KEBUMEN (SUARABARU.DI) – Sebanyak lima belas kapal nelayan di dekat tempat pendaratan ikan (TPI) Pasir, Kecamatan Ayah, Kebumen, Selasa (29/7) sore hilang digulung ombak tinggi ke tengah laut.
Kapal para nelayan itu terpaksa ditinggal pemilik lantaran gelombang tinggi sehingga tidak bisa mendarat di TPI Pasir, Senin (28/7). Namun pada Selasa (29/7) sore belasan kapal nelayan itu hanyut kemudian terseret gelombang pasang ke tengah dan hilang. Para pemilik kapal pun kelabakan mencari dan baru menemukan beberapa kapal.
Kondisi kapal nelayan itu rusak. Ada yang patah, ada yang hancur terbelah dihantam ombak. Ada pula yang terbalik. Beberapa kapal itu kini ditemukan berjarak 5 kilometer arah barat dari lokasi. Tepatnya di Pantai Pencaron, Desa Srati, Ayah.
Hingga Rabu (30/7) siang pencarian kapal beserta mesin kapal dilakukan oleh para nelayan didukung Tim SAR nelayan Lawet Perkasa serta Tim Reaksi Cepat dan para sukarelawan BPBD Kebumen.

Menurut keterangan Humas Pusdalop BPBD Kebumen Heri Purwoto, peristiwa tersebut diakibatkan ombak tinggi dan angin kencang yang melanda kawasan pantai selatan Kebumen sejak Senin (28/7). Para nelayan yang terlanjur melaut pun akhirnya kesulitan mendaratkan kapal karena ombak tinggi.
Ditemukan 5 Kapal
Para anak buah kapal (AKB) nelayan itu dijemput dengan kapal secara dilansir. Sedangkan kapal mereka ditinggal di tengah laut karena tak bisa mendarat akibat gelombang tinggi. Dari 15 kapal nelayan itu baru lima buah yang sudah menepi. Sisanya masih terpantau di tengah laut.
“Tidak ada korban jiwa. Namun dipastikan kerugian yang diderita para nelayan cukup besar dan kapal yang belum ditemukan sedang kita upayakan evakuasi,”tandas Heri Purwoto.
Menurut pendataan BPBD Kebumen di lapangan, nilai kerusakan 15 kapal nelayan dan alat tangkap ikan itu mencapai Rp 630 juta. Kapal dan alat tangkap ikan seharga Rp 45 juta per unit. Sedangkan jumlah kerugian diperkirakan mencapai Rp 145 juta.
Ketua Tim SAR nelayan Lawet Perkasa di Kecamatan Ayah Bejo saat dihubungi mengatakan, gelombang tinggi telah diinformasikan BMKG Stasiun Tunggul Wulung, Cilacap, telah terjadi sejak Senin (28/7).
Pihaknya juga telah mengedarkan peringatan BMKG itu kepada masyarakat dan nelayan pantai selatan. Bejo meminta para nelayan selama tiga hari ke depan hingga Kamis (31/7) tidak melaut.
“Kami sudah minta para nelayan tidak beraktivitas melaut dulu mengikuti siaran BMKG karena ombak pantai selatan tinggi dan angin kencang masih melanda,”tandas Bejo di Desa Karangduwur, Kecamatan Ayah.
Komper Wadopo













