KEBUMEN (SUARABARU.ID) – Kegiatan telusur sejarah dengan semangat toleransi dilakukan Historical Study Trip sesi Ke-14 pada Minggui (27/7).
Sesuai tema kegiatan “Melintas Batas Ruang Sakralitas”, sekitar 35 peserta diajak mengunjungi tempat ibadah lintas agama dan keyakinan di sekitar Kota Gombong, Kebumen. Tentu ini menarik karena berbeda dari kegiatan sebelumnya lebih menekankan penelusuran sejarah banguna tua atau heritage.
Menurut Founder Historical Study Trip Teguh Hindarto yang juga pemandu kegiatan, kali ini sengaja mengangkat tema moderasi beragama. Sekaligus melacak beberapaa bangunan dan ornamen klasik tempa ibadah umat beragama, serta belajar sejarah lokal Kebumen.
Peserta telusur sejarah kali ini pun lebih variatif. Mereka dari berbagai latar belakang. Ada guru, mahasiswa, pengusaha, dosen dan pecinta sejarah, seniman hingga anak-anak disabilitas .
Teguh Hindarto yang juga peneliti dan penulis sejarah itu menjelaskan, tema moderasi beragama bertujuan mengajak peserta memahami keragaman religius di sekeliling kita yang diwakili dengan keberadaan ruang sakralitas yang sarat simbol-simbol keilahian dan kemanusiaan.
Ruang-ruang sakralitas tersebut diwakili enam lokasi yang dipilih dalam study trip kali ini. Yaitu Masjid Sakatunggal di Desa Pekuncen, Kecamatan Sempor, Gereja Katolik Paroki Santo Mikael Gombong, Kelenteng Hok Tek Bio (Tri Dharma) Kedungampel Kelurahan Wonokriyo, Gombong.

Peserta juga mengunjungi Gereja Kristen Jawa Gombong (Kristen Protestan), Sanggar Meditasi Winomartani (Aliran Kepercayaan) di Kendalgrowong Kelurahan Wonokriyo, Gombong, dan Vihara Tirta Dharma Loka (Budha) Desa Sidoarum Gombong.
Teguh memaparkan, toleransi tidak hanya dibangun melalui berbagai kegiatan seremoni yang bersifat formal dan top down, melainkan melalui kegiatan yang bersifat informal dan bottom up.
Salah satunya melalui kegiatan wisata sejarah bertema melintas batas kepercayaan dengan menyambangi berbagai rumah ibadah.
”Peserta bisa melihat lebih dekat simbol-simbol kepercayaan masing-masing agama dan berinteraksi dengan para pemeluk agama dalam suasana yang lebih santai.”jelas dia.
Tujuan kedua dari tema kali ini, lanjut Teguh, mengajak peserta memahami nilai historis dan cagar budaya bangunan-bangunan keagamaan yang turut memperkaya landskap kota. Gereja Katolik Paroki Santo Mikael meski peletakan pembangunannya dalam plakat tertulis 1963, namun telah memiliki riwayat panjang sejak tahun 1930-an.

Sanggar meditasi Wonomarto tercatat dalam sebuah plakat di bawah bangunan didirikan tahun 1959. Meskipun klenteng Ho Tek Bio (bangunan baru) diresmikan tahun 2018, keberadaannya sudah ada sejak 1963.
Ada beberapa hal unik dan menarik yang diperoleh peserta. Salah satunya saat kunjungan akhir ke Vihara Tirta Dharma Loka, Desa Sidoarum di mana peserta mendapatkan informasi jika pada pagi dan petang hari umat Budha akan melantunkan parita (puji-pujian menggunakan bahasa Pali) melalui corong bergantian dengan umat Muslim. Sebuah bentuk harmoni nyata yang tetap berlangsung hingga kini.
Melalui kegiatan study trip sesi ke-14 kali ini peserta mendapatkan dua hal sekaligus, yaitu pemahaman mengenai mereka yang memiliki kepercayaan lain selain dirinya. Sekaligus memahami sejarah masing-masing bangunan keagamaan yang telah membentuk landskap kota mereka.
Kegiatan diakhiri di Vihara Tirta Dharma Loka dengan makan siang dan membagi hadiah bagi yang bisa menjawab pertanyaan
Vivien, peserta berlatar pengusaha mengaku senang dan seru sekali dengan pengalaman mengikuti telusur sejarah kali ini.”Rasanya seperti mencicipi makanan dalam pesta perjamuan rasa, ide, dan filsafat kehidupan,”ucap Vivien.
Vivien juga memuji keberadaan HST sungguh memberi sumbangsih besar dalam dunia pendidikan yang saat ini sarat dengan teori, tetapi minim pengalaman. Padahal, pengalaman yang menarik dan menggugah rasa akan terus membekas dalam ingatan dan menjadi pelajaran yang akan dikenang seumur hidup.
Sedangkan Sumiatun Septiani, pengajar Prodi Pendidikan Sejarah UMP, Purwokerto, menyatakan, keharmonisan Indonesia harus dimulai dari keharmonisan sejarahnya. Jelajah Sejarah Indonesia, harus dimulai dari telusur Sejarah Lokalnya.
“Kota lama Gombong- Kebumen, melalui komunitas Historical Study Trips (HST), telah memberikan saya banyak pengalaman berharga penuh makna. Tidak hanya secara historis dan sosial budaya, namun juga secara spiritual,”tandas Sumiatun.
Sumiatun juga mengapresiasi tema yang diusung telah banyak mengajarkan bahwa untuk menjaga keharmonisan umat dan hidup bermasyarakat, harus dimulai dari hal yang terdekat kita. Paling sederhana, tanpa melihat latar warna dan terbuka tanpa prasangka. “Kegiatan study trip ini , harus ditiru oleh seluruh komunitas lainnya di Indonesia,”tandas dosen UMP tersebut.
Flora Damayanti, guru bahasa Jepang mengaku Historical Study Trip mengajak kita menyusuri jejak peninggalan masa lalu yang membentuk wajah suatu kota. Kota Gombong dihuni oleh masyarakat majemuk tetapi hidup rukun berdampingan.
Menurut Flora, perjalanan hari itu meski lelah memberikan pemahaman tentang sejarah berdirinya bangunan tempat ibadah dan eksistensi berbagai komunitas agama dan kepercayaan di wilayah Kebumen barat.
Komper Wardopo













