidikan. Anak-anak yang bersekolah dan mondok akan dibantu melalui pengadaan sepatu, baju, sarung, hingga peci.
“Banyak warga kami satu rumah punya dua sampai tiga anak yang mondok. Ini ikhtiar kita meringankan beban mereka. Program pemberdayaan juga disiapkan untuk kaum dhuafa dan para janda, berupa bantuan permodalan usaha,” ucap Mas Supri.
Di sisi lain, keluarga penunggu pasien di rumah sakit pun tak luput dari perhatian. Mereka dibantu biaya hidup selama menjaga sanak saudara yang dirawat.
Konsep Bazdes di Desa Mergosari bahkan disebut sebagai yang pertama di Indonesia, sebagaimana pernah disampaikan oleh Bupati Wonosobo, Afif Nurhidayat, saat meresmikan bantuan RTLH di desa itu.
Baznas Kabupaten Wonosobo pun sudah mengarahkan agar Bazdes dilegalisasi sebagai Unit Pengumpul Zakat (UPZ) di mana setiap bulan pengurus memberikan laporan dan menyetorkan uang ke Baznas meski uang itu akhirnya dikembalikan utuh ke desa.
Apa yang dimulai dari sebuah kaleng kini menjelma menjadi gerakan sosial yang menyatukan hati dan tenaga.
“Bazdes adalah napas baru untuk desa. Tidak ada lagi sekat antara yang memberi dan menerima. Semua warga adalah satu keluarga,” tutur Mas Supri sambil menatap daftar program yang akan segera dijalankan tahun depan.
Dari Mergosari, sebuah pelajaran besar disampaikan kepada kita semua bahwa solidaritas, keikhlasan, dan gotong royong adalah kekuatan sejati sebuah bangsa. Karena di desa kecil itu, bahkan orang miskin pun bisa bersedekah.
Muharno Zarka













